Monday, November 20, 2006

Indahnya Workshop Penanganan Bencana




Mau mulai cerita dari mana ya? Terlalu banyak yang ingin diceritakan karena semuanya sangat indah walau kegiatan yang aku ikuti ini sebenarnya adalah kegiatan yang sangat serius, namanya aja workshop for Community Based Disaster Management (CBDM=Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat) kit review yang diselenggarakan oleh Yayasan IDEP di Bali. Aku yang “parno” banget ama kesendirian mulai nyiapin segala perbekalan untuk “pembunuh” sepi. Norak ya ? Tapi emang itu kenyataannya karena tiap kali dapat undangan workshop, yang kebayang adalah suasana hotel yang pas meeting terkungkung dalam sebuah ruangan dan malam akan terasa sangat sepi. Biasa bekerja di lingkungan yang banyak teman ditingkahi hiruk pikuk suara mereka bikin aku ngerasa kehilangan dunia bila harus ikut workshop di hotel (yang mau ga mau harus diikuti buat nambah ilmu dan membangun link).


 


But, aku salah total! Kali ini workshop ga diselenggarakan di hotel berbintang tapi di sebuah hotel biasa di pinggir jalan Ubud, suasanya rumah banget dan klo aku buka pintu kamar akan langsung memandang sawah nan siap panen. Bahagia benar  berada di suasana desa nan asri. Gitu juga ketika workshop dimulai, aku ga kenal satupun peserta sebelumnya, yang aku kenal hanya Mike. Acara perkenalanpun berlangsung di ruang meeting, sangat singkat difasilitasi oleh Mas Islem, itupun hanya nama dan asal organisasi. Udah gitu, langsung deh milih kelompok untuk pembahasan revisi buku. Nah, di kelompok nih yang asyik banget. Tiap hari ada empat kelompok yang membahas topik berbeda. Mejanya berada di luar ruangan, tepatnya di beranda depan kamar. Judul pembahasannya serius semua, namanya juga Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM) tapi ternyata bicara tentang bencana ga harus ‘serius’ tuh. Sharing pengalaman masing-masing peserta jadi nilai tambah yang ga kan bisa didapat dalam acara-acara formal sejenis. Mungkin juga atmosfir pekerja lapangan emang menghasilkan aura tersendiri, jadinya walo ada perbedaan pendapat tetap aja gelak tawa mewarnai working group.


 


Repotnya, saking pengen maksimal nuangin ide demi “kesempurnaan” buku, walau Ilham berkali-kali ngingatin waktu nya dah habis pake pesan kayak pembawa papan ronde di ring tinju, peserta hanya tersenyum manis sekejap dan kembali asyik dengan diskusi kelompoknya. Akhirnya, tanpa harus dikomunikasikan, tambahan waktu untuk tiap sesi diskusi jadi kesepakatan bersama. Ga ada tuh yang mau buru-buru ninggalin pembahasannya hanya karena ingin tepat waktu seperti tercantum di jadwal. Walo kadang muncul juga istilah-istilah cerdas yang klo dipaksain ada juga hubungannya ama kebencanaan, seperti “Logika tanpa logistik ? Mana mungkin bisa nanggulangin bencana”. Seru !!!


 


Terimakasih for wonderful friends : Mas Islem dan Yuni (MPBI), Petra (bosnya IDEP), Yuli and Heri (Greenhand free school), Jason (Surfaid), Sven (GTZ Aceh), Asti (UNESCO), Vidi (GTZ-IS), Didik (KPB Yogya), mas Banu (Oxfam), Stacey (USAID).


 


To be continued….

2 comments:

Ali Aliyuddin said...

kenapa moment "ngilangin kunci" gak ditulis ya... atau episode yang kesekian?
Ali

patra rina said...

Ingat aja ? Hiks bikin sedih aja .. Iya deh ngaku salah... buat nebus, ntar aku tulis episode khusus .. "Meskipun Ali marah karena aku ngilangin kunci, aku baik-baik saja". It never works to me !