Everyday, we must get lessons of life. We can through the next days just if we can learn from day we have passed. I hope I can share all the experience of life with you. I believe there is no bad person in the world. If there is crime in the world, it is just because of wrong choice made by human being.
Monday, November 9, 2009
Prihatin Sama Kaum Sendiri
Kutujukan pada kaumku yang kusayangi..
Gempa Padang 30 September 2009 meninggalkan "sedikit" keprihatinan di perasaanku terdalam. Bukan tentang gempanya... yang tentu saja itu bagian dari proses penciptaan dan bisa disikapi berdasarkan nilai-nilai keimanan yang kita punyai; mau dianggap sebagai musibah (kalau kita semakin jauh dari Allah), mau dianggap sebagai ujian keimanan (jika kita mau bersabar dan semakin dekat pada Allah, dll.
Banyak sekali bantuan datang, terutama dari pihak asing - dalam tulisan ini aku akan titik beratkan pada istilah "bule". Dan karena keterbatasan mereka dalam berbahasa, maka mereka menggunakan jasa interpreter. Entah mengapa .. jumlah interpreter perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.
Nah, yang aku amati adalah : sebagian kaumku yang tidak saja menawarkan jasa sebagai interpreter tapi berusaha untuk mencari "prestise" dengan mendekati bule atau membalas perhatian para bule melalui beberapa cara. Ada yang bahkan terang-terangan mengatakan bahwa punya pasangan bule jauh lebih bergengsi dibandingkan punya pasangan produk lokal.
Kalau sekedar bersahabat saja.. pastilah tak akan jadi masalah. Tapi kalau sudah mengikuti kultur mereka? Wah.... !! Aku cuma bisa ngucap. Para bule minum bir, eh si interpreter duluan teler.... si bule malah anti rokok tapi si interpreter merasa lebih gengsi jika ada asap yang keluar dari mulutnya. Ketika si bule tak beragama... si interpreter yang mengaku punya agama justru jauh dari kesantunan. Kemudian saking berharap cinta atau mungkin saja bisa hidup bersama sang bule, si interpreter mau saja dipeluk-peluk dan dicium di pinggir jalan.
Duh... kalau para wanita tak lagi bisa menjaga diri.. apa jadinya Indonesia?
Bahkan dari penuturan mereka sendiri, tak ada bule yang loyal. Setelah balik ke negara mereka, bahkan tak pernah ada kontak sedikitpun. Mereka hanya mencari kesenangan sesaat, seperti layaknya "kesenangan" yang mereka peroleh di negera mereka.
Lalu? Apa sebenarnya yang kau cari wahai kaumku ?
Tuesday, September 29, 2009
Salut BANK MUAMALAT (Biasakan cek saldo di ATM)
Minggu pagi, 27 September 2009 sekitar pk. 08.45 WIB aku ngambil uang melalui ATM MANDIRI di daerah Imam Bonjol. Berhasil! Belanja... belanja... ga sadar uang habis karena ada beberapa barang yang dalam planning begitu menggoda untuk dibeli.
Alhasil, ke atm lagi. ATM yang sama, karena mobil parkir di sana.
Aku tarik 500,000 kali ini tapi mesin ATM nya bilang "Maaf, transaksi anda tidak bisa diproses" (kalau ga salah gitu deh kira-kira).
Penasaran karena butuh uang .. aku mikir "Hmm.. mungkin mesin ini ga punya 500,000, siapa tahu punya jumlah lebih kecil"
Aku coba tarik 300,000 dan berhasil!
Eh pas ngelihat saldo dari receipt, kok uangku berkurangnya 800,000 dari saldo awal?
Padahal yang 500,000 aku kan ga terima!
Waduh rugi nih bandar!
Untung ga kehilangan akal.
Aku telfon call centre nya BANK MUAMALAT.
Petugas di seberang sana menjawab dengan sopan... seperti biasa.. santun :)
Setelah kuuraikan kronologis kejadian, dengan tenang dia berkata,
"Hari ini atau selambat-lambatnya besok, uang ibu akan dikembalikan"
dan BENAR SAJA!
Senin pagi aku cek lagi saldo BANK MUAMALAT ku dan UANGKU sudah KEMBALI seperi seharusnya
SALUT BANK MUAMALAT!
Udahlah ga ada ribanya, bagi hasilnya adil, ATM bersama ga dipungut bayaran eh pelayanan nya memuaskan. Mantap!
Terimakasih.
Semoga keihklasan petugas yang membantuku hari itu dibalas Allah dengan segala kebaikan yang diharapkannya. Amin
Teman-teman,
biasakan cek saldo di ATM setelah mengambil uang, terutama jika uang tidak bisa ditarik sejumlah yang diminta :) dan segera hubungi call centre untuk minta bantuan jika ada masalah
Sunday, September 6, 2009
A Real Man
Seru juga ikut pelatihan jurnalis yang digelar SERF journalism expeditions. Tahun ini kali kedua aku ikut jadi duta budaya dari organisasi bernama last mile operations. Seru!
Iseng-iseng aku ikut kelas mereka, 11 orang surfer yang juga mahasiswa Amerika dan dua instruktur terkenal Sam George dan Matt George.
Ini nih salah satu tugasnya : Sebutkan 20 A real man menurut kamu.
A Real Man
A real man respect his mother and sister
A real man is rational
A real man is committed and faithful
A real man never breaks promise without acceptable reason
A real man has responsibility
A real man takes a challenge just to improve the quality of his life, not to show his pride
A real man never cries because of his own problem but he cries for the unfair world
A real man can control others, not by giving command by using his eyes and smile
A real man keeps family on the right track without holding them tight
A real man always makes woman feel comfortable beside him
A real man is confident and selfless
A real man doesn’t talk too much especially nonsense word
A real man works hard and sincerely
A real man knows to whom he talks to
A real man never escape from the war when his country attacked by other countries
A real man doesn’t have “magic finger” to show his arrogance and laziness
A real man might love more than woman in his life but he never betrays family by having affair
A real man dares to live more than dares to die
A real man is source of happiness
A real man is my soul mate to be
Itu menurutku...
Nah sekarang PR untuk teman-teman yang kesenggol
1. Evanov
2. Mona
3. Yudimuslim
4. Bunda Elly
5. Henny K Teguh
6. Mba Atik
7. Nikki
8. Diana Rochayani
9. Dponz
10. Deshinta
Tuesday, July 14, 2009
Kopdar ma Bunda Elly
Senangnya siang itu karena setelah sekian lama kenal lewat dunia maya, aku punya kesempatan buat ketemu sama Bunda Elly. Ternyata bunda Elly masih muda hahahaha... dasar otakku mikirnya ga bisa diarahin.. klo udah stempel "Bunda" aja, yang kebayang wajah yang begitu berwibawa ... Peace.. Peace.. termasuk bunda Wirda. Ternyata oh ternyata bunda berdua ini GAUL ABIZ.... !
Bunda Elly, aku ga ngarang lo.. untuk itu aku lengkapi dengan foto kita bertiga ama Mery.
Lihatlah betapa cerianya kita karena kebutuhan siang itu terpenuhi .. duh ikan bakar di saat kopdar.. menu yang oke!
Sayang, siang itu aku ga bisa lama ngobrol karena udah ada janji meeting di kantor.
Terimakasih Allah, telah memberiku sahabat yang banyak.. di dunia nyata ataupun dunia maya
Monday, July 13, 2009
MP, I miss you!
Betapa aku merindukanmu teman-teman... sangat!
Aku kan berusaha untuk serajin dulu mengunjungimu.
Ah rindu............ serindu-rindunya
ngabsen ah..
1. Mba Atik, masih hebring kan?
2. Deshinta, masih beberes mo pulkam ya?
3. Mba Marlene yang feminim... pakabar?
4. Mba Eleonora... masih aktifkah di MP?
5. Bunda Wirda, ingat kehangatan di rumah Bunda
6. Bunda Elly, ku baru saja jumpa... asyik .. gaul!
7. Teh Dina Sudjana, persiapan masak dimana lagi nih?
8. Dewa Cinta, masihkah kau setia walaupun aku berpaling sesaat?
9. Mona, adik manisku.... ku rindu sapaanmu
10. Teh Henny K Teguh, jalan-jalanmu mengesankan kah?
11. Gita Cinta, Tisha, Yudi, semuanyaaaaaaaaaa.............!! yang ga keabsen jangan marah ya...
I miss you all :)
Tuesday, May 5, 2009
Memang Beda!
Hari ini ada rasa yang membuncah. Ingin sekali dirangkai dalam untaian nada-nada indah tapi ah... rasanya takkan ada kata-kata yang bisa mewakili kebahagiaan yang baru saja aku rasakan dan rasanya ingin menghabiskan waktu dengan cepat untuk menyelesaikan curhatan ini. Dunia terasa begitu terang benderang. Masalah yang menumpuk tiga hari belakangan seakan lenyap begitu saja. Allah benar-benar tak sekalipun ingkar janji. Maha Besar Allah dengan segala rencana-rencananya termasuk skenario perjalanan hidup seluruh manusia yang tersebar di seluruh permukaan bumi ini.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Q.S. Alam Nasyrah (94) : 5-6)], begitu janji Allah.
Waktu menulis inipun senyum tak berhenti mengembang sebagai pelambang syukur atas karunia-Nya. Betapa adilnya Allah menetapkan masa-masa duka dan bahagia dalam kehidupan seseorang sehingga hati ini tak pernah terasa kering.
Hari Jumat minggu lalu aku dapat telfon dari seorang Dekan dari sebuah Fakultas di sebuah universitas negeri di Padang. Aku ingat, tiga tahun yang lalu setelah aku “mempensiunkan” diri dari sebuah lembaga tempat aku mengabdi, aku mendatangi beliau untuk menawarkan keilmuan dan keahlian yang aku miliki. Aku masih ingat, saat itu dengan ramahnya beliau mengatakan bahwa beliau sangat membutuhkan tenaga sesuai dengan ilmuku tapi fakultas tersebut masih berproses untuk menggapai harapan yang baru, terutama sekali dalam hal infrastruktur.
Setelah itu, aku asyik berkutat dengan lembaga yang aku dirikan sama teman-teman ; Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI). Rasanya waktu yang aku manfaatkan di KOGAMI tak lagi memberiku ruang untuk memikirkan peluang pekerjaan yang lain. Rasa cintaku mengalahkan segalanya, kecuali cinta pada Allah, Islam dan orang tua. Berbagai peluang silih berganti menggoda, tidak hanya mengenai pekerjaan tapi juga tentang kehidupan masa depan. Ah mungkin klise atau naif dalam pandangan orang-orang kalau aku harus bilang bahwa aku sangat mencintai KOGAMI.
Jujur saja, ketika sms dari beliau datang dengan tawaran bergabung dalam sebuah tim peneliti (yang prestisenya ga akan diragukan lagi), aku berada dalam titik kebimbangan. Bimbang menentukan arah, bimbang dengan ketidakmampuanku dalam mengolah konflik pribadi. Aku dalam titik terendah yang butuh pertolongan karena ternyata komunikasi intrapersonal yang aku bangun pada saat itu tak lagi bisa diandalkan, hingga aku membutuhkan komunikasi interpersonal. Cukup membantu, tapi tak sepenuhnya. Teman-teman yang peduli mencoba membangkitkan semangatku untuk tetap kuat karena aku memang dikenal sebagai orang yang kuat. Tapi ah... sampai manakah kekuatan seorang manusia? Hingga akhirnya dialog dengan Allah aku intensifkan karena hanya Dia yang tak pernah salah memberikan jawaban.
Selasa, 5 Mei 2009 pukul 15.00 WIB kupenuhi janji pada sang Dekan. Aku bawa fotokopi ijazah S1 dan S2 serta tesis masterku mengenai kultur jaringan tanaman, lebih khususnya tentang penghasilan metabolit sekunder yang sangat terkait dengan “wadah” baru yang sedang diinisiasi oleh beliau. Dengan jujur aku terangkan bahwa aku sangat tertarik untuk bergabung, tapi saat ini aku sedang menjalankan amanah di KOGAMI, bahkan sebagai pimpinan hingga aku tak mungkin meninggalkan amanah tersebut dalam waktu yang singkat (dalam hati aku masih berpikir “Apakah suatu saat nanti aku mampu?”). Sang Dekan berusaha meyakinkanku bahwa aku masih punya waktu untuk menyelesaikan amanahku karena “wadah” ini juga mungkin akan rampung pada tahun depan.
Lagi-lagi aku mengucapkan terimakasih dan menerangkan bahwa aku tidak bisa berjanji karena masih panjang langkah yang harus ditempuh untuk mewujudkan cita-citaku dan teman-teman tentang rasa aman pada masyarakat terhadap ancaman bencana.
Akhirnya beliau bertanya tetang aktifitasku di KOGAMI dan darimana KOGAMI mendapatkan dana.
“Alhamdulillah, kami dapat dukungan dana APBD dari pemerintah propinsi dan kota Padang, kami juga mendapat dukungan dana dari lembaga PBB yaitu UNESCO, dari USAID, dari Mercy Corp, dari Trocaire, dari Yayasan IDEP, dari LIPI, dari DKP. Dan tidak hanya dana tapi kami juga mendapatkan dukungan keilmuan dan dukungan moril lainnya dari banyak pihak.” Begitu paparku.
Beliau kemudian mengatakan, “Wah, kalau begitu ... anggap saja saya tidak jadi menawarkan untuk bergabung dengan Fakultas ini. Saya tidak ingin berkontribusi dalam mengurangi TRUST lembaga lain terhadap lembaga anda. Tidak mudah buat LSM menjaring lembaga nasional dan internasional sedemikian cepat, bahkan untuk LSM stereotype nya lebih dikenal sebagai lembaga oposan pemerintah, suka mengkritisi tanpa ada solusi. Lembaga anda mendapatkan dukungan sebanyak itu pastilah karena faktor kepercayaan yang tinggi dan faktor kepercayaan yang tinggi pastilah ditentukan oleh personal yang ada di dalamnya.. yang akhirnya bermuara pada leadership. Tapi, jika suatu saat nanti anda memang telah ingin berhenti dengan sendirinya, saya masih mengharapkan anda untuk menelfon saya.”
Subhanallah... perasaanku campur aduk. Sebegitu pentingnyanyakah buat beliau pengabdian yang aku lakukan bersama teman-teman di KOGAMI? Sementara selama ini masih ada beberapa orang yang memandang sebelah mata. “Apa sih yang bisa diharapkan bekerja di LSM?” itu kebanyakan pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang, karena ternyata khususnya di Sumatera Barat masih terdapat pengkastaan dalam memilih pekerjaan dan Pegawai Negara Sipil terletak pada kasta tertinggi. Dalam hati aku hanya bisa membatin, “Andaikan mereka tahu kebahagiaan yang aku rasakan bisa mengelola kreatifitas sendiri, mengelola konflik, mengambil pelajaran, membina jaringan, bertemu orang banyak, melihat kebahagiaan orang-orang yang mendapat manfaat di daerah program, melihat semangat relawan yang luar biasa.. pernahkah mereka rasakan hal yang sama?” Aku yakin tidak sehingga aku merasa sangat beruntung.
Apapun kata orang, siang itu aku merasa sangat merdeka karena telah berani membuat sebuah KEPUTUSAN BESAR dalam hidup. Aku berhasil melepaskan diri dari beban emosional yang tengah hinggap. Aku berhasil mengalahkan godaan prestise tentang masa depan yang menjanjikan. Aku semakin percaya dengan takdir Allah yang selalu tepat untuk hamba-hambaNya.
Aku sungguh merasa beruntung. Beliau, sang Dekan dari sebuah Fakultas bergengsi telah mengisi kekosongan di hatiku. Sehingga aku hanya mampu berucap, “Memang beda pemikiran orang yang berpendidikan tinggi dan open minded dalam memandang sesuatu.” Beliau sama sekali tidak mengecilkan keberadaan sebuah LSM.
Masih kuingat pesan beliau ketika aku pamit kembali ke kantor, “Lanjutkan perjuangan, jagalah kepercayaan orang-orang. Mudah untuk membangunnya tapi sangat sulit untuk mempertahankannya. Sekali salah melangkah, seumur hidup orang takkan percaya!”
Ah, takkan mudah melaksanakan pesan tersebut tapi aku percaya anggota KOGAMI; teman-teman yang selama ini berdedikasi tinggi membuat aku yakin untuk tetap melanjutkan perjuangan.
P.S. Terimakasih untuk keluarga besar KOGAMI yang telah mengajariku banyak hal, yang telah membuatku mau mengakui kekuranganku, yang mampu membuatku berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Moga Allah membalas kesungguhan dan keikhlasan kita dalam bekerja.Marilah kita jaga kepercayaan ini bersama-sama hanya untuk menggapai ridha Allah semata.
Thursday, April 2, 2009
Tentang GEMPA dan TSUNAMI - khususnya untuk Sumbar
1. Ciri-ciri gempa berpotensi tsunami
2. Kenapa masih berusaha, padahal tsunami itu kan takdir dari Allah
maka aku akan jawab sesuai dengan kapasitas keilmuanku dan kelembagaanku. Terimakasih untuk pertanyaannya.
Jawaban:
Prolog:
Walaupun definisi bencana yang ditentukan oleh lembaga PBB adalah : suatu kejadian yang terjadi secara tiba-tiba ataupun perlahan-lahan, disebabkan oleh alam ataupun campur tangan manusia, mengakibatkan kehilangan nyawa dan harta benda serta berubahnya fungsi sosial, dan hal tersebut tidak mampu diatasi oleh sekelompok manusia pada sebuah daerah.
Tapi aku punya definisi yang lebih sederhana
Bencana = kegagalan manusia beradaptasi dengan tanda-tanda yang diberikan Tuhan melalui alam / Kegagalan manusia beradaptasi dengan fenomena alam
Kenapa demikian?
Kalau manusia bisa mempelajari tanda-tanda alam, maka manusia akan belajar lebih jauh lagi bagaimana cara menyikapinya. Jika cara menyikapinya benar, maka tidak akan pernah ada yang namanya BENCANA ALAM.
Sederhana.
Contoh : Situ Gintung.
Pelajaran I : Lokasi Situ lebih tinggi dari kompleks perumahan - pasti ini termasuk bahaya yang berpotensi menjadi bencana suatu saat. Manusia yang paham, tidak akan bermukim di sana, apalagi sampai menimbun Situ
Pelajaran II : Sudah terlihat retakan dan sudah dilaporkan berkali-kali kepada pemerintah tapi tidak disikapi dengan seksama. Jika cepat diantisipasi, tidak akan terjadi BENCANA
atau yang lebih sederhana lagi...
Pada sebuah daerah aliran sungai, tidak ada kehidupan selain kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan liar di sana. Suatu saat jika sungai meluap dan terjadi banjir, walaupun banyak areal yang digenangi.. maka manusia tidak menyebutnya sebagai BENCANA.
Nah, berarti benar kan? Kalau manusia memberi istilah bencana untuk hal-hal yang merugikan manusia itu sendiri? Udahlah berkontribusi buat kerusakan alam eh ALAM pula yang DISALAHKAN :)
Hehehe.. moga ga ada yang protes aku nulis gini.
INI JAWABAN buat KEDUA PERTANYAAN DI ATAS
Ok, lanjut.
Risiko bencana = Bahaya x kerentanan
--------------------------
kemampuan
Ntar klo ga ngerti, boleh nanya kok.
Jadi, artinya .. jika kerentanan dikurangi dan kemampuan ditingkatkan, maka risiko bencana bisa diminimalkan.
Nah, sekarang... mengapa kita harus bersiap ? Bukankah bencana itu takdir ?
Hey... siapa bilang? Tuhan itu Maha Baik lo... Manusia aja yang ga mau belajar. Sudah dikasih ilmunya bahwa fenomena alam itu punya siklus tapi tetap aja ga ngerti.
Galodo.... di tempat yang sama terjadi pengulangan, siklusnya antara 30-40 tahun. Tanya deh penduduk setempat klo ga percaya.
Trus, gempa... selalu terjadi pengulangan di tempat yang sama. Siklusnya berbeda-beda di tiap daerah, ada yang 50 tahun, ada yang 100 tahun, ada yang 30 tahun. Coba deh buka lagi catatan sejarah bencana di daerah masing-masing.
Nah, lagi-lagi.. kelalaian manusia itu belajarlah yang bikin manusia (kita-kita ini) terkena bencana.
Jepang... belajar dari siklus gempa dan tsunami yang pernah mereka alami membuat mereka lebih bagus dalam perencanaan. Pembangunan pun sudah terintegrasi dengan pengurangan risiko bencana, seperti : pendirian bangunan sesuai dengan building code (yang telah disesuaikan dengan kerawanan gempa di sana) .. ssst... Indonesia katanya udah punya, tapi belum diterapkan :)
Nah gitu juga dengan Tsunami, pengulangannya bisa ratusan tahun.
Lagi-lagi Tuhan ngasih tanda-tanda...
Ga percaya?
Belajar donk dari penduduk Simeulue yang pernah terkena tsunami pada tahun 1907, yang artinya dah banyak yang wafat lo nenek moyang yang jadi saksi tsunami.. tapi kenapa hanya 7 orang dari 78.000 penduduknya yang tewas pada tsunami 26 Desember 2004? Itupun yang berada di laut lebih dekat ke pantai.
Karena.... nenek moyangnya mau mendidik generasi penerusnya dan generasi penerusnya mau belajar dari nenek moyangnya.
Coba deh ke simeulue, tanya semua orang di sana. Pasti mereka tahu cerita tentang Smong 07. Mereka menyebut tsunami dengan SMONG.
Dari mulut ke mulut, generasi ke generasi, bahkan ke pendatangpun cerita tentang tsunami 1907 diteruskan tanpa bosan-bosan. Sederhana saja caranya, tidak mahal! Caranya cuma bercerita di rumah masing-masing, di kedai-kedai, dimanapun mereka berada.
Isi ceritanya :
Dulu pernah terjadi gelombang besar (smong) pada tahun 1907. Ada gempa besar sebelumnya, kemudian laut surut. Nah, jika itu terjadi lagi... kemasi barang-barang dan larilah ke bukit.
Simpel banget kan? Tapi dampaknya... luar biasa!! Itu dinamakan kebijakan lokal
Gempa besar bisa dijadikan salah satu pertanda untuk terjadi tsunami
Khususnya bagi wilayah-wilayah yang terletak di dekat pertemuan lempeng bumi (zona subduksi)
contoh : wilayah pesisir Sumbar, dimana pertemuan lempeng Indo Australia dan Eurasia berada kurang lebih 170 km dari kota Padang. Maka, jika terjadi pergeseran lempeng... akan berakibat terasa getaran yang dinamakan GEMPA!
Beda halnya dengan Sri Lanka atau Maldive yang sama sekali tidak punya sumber gempa (secara geologis), jadi mereka akan sangat bergantung sekali dengan peralatan peringatan dini, karena mereka masih punya waktu!
Biar tidak terjadi kesalahpahaman.
TSUNAMI pasti didahului oleh peristiwa gempa bumi di laut (bedanya : terasa atau tidak terasa, tergantung pada jarak daerah yang akan terkena dampak)
tapi TIDAK SIAP GEMPABUMI menyebabkan TSUNAMI
Nah, karena Sumatera Barat berada dekat sekali dengan pertemuan lempeng, tentu saja akan merasakan gempa.
CIRI-CIRI GEMPA BERPOTENSI TSUNAMI untuk WILAYAH PESISIR SUMBAR, sebagai berikut :
1. Gempanya sangat kuat (manusia tidak bisa berdiri seimbang)
Kenapa ? Jawabnya : bayangkan lempeng bumi dengan ketebalan 40-60 km masing-masingnya yang bertumbukan. Hebat kan benturannya?
2. Berlangsung lama tanpa jeda (satu menit atau lebih)
Kenapa ? Karena setelah berbenturan, pastinya lempeng tidak akan langsung diam. Penggaris aja habis dibengkokkan akan bergetar untuk sekian lama sampai stabil kembali
3. Struktur bangunan (terutama yang berada di daerah pantai) akan mengalami kerusakan atau runtuh
struktur bangunan : kolom-kolom, tiang penyangga
Jika ketiga ciri ini yang terjadi, maka :
SEGERA EVAKUASI (lebih baik berjalan kaki). Ikuti langkah-langkah berikut:
1. Matikan listrik, gas
2. Ambil tas siaga yang telah dipersiapkan dari sekarang. Isinya : makanan instan, minuman, dokumen penting, obat-obatan, pakaian, senter + baterai, radio + baterai
3. Kunci dan tinggalkan rumah menuju daerah > 3 km dari pantai atau ketinggian> 10 meter dari permukaan laut (hindari gendung dalam radius 500 meter dari pantai)
Dengarkan informasi melalui radio, karena akan ada arahan dari pemerintah, tentang : sumber gempa, apakah berpotensi tsunami atau tidak, serta informasi lainnya
3. Jika informasi yang diterima bahwa
gempa berasal dari darat : boleh kembali ke rumah
gempa berasal dari laut dan berpotensi tsunami : lanjutkan evakuasi
gempa berpotensi tsunami dan kemudian dibatalkan : boleh kembali ke rumah
4. Jika terjadi tsunami, bertahanlah di daerah aman selama 4 jam minimum
Maka, dari sekarang:
Buatlah perencanaan keluarga, karena aktifitas anggota keluarga pasti berbeda-beda
Ingat! Salah satu penyebab jatuhnya banyak korban di Aceh adalah karena SALING MENCARI
Bapak yang sudah berada di daerah aman pulang ke rumah untuk mencek keluarga... maka seharusnya dia bisa selamat, tapi malah ikut jadi korban.
Caranya :
Diskusikan tempat aman yang akan dituju oleh masing-masing anggota keluarga
misal : anak akan ikut arahan dari guru (karena 60 sekolah telah dilatih di kota Padang)
Nah kalau terjadi tsunami, semua anggota keluarga akan berkumpul di IAIN Imam Bonjol Lb. Lintah 5 jam setelah terjadi gempa atau selambat-lambatnya 10 jam setelah terjadi gempa.
Masih mau nanya kenapa kita harus bersiap?
Waduh...waduh....
Takdir itu adalah ketika ikhtiar kita dah semaksimal mungkin... nah akhirnya mati juga, itu baru dinamakan takdir.
Kan tsunami ga ada tanda-tandanya ?
Lha kan udah dijelasin tadi.
Air laut itu baru akan dibangkitkan beberapa menit setelah "slip" nya lempeng memberi pengaruh pada permukaan air.
Nah, untuk wilayah Sumbar ... waktunya yang diskenariokan melalui pemodelan adalah 20-30 menit!
berarti : KITA MASIH PUNYA WAKTU UNTUK MENYELAMATKAN DIRI dalam RENTANG WAKTU 20 - 30 MENIT!
Bukankah kalau Tuhan sudah berkehendak, harusnya kita pasrah?
Oh ya? Kenapa harus pakai payung kalau hujan ? Harusnya pasrah aja buat basah
Kenapa harus ke dokter kalau sakit? Harusnya pasrah aja donk, karena Tuhan sudah berkehendak.
TOTALLY WRONG! Salah besar dalam mengartikan takdir.
Nabi Nuh aja masih bikin kapal besar kok! Tuh pelajaran langsung dari Tuhan
Trus, Nabi Muhammad - Rasulullah SAW aja masih bikin parit kok untuk bertahan dari serangan musuh
Mau beralasan apa lagi?
Maka, BUDAYA SIAGA BENCANA harus tumbuh pada diri masing-masing
Udah ga jamannya membiarkan korban tewas trus baru berlomba-lomba kasih bantuan. Itu paradigma lama... lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali!
Kalau masih ada pertanyaan lanjutan, silakan email ke kogami_indonesia@yahoo.com
terimakasih
PS. Mohon maaf kalau tidak berkenan dan bahasanya juga bahasa buat teman-teman, jadi buat Bapak-bapak ... maaf ya, ini cuma cc aja :). Mohon masukan juga kalau ada yang salah.
Eh ada yang kelupaan :
GEMPA TIDAK BISA DIRAMALKAN, JADI JANGAN PERCAYA ISU TENTANG TANGGAL TSUNAMI !
(tau kan nyambunginnya?)
Teman-teman telah ikut dalam usaha KESIAPSIAGAAN apabila ikut menyebarkan informasi ini kepada teman-teman yang lain .... Relawan jarak jauh, mungkin sekali kan? Terimakasih untuk kepedulian kita semua :)
MARI BANGUN BUDAYA SIAGA BENCANA ! Sebagai wujud syukur atas kehidupan yang diberikan Allah untuk kita