Wednesday, January 17, 2007

Tentang Longsor di Pd. Pariaman

Pagi 9 Januari 2007, aku dan teman-teman terpaksa membatalkan rapat yang super penting karena ada bencana longsor di Nagari Kudugantiang Padang Pariaman. Longsor terjadi kemaren sore pk. 16.30 tapi sampai tanggal 9 pagi belum ada yang bisa dilakukan karena emang wilayahnya sulit ditempuh oleh alat-alat berat.


Ga nunggu waktu, kami segera ke lokasi kejadian. Subhanallaah... ternyata banyak sekali manusia berjubel hanya sekedar ingin melihat lokasi longsor dan proses evakuasi. Excavator jadi ga bebas bergerak. Kalau misalnya ada keluhan kerja aparat lambat, mungkin masyarakat ikut berkontribusi dalam keterlambatan tersebut.  Jalan penuh sesak oleh motor, mobil dan pejalan kaki yang sama sekali hanya pergi buat "piknik bencana".


Di sebuah gundukan tanah, berdiri seorang bapak yang dengan lirih berkata "Anak dan istri saya tertimbun di sini". Sang bapak tak kuasa menyembunyikan dukanya. Bencana itu terlalu cepat dan tak disangka datangnya. Katanya "Dua hari ini cerah sekali, ga ada hujan". Memang di luar logika kalau ditilik, longsor tidak mengenai sungai yang mengalir di bawah bukit tapi "melompat" kira-kira 10 meter dari dinding tebing. Bapak tersebut selamat karena dia menambatkan ternaknya ke atas bukit yang jauh dari tempat kejadian.


Sampai sore kami berada di lokasi. Tiap kali ada mobil ambulance mendekati posko utama, para keluarga sontak ingin berdiri dan berharap itu adalah orang tua, anak atau kemenakan atau saudara mereka. Tangis seorang anak kecil begitu menyayat hati ketika dia lihat tubuh abangnya terbujur kaku. Semua petugaspun larut dalam keharuan.


Kehilangan, apapun bentuknya... pasti menyiratkan luka namun ketika janji pada Allah harus ditunaikan, siapa yang bisa menggugat? Bukankah setiap kita pada saatnya nanti memang akan kehilangan orang yang kita cintai? Secara duniawi.. pasti !! Namun sebuah keyakinan harus tetap terpatri "Kita punya kesempatan untuk selalu bersama di surga Allah kelak.. tentunya dengan tabungan akhirat yang cukup." Amin

2 comments:

d'Amyja Songyanan said...

jadi inget waktu ke YK dulu, sepekan setelah bendana, jalan penuh sesak sama pengungsi dan wisatawan bencana:-(

patra rina said...

Iya Jeng, kesian sekali petugas yang berusaha ngelancarin proses evakuasi. Udah berusaha mencegah tapi tetap aja ga berkutik soalnya kelewat banyak dan biasanya lebih galak :-)