Friday, March 2, 2007

Cintaku buat Kogami

Tiga hari ini, suasana kantor terlihat sangat bersemangat. Empat PC (personal computer) dan empat notebook ada penguasanya, bahkan ada yang berada dalam daftar antrian. Akhirnya dengan memelas Finance Manager minta kemurahan hati Sekretaris Administrasi untuk mau ngasih waktu 5 menit hanya sekedar buat ngeprint. Dan dengan senyum terpaksa, permintaannya dipenuhi. Sementara Project Manager, Program Director dan aku sendiri kerja dengan khusyuk di ruangan meeting, hanya sekali-kali terjadi percakapan, walau masing-masing ngeluarin suara tapi ngomongnya sendiri-sendiri. Hehehe benar-benar lucu klo lagi dikejar deadline. Laporan Emergency Capacity Building (ECB), kerjasama dengan Mercy Corps harus diserahkan tanggal 28, karena kontrak berakhir bulan Februari ini.


Tiba-tiba terdengar teriakan Bendahara “Hey, aku masih make komputer, jangan diganggu!”. HRD manager hanya bisa bilang “Ya udah, abis itu aku yang pakai ya?” Sementara alunan musik terdengar ga hanya dari satu sumber. Masing-masing berusaha menjaga ritme dan memotivasi diri dengan lagu yang disukai. Sementara Sekretaris Rumah Tangga sedang sibuk dengan rencana pemasangan line internet.


Subhanallaah tak pernah terbayangkan suasana ini sebelumnya. Komunitas Siaga Tsunami=KOGAMI (http://kogami.multiply.com) kami dirikan dalam suasana yang sangat memprihatinkan. Jangankan peralatan untuk kebutuhan kantor, kantornya sendiri ga punya. Modal kami waktu itu hanya kemurahan hati para sahabat yang peduli.


Di awal perjuangan, pernah ngelobi pemerintah buat ngasih tempat bernaung. Waktu itu kami masih jadi relawan Surfzone Relief Operations (SRO), maka kami dapat tumpangan di kantor Dinas Perhubungan yang letaknya persis di muara sungai dan berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Karena memang sangat butuh, fasilitas itu kami syukuri. Jujur saja, kantor tersebut sama sekali tidak strategis karena tak ada transportasi yang langsung menuju ke sana. Ga pa pa lah, jalan kaki bikin tubuh sehat. Namanya juga numpang, banyak hal yang harus dijaga.


Sekali lagi, posisi kantor tersebut sama sekali ga strategis. Relawan yang kebanyakan mahasiswa mulai sulit mengatasi kondisi keuangan yang masih disuplai orang tua. Atas kemurahan teman-teman PAITUA (Mapala Teknik Unand), kami boleh menumpang beraktivitas di sekretariat mereka, sekaligus bersama-sama mendisain sistem evakuasi yang tepat untuk kota Padang, sampai-sampai Pak Febrin Anas Ismail selaku Dekan Fak. Teknik Univ. Andalas juga ikut meminjamkan laptop untuk kemudahan kerja, sampai akhirnya simulasi evakuasi gempa dan Tsunami pertama bisa diadakan di kota Padang.


Di PAITUA jugalah ide untuk mendirikan organisasi sendiri tertuang. Bagaimanapun Padang memiliki resiko tertinggi di dunia untuk ancaman bencana Tsunami. Segalanya memang Allah Yang Maha Berkehendak tapi manusia wajib berikhtiar. Mempelajari tanda-tanda alam adalah salah satu pengejawantahan dari perintah “Iqra’!”.


Maka Pak Febrin mengusulkan agar kami para relawan bisa bertatap muka dengan Bapak-bapak yang juga peduli dengan bencana. Jadilah tanggal 4 Juli 2005 pertemuan pertama pendiri Komunitas Siaga Tsunami (waktu itu disingkat dengan KST) di Kafe Suaso kepunyaan pak Edi Khatib (salah satu pendiri dan pembina).


Di tengah perjalanan, beberapa pendiri berusaha untuk mencari singkatan yang pas agar mudah dikenali, maka lahirlah nama KOGAMI (agak-agak Jepang dikit biar ada matching nya ama Jepang, red). Namun, sekali lagi kami harus mengakrabkan diri dengan kata “nomaden” . Sekretariat PAITUA sendiri harus pindah karena suatu alasan (Terimakasih teman-teman, salam lestari!)


Atas kebaikan Pak Edi Khatib, kami dipinjamkan rumah kontrakan yang beliau peruntukkan untuk tukang pelaksana proyek di perusahaannya lengkap dengan fasilitas yang ada di dalamnya. Putra beliau juga meminjam satu unit komputer untuk dipakai sebagai sarana penunjang aktifitas. Alhamdulillaah sempat dua bulan bisa merasakan suasana yang kondusif karena tempatnya memang strategis. Namun, sekali lagi Kogami harus menghadapi kenyataan bahwa rumah kontrakan tersebut habis masa kontraknya.


Alhamdulillaah, ga ada yang susah buat Allah. Di saat sedang memikirkan solusi untuk kantor (eh aku kelewat PD ya, dari tadi bilang kantor… ya, gitulah .. sebuah tempat untuk bisa menyatukan ide). Lagi, Allah mengirimkan Pak Mesra Eza yang baik hati (pendiri Kogami juga). Selama beliau bertugas di Jakarta, kami boleh memakai rumahnya sebagai kantor. Tempatnya strategis, berada di pinggir salah satu jalan utama kota Padang. Aku dan teman-teman senang sekali bisa punya tempat bernaung dan berkreasi untuk waktu yang cukup lama. Relawan pun semakin banyak dan rumah tersebut tidak saja menjadi kantor tapi jadi rumah persahabatan. Relawan datang bukan hanya untuk bekerja tapi benar-benar menjadikan rumah tersebut sebagai rumah singgah. Sarana pun bertambah dengan dipinjamkannya satu unit Personal Computer dari Pak Bambang Winarto (salah satu pendiri dan Pembina Kogami, melalui PT. Sumatra Tropical Spices yang beliau pimpin). Pergerakan Kogami pun menjadi semakin mudah setelah peta zona dan sektor evakuasi kota Padang yang disumbangkan oleh PT. Bill’s Konsultan yang dipimpin oleh Pak Irzal Sarikoen (pendiri dan Pembina Kogami juga). Sekarang peta tersebut menjadi dasar untuk sosialisasi dan perencanaan evakuasi masyarakat di kota Padang. (sekedar informasi, klo beli peta mahal lo… lisensinya dipegang oleh PT. Bill’s, ssst… Rp. 50 juta lo untuk lisensi aja!, belum lagi survey and print outnya).

Lagi nih… karena judulnya “ga punya dana” untuk sewa kantor … dan swear kami cuma ngandalin dana dari IMF (Inisiatif Mother and Father) ditambah kepedulian para Pembina, kami lagi-lagi harus nyari alternatif untuk kantor baru, karena Pak Mesra akan memanfaatkan rumah yang kami tempati untuk sebuah usaha.


Maka, sekarang giliran Pak Hediyanto W. Husaini (pendiri dan Pembina Kogami yang kala itu menjabat sebagai Ka. Dinas Prasarana Jalan Sumbar) yang turun tangan. Sebuah bangunan yang jadi bagian DPJ boleh dipakai untuk sementara waktu. Di saat yang sama, Pak Harri Fidrian (pendiri Kogami juga yang juga Ka. Diskesos PB kota Padang) menawarkan kami untuk bisa sama-sama menempati kantor Dinas Pemadam Kebakaran. Akhirnya, kami memilih untuk berkantor di Dinas Pemadam Kebakaran sekaligus memudahkan koordinasi untuk penanganan bencana. Sekaligus, relawan bisa bergabung menjadi relawan pemadam kebakaran. Sangat menyenangkan berada di sini karena aku dan teman-teman punya pengalaman baru karena kami boleh ikut ke lokasi kebakaran sekaligus belajar cara memadamkan api. Hanya saja, sensitivitas aku dan teman-teman tercipta begitu saja. Di saat rapat seriuspun, jika lonceng untuk aktifasi unit Pemadam Kebakaran berbunyi, kami semua lari dan lompat ke truk pemadam atau jadi operator radio karena semua petugas meninggalkan posko. Akhirnya, kami memutuskan menyewa kantor untuk pertama kali nya. Alhamdulillaah… Allah ngasih rezeki.


Nah, sekarang Kogami bisa bernafas lega selama satu tahun dan ga harus mikirin pindah dalam waktu dekat. Kami sangat bersyukur, dengan kerja keras dan semangat persaudaraan, kami mampu bertahan. Satu per satu lembaga nasional ataupun internasional berkontribusi untuk membangun kesiapsiagaan terhadap bencana (menjadi fasilitator) di tingkat pemerintahan dan masyarakat. Pemerintah kota Padang perlu berbangga karena punya warga yang sangat peduli, melakukan hal yang tak lazim menurut orang-orang awam. Ya, biasanya orang akan kasak-kusuk menangani sebuah bencana, jika bencana tersebut sudah menelan korban jiwa terlebih dahulu, baru kemudian semuanya dipikirkan termasuk advocacy tentang kesiapsiagaan. Tapi kami tetap melakukan hal yang “tak lazim” tersebut, karena sebagai hamba Allah kami sadar bahwa ikhtiar itu wajib hukumnya. Sebagai bagian dari masyarakat, kami berhak untuk mendapatkan rasa aman, untuk itulah kami berusaha untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk ikut mendapatkan rasa aman tersebut. Terimakasih untuk teman-teman yang telah berjuang tak kenal lelah dan rasa kantuk, bahkan tak pernah mau meninggalkan kantor sebelum pekerjaan selesai. Semoga rasa persaudaraan ini kekal sampai ke surga-Nya.



*Bantu aku jadi wise leader, ya Rabb"

8 comments:

Peaceful- Muslim said...

Bpk ikut terharu akan cerita dan pengalaman yang lahit2 dan berakir manis sekali.Semoga ALLAH memberikan kemudah2an dan sukses untuk masa masa mendatang..Bpk doakan...
Salam bpk buat kawan2 di Padang...Kalau kenal dg Dr Risman..salam Bpk buat adik bpk.
Wassalam

army widyastuti said...

menjadi pioneer memang membutuhkan mentalitas yang luar biasa :)

Deshinta Arrova Dewi said...

terharu......semoga Allah melipatgandakan pahala kawan2 semua, aminnnnn....:-)))

Sha - said...

subhanallah euyyy... uni kalau butuh volunteer.. sign me up yaa

patra rina said...

Terimakasih pak, doa bapak akan menambah semangat kami dalam menimba ilmu dan berjuang.

patra rina said...

Ya Army, betul sekali. Butuh perjuangan yang tak henti dan manajemen komunikasi yang baik. Doakan kami ya....

patra rina said...

Amin ya Rabbal 'alamin, dan lebih berlipat ganda buat yang mendoakan. Semoga kami tidak hanya bekerja untuk Sumatra Barat. Suatu saat akan ke semua daerah di Indonesia, belajar dari komunitas setempat.

patra rina said...

Ayuk gabung Sha ! Uni masih di bandung lo... tapi besok udah ke Jakarta lagi. Thanks ya