Everyday, we must get lessons of life. We can through the next days just if we can learn from day we have passed. I hope I can share all the experience of life with you. I believe there is no bad person in the world. If there is crime in the world, it is just because of wrong choice made by human being.
Monday, March 12, 2012
Pk.09.00 pagi ini
Bulir-bulir air mataku memang tak pernah terlihat tapi kesedihan itu telah berpindah ke pembuluh nadiku, sangat dalam. Aku terluka karena sahabat baik ku terluka.
Alhamdulillah pk. 09.00 pagi ini dengan ridha Allah.. sahabatku mendapatkan kembali cintanya. Kesabarannya mampu menyatukan hati itu kembali. Lagi-lagi aku bahagia........!
Semoga hati itu tetap satu sampai ke syurgaNya. Aamiin..........
Saturday, March 10, 2012
Phnom Penh to Ho Chi Minh City "Bus Milik Kami Berdua"
10 Februari 2012
Alhamdulillaah meeting selama tiga (3) hari ini berakhir! Jiwa petualang sudah mendesak untuk disalurkan. Barang-barang sudah dipack dari tadi pagi. Bus pun sudah dipesan dari kemaren melalui telepon. Aku cek lagi hasil survey kecil-kecilan yang sempat aku print sebelum berangkat. Nama guesthouse, perusahaan taxi dan objek wisata yang harus dikunjungi menambah keyakinan perjalanan ini akan baik-baik saja. Bismillaah…
Hari terakhir 10 th annual meeting of Asian Disaster Risk Reduction Network (ADRRN) selesai lebih cepat dari waktu yang tertulis dalam agenda. Aku dan Mba Hening, mitra kerja yang telah menjelma menjadi saudara, sepakat untuk meninggalkan Phnom Penh Hotel (Kamboja) pk. 13.45 waktu setempat karena bus terakhir dari Phnom Penh (di dalam daftar surveyku adalah Mailinh Company) berangkat pk. 14.30 teng!
Dari ruang meeting, kami naik dulu ke kamar buat cek dan ricek kalau masih ada barang yang ketinggalan. Yup! Semua selesai dan tinggal angkat. Jadi, masih bisa makan siang bareng peserta lainnya. Sudah dipatok waktu makan siang hanya 15 menit, tidak boleh lebih. Yes, we can do it!
Jarak perusahaan bus dari Phnom Penh Hotel kurang lebih 4 km. Itu artinya Cuma butuh waktu 15 menit paling lama menuju ke sana. Rencana sepertinya sempurna!
Suasana makan siang sekaligus perpisahan dengan teman-teman peserta meeting berlangsung hangat walaupun mengejar waktu. Sekalinya ngelihat jam, what ?! Jarumnya mengatakan sudah pk. 14.00 tepat. Hiyaaaaah… mba Hening masih sempat cipika cipiki dan sayonara sayonaraan.
Dengan senyum dan bahasa isyarat yang aku yakin hanya dimengerti oleh Mba Hening, aku ingin mengatakan “Come on mba, kita belum check out!”. Untuk si mba ngerti. Kami berdua lari secepatnya ngambil koper, lari lagi ke resepsionis. Selesai sudah satu sesi perjuangan.
Pk. 14.05, buru-buru keluar minta dipesankan taxi. Engga pake mikir lagi transportasi termurah, yang penting bisa nyampe di tempat bus sebelum bus berangkat. Setelah dua menit nunggu, taxinya datang. Ya ampuuuuun, keren amat mobilnya. Bayarannya berapaan nih ? Masa bodo ah, bisa patungan ini. Otak masih coba mengira-ngira overbudget ha ha ha padahal perjalanannya juga baru akan dimulai. Alangkah enaknya jadi orang kaya … dung dung .. otak berkhayal yang ga penting di saat tak tepat.
“It is only 5 dollar” begitu sih klo ga salah staf Hotel bilang, sambil menerangkan kepada supir tempat yang kami tuju. Sssst… di Phnom Penh masih ada supir taxi yang ga bisa bahasa Inggris lho. Aku sempat menitipkan pesan, “please tell him, we need to arrive in 10 minutes”. Staf hotel meyakinkan kalau semuanya oke, sementara aku masih lihat si supir kebingungan. Sepertinya dia masih mikirin lokasinya dimana. Pk. 14.12, duh! Wow… benar-benar berpacu dengan waktu. Ikthiar dimaksimalkan.
Aku tanya supir ongkosnya berapa, biar bisa siap-siap. Dia jawab, “7 dollar”. Alamaaaak… ya sudahlah, telat gini gimana bisa nawar lagi ? Dalam perjalanan ku telepon lagi perusahaan bus, minta mereka menunggu. Dari seberang sana suara seorang wanita dengan lembut berkata, “Yes mam, our bus leaving at 14.30.” Dan … eng ing eng…. Hal yang tak pernah diprediksi sebelumnya. Tiap menit ketemu perempatan yang ada lampu merahnya! Masing-masing penunjuk digitalnya menunjukkan angka 70 detik setiap kali lampu merah nyala. Mana kendaraan rapat walau ga bisa dibilang macet. Ya Rabbi……..!
Pk. 14.28, sepertinya lampu merah terakhir sudah dilewati. Aku telepon lagi perusahaan bus untuk memastikan kami hampir sampai. Dengan tenang, si pemilik suara lembut tadi menjawab, “The bus just left”. Aku berusaha beragumentasi, “It is not 2.30 yet” tapi dia bilang, “It is 2.30 and the bus already left”. Ya sudahlah… ikhtiar sudah maksimal. Tak ada yang perlu disesali.
Mba Hening mengusulkan balik ke hotel tapi aku belum puas kalau belum ke perusahaan busnya langsung dan menanyakan perusahaan lain yang memberangkatkan bus terakhirnya lebih sore. Supir taxi ga tahu apa yang terjadi, dia malah makin slow … 191 … 193 .. “Ya ampun pak, nomor 391 itu masih jauh banget!” Dang ding dong ..dia ga ngerti ha ha ha ..
Tiba-tiba dari arah berlawanan ada bus dengan tulisan Ho Chi Minh City. Mba Hening langsung teriak, “Itu.. itu…!” Serta merta aku bilang ke supir, “Cath… catch…catch…!” hua ha ha saking paniknya, Englishpun jadi belepotan. Terserah deh.. yang penting si supir ngerti.
Kalau tadi aku sempat menggerutu soal lampu merah yang di tiap perempatan, kali ini aku bersyukur sekali di depan ketemu lampu lagi merah. Yes, bus kesusul…….. dan mau naikin kita. Jadi deh ke Ho Chi Minh nya, horeeeeeeeee……….. !! Ongkos taxi aku bayar 10 dolar (US) karena si supir ga punya kembalian. Alhamdulillaah…….
Dan, hanya kami berdua di bus itu ……….. Kereeeeeeeen….! Let’s go!
Aku dan mba Hening girang banget. Supir dan kondektur busnya sangat ramah walaupun ga seorangpun bisa berbahasa Inggris. Seringkali mba Hening harus membuat coretan agar mereka lebih mudah memahami. Sabarnya si mba ini …
Hanya satu jawaban yang aku inginkan saat itu, apakah bus ini (Khai Nam bus) berhenti di daerah Pam Ngu Lao karena seluruh penginapan yang aku survey berada di sepanjang daerah tersebut. Jihaaaaaah… mereka ga ngerti! Pasrahlah sudah …
Perjalanan dari Phnom Penh ke Ho Chi Minh akan sangat membosankan bagi yang tidak punya jiwa berpetualang. Yang terlihat hanyalah desa-desa yang tandus, sapi-sapi kurus dan beberapa orang bersepeda menyusuri jalan.
Tiba-tiba bus masuk ke sebuah terminal dan aku baru nyadar kalau itu pintu masuk Neak Leoung Port. Hahaha perjalanan yang menakjubkan. Dari kisah traveler yang aku search, ga ada tuh yang mengisahkan bakal ada perjalanan naik ferry begini. Asyik… asyik… Aku menikmati setiap detik perjalanan ini. Waktu tempuh ferry ga sampai 10 menit.
Pk. 17.08 sampailah kami di perbatasan. Kondektur memberikan isyarat kalau kami harus turun bawa koper dan cap paspor. Di sini prosesnya ga lama karena memang hanya untuk cap paspor keluar Kamboja. Lebih kurang satu menit saja dan naik lagi ke bus.
Pk. 17.14 sampai di kantor imigrasi Vietnam. Kali ini kondektur member isyarat kalau kami harus membawa koper. Paspor dia yang pegang. Di sinipun ga lama, cuma lima menit. Itupun sudah pakai ngantri untuk cap paspor masuk Vietnam dan scan koper. Selanjutnya, jalan dikit ke arah penjaga (kurang lebih 50 meter) untuk menunjukkan kalau kami sudah dapat visa. Beres! Naik lagi ke bus.
Pk. 18.08 berhenti makan di emperan. Pastinya susah untuk mengetahui apakah makanan tersebut halal atau engga. Yang penting, aku dan mba Hening sudah menghindari yang meragukan. Kami makan nasi pakai telor mata sapi saja. Harga makanan sudah include dalam harga tiket yang USD 9. Lumayanlah bisa meluruskan kaki selama 20 menit.
Akhirnya sampailah kami di Ho Chi Minh City. Di sinilah kami baru tahu kalau bus ini tidak berhenti di Pam Ngu Lao. Kondektur dan supir bus membantu mencarikan taxi. Saat itu, jam menunjukkan pk. 19.45. Taxi nya milik Mailinh Group, termasuk yang recommended selain Vina Sun taxi.
Pk. 20.15 sampailah kami di kawasan backpackers Pam Ngu Lao. Setelah membayar ongkos taxi sebesar USD 6, kami segera geret koper menuju PP Backpackers yang udah diincar, tapi ternyata nih penginapan udah penuh. No worry. Cari lagi aja…
Baru sebentar jalan, ada seorang ibu pakai scooter menawarkan penginapan. “You look for guest house, come to my house. It’s very cheap, only USD 15.” Mba Hening mentah-mentah nolak karena aku bilang klo di sini banyak guest house dengan harga 5-6 dollar per malamnya. Akhirnya ibu itu menurunkan harga, “Ok, I give you 12 dollar for one room per night. It is special price for you. Many Malaysian people stayed at my guesthouse because they can cook. You also can cook.” Kegigihan ibu tersebut berhasil membuat kami mengikuti scooternya. Dan sampailah kami pada Ms Thu Guest House pada pk. 20.25 waktu setempat. Wow, kamarnya bersih, bed nya besar kalau buat dua orang, kamar mandi di dalam, lemarinya gede, pakai TV dan AC pula! Benar-benar murah! Alhamdulillaah…. Langsung menyatu dengan tempat tidur ha ha ha ….
Perjalanan yang menyenangkan.
Tips :
- Sediakan waktu satu jam dari perencanaan untuk situasi terburuk seperti kesasar atau macet di jalan
- Jika backpack berdua atau lebih, harus rajin saling mengingatkan karena kewaspadaan akan berkurang dibanding kita backpack solo
- Survey kecil-kecilan sebelum mengadakan backpack sangat membantu pada situasi sulit
Tuesday, March 6, 2012
Thursday, February 16, 2012
Aku Bertemu Nazarudin di Brisbane
Aku tak begitu betah menonton televisi karena beritanya suka bikin gerah dan membangkitkan emosi, sepertinya berita tanah air didominasi oleh berita-berita provokatif-non edukatif. Namun malam itu televisi jadi teman setiaku yang lagi tak enak badan namun tetap harus menyelesaikan tugas-tugas kantor. Setiap kali mata lelah dan jari telah penat menekan tuts-tuts laptop, aku lirik sebentar layar segi empat itu. Ah, tetap saja .. hatiku tak tertarik.
Sampai suatu iklan mampu menyedot seluruh rasa penasaranku. Iklan gantungan kunci! (aneh banget ya .. ada iklan gantungan kunci?) dan gantungan kunci itu hanya ada di Brisbane, Australia!
Aku harus mendapatkannya… harus…! Ku hitung-hitung tabungan.. cukuplah untuk membeli tiket pp, makan dan nginap satu malam serta untuk membeli gantungan kunci itu pastinya. Yes..!
***
Duh! Kerongkonganku tiba-tiba tercekat, jam sudah menunjukkan pk. 16.00 WIB, yang artinya pesawatku telah berangkat. Oh tidaaaaaaaaaaaak…. aku panik setengah mati. Barang-barang yang sudah dipacking seakan-akan menertawakan keteledoranku.
Tunggu..! Cek lagi tiket.. Aha..! Ternyata aku salah lihat, pesawatku pk. 18.00 WIB, yang artinya masih ada waktu yang lebih dari cukup menuju Bandara International Minangkabau (BIM). Alhamdulillaah.. tiket ga jadi hangus. Mama, papa dan adikku geleng-geleng kepala melihat ku yang kalang kabut. Mereka tak pernah melihatku un-well prepare begini. Terserah deh.. di otakku hanya ada gantungan kunci itu!
***
Singkat cerita.. sampailah aku di Brisbane. Entah bagaimana aku bisa kesasar ke dalam sebuah gedung, yang ternyata itu adalah gedung pengadilan! Hmm.. gedung pengadilannya kayak mall, pastilah para tersangka senang diadili di sini he he he…
Tiba-tiba dari kejauhan, sebuah wajah yang sangat ku kenal melambaikan tangan dan memanggil namaku dengan sapaan akrab, “Patra…. Patra….. hey… “. Lelaki itu menghampiriku sambil tetap menebar senyum hangat. Ya ampuuuun… Itu kan Nazarudin, yang wajahnya sering menghiasi televisi akhir-akhir ini. Kok dia kenal aku ya ? Gawat! Aku ga ingin ikut-ikutan terbawa kasus ah..
Tapi harus bagaimana sekarang, ku sudah berada tepat di hadapannya. Dia melanjutkan sapaan, “Kok loe bengong ngeliatin gw ? Gw berubah banyak ya ?” Idiih, nih orang kayak yang ga bermasalah aja, sungguh ramah, sopan dan bersahabat, tanpa beban. Lama-lama aku mikir, “Jangan-jangan aku yang amnesia kali ya ?”
Aku hanya bisa membalas dengan senyuman sambil berbasa-basi dikit.
Belum habis rasa terkejutku dengan sapaan Nazarudin eh dari dalam ruangan sidang muncul satu orang lagi. Duh..! Ini lebih bikin kaget, jantung hampir berhenti berdetak. Wajah laki-laki muda ini begitu aku kenal. Hampir sepuluh tahun kami mempunyai ikatan persaudaraan. Tapi, mengapa dia ada di sini ya … ?
Penampilannya sungguh beda. Dia terlihat gagah dengan pakaian kebesarannya sebagai pengacara.
“Uni….! Bengong aja! .. Ga senang ya ketemu aku di sini ? Kan udah lama kita ga ketemu.”
Masih bingung, aku nanya, “Lha, kamu ngapain di sini ? Udah pindah ? Kok ga ngasih tahu?” Karena baru sebulan lalu aku berkomunikasi dengannya dan isterinya, mereka masih menetap di Jakarta. Nah lho, kok sekarang ada di Brisbane ? (sejenak.. gantungan kunci terlupakan)
“Alhamdulillah ni, adikmu yang ganteng ini sekarang jadi pengacaranya Nazarudin. Uni menyimak kasusnya kan?”
(dalam hati : ya iya sih.. tapi kok kamu ga pernah keliatan di TV ?)
“Uni pasti bangga, adik uni sekarang udah jadi orang… hayo.. ngaku … jangan bengong aja.”
***
“Bundo…. bangun bundo, udah setengah tujuh…!” (Lha suaranya kok jadi ganti suara anak kecil?)
Dengan malas ku buka mata dan ponakanku nan cantik sudah berada tepat di samping tempat tidurku. Nazarudin dan adik angkatku yang pengacara itupun hilang begitu saja. Oalaaaah… ternyata aku mimpi toh ?
Pantes aja dari awal .. ceritanya udah ga jelas framenya ha ha ha ha….
Setelah aku telusuri, penyebabnya adalah :
1. Aku terlalu excited kedatangan teman lama yang sekarang lagi ngambil program Doktor di Brisbane
2. Aku kangen sama adik angkatku (pengacara) yang udah lama ga kontak
3. Tiap kali nonton Tv, yang keluar adalah tayangan tentang Nazarudin
Akhirnya, otakku mengolahnya menjadi sebuah mimpi … lucu juga tapi he he he
tapi tetap ga ada clue buat si gantungan kunci... hmm.. ada apa dengan gantungan kunci ?
Friday, January 20, 2012
Phnom Penh dan Ho Chi Minh City, Adakah MPers di sana?
Aku ada rencana meeting di Phnom Penh Kamboja dari 8-10 Februari 2012 trus mau backpacking ke Ho Chi Minh City dari 11-13 Februari. Kalau ada MPers yang berdomisili di sana... yuk ketemuan :)
Dari sekarang aku udah rajin buka catatan blogger tentang Ho Chi Minh City hmm.. sepertinya menantang juga jalan-jalan ke sana. Kalau Kamboja insya Allah udah pernah backpacking dari Phnom Penh ke Siem Reap.
Moga kali ini juga lancar aja ...
Udah ga sabar menunggu waktu
Sunday, January 8, 2012
Ketika Seorang Atheis Mengasihani Tuhan
Agenda makan siang berjalan sama seperti hari-hari sebelumnya. Tanpa ada perjanjian tertulis, aku dan teman-teman telah bersepakat untuk selalu makan siang di sebuah kantin. Lokasinya strategis dan pilihan makanannya lebih banyak dibanding yang lain. Tak pernah habis bahan cerita sekalipun setiap hari teman ngumpul itu lagi itu lagi. Aktifitas makan paling lama cuma sepuluh menit tapi ngobrolnya lebih lama, kadang serius kadang santai sekali tergantung siapa yang melemparkan topik.
Tiba-tiba satu-satunya teman kami yang atheis berkata, "Aku kasihan lho sama Tuhan." Suasana yang tadinya riuh rendah diam serentak. Semua mata tertuju padanya. Sadar mendapat perhatian, dia (Molas, bukan nama sebenarnya) melanjutkan lebih bersemangat, "Iya. Aku kasihan sama Tuhan. Lihat saja, banyak sekali orang yang menyatakan dirinya beriman tapi sebenarnya mereka pengkhianat."
Wajah Imax memerah (dia terkenal taat di antara komunitasnya), "Maksud kamu apa, Las?"
Molas melanjutkan dengan tenang, "Jujur saja, di antara kalian di sini .... mengaku muslim tapi ada yang ga shalat, mengaku kristiani tapi ga pernah ke gereja"
Suasana di meja makan semakin hening walaupun kantin masih dipenuhi oleh banyak orang. Aku tak tahu persis apa yang dipikirkan teman-temanku.
Tanpa bisa dicegah, Molas melanjutkan "Nah, giliran kalian dapat masalah langsung deh Tuhan yang disalahin. Dengan menghiba kalian akan mengatakan Oh Tuhan, mengapa Kau beri aku ujian seberat ini ?" Oh Tuhan, mengapa masalah ini menimpaku ? Kalian menjadikan Tuhan sebagai objek atas ketidakmampuan kalian menghadapi masalah hidup. Beda sekali dengan kami para atheis, kami menyelesaikan masalah sendiri tanpa harus menyalahkan siapa-siapa. Wajar kan kalau aku jadi kasihan sama Tuhan ?"
Tak ada yang bisa berkata-kata dan tak seorangpun terpancing untuk berdebat sampai akhirnya acara makan siang selesai. Namun seminggu semenjak kejadian tersebut, beberapa orang temanku yang tadinya tidak shalat sudah tidak lagi meninggalkan shalat.
Pembicaraan siang itu telah MENAMPAR sisi hati terdalam insan yang mengaku BERIMAN tapi tak pernah merasa bersalah ketika melupakan atau meniadakan Tuhan dalam pikiran dan tindakannya. Tuhan hanya sebagai lambang untuk pengisi identitas atau lebih ekstrim ketika Molas yang atheis mengatakan bahwa Tuhan hanya sebagai objek penderita ketika seorang manusia tak mampu menyelesaikan masalah hidup.
Ah.. semoga kita tidak termasuk pengkhianat seperti yang dikatakan Molas atau malah kita lebih munafik dibandingkan seorang atheis ? Meyakini bahwa Allah itu ada dengan sifat-Nya Yang Maha Mengetahui tapi kita tak pernah merasa bersalah atau malu ketika DIA melihat kelakuan kita yang dengan sengaja meniadakan-Nya dengan mengabaikan ibadah dan melakukan hal-hal yang tak disukai-Nya. Na'udzubillaahi min dzalik ...
Astaghfirullaah.. Astaghfirullaah.. Astaghfirullaah 'aladzhiim... Ketika seorang atheis mengasihani Tuhan, mungkinkah kita yang menjadi penyebabnya ?
sebuah catatan di medio 1999