Everyday, we must get lessons of life. We can through the next days just if we can learn from day we have passed. I hope I can share all the experience of life with you. I believe there is no bad person in the world. If there is crime in the world, it is just because of wrong choice made by human being.
Tuesday, May 1, 2012
Senangnya Jadi Adik
Dengan tim kajian cepat sistem peringatan dini untuk gempa 11 April 2012 makan siang di Lamun Ombak Khatib Sulaiman Padang. Hasil temuan banyak yang menakjubkan!
Akhirnya terpikir buat advokasi eksekutif melalui kekuatan legislatif. Nah, terpikirlah nama seorang abang dan satu-satunya abang yang bisa membantu. Abang banget lah pokoknya mah secara aku anak sulung.
Eh lagi ngobrolin itu, mejaku disamperin Uda, sahabat baiknya Abang. Bilang abang lagi di ruangan VIP. Pucuk dicinta ulam tiba! Baru aja diobrolin eh abang ada di sana. Setelah menyapa abang sebentar, aku balik ke tim dan mengabari kalau abangku ternyata lagi ada di dalam dan aku janji akan mempertemukan tim.
Dan yang paling membahagiakan, abang ingat janjinya sama aku .. membelikan aku hadiah. Saat itu juga abang memesannya dan jadilah malam ini hadiah itu sudah ada di tanganku. Bahagiaaaaaanya..............!
Oh gini toh rasanya jadi adik ? Makasih ya Rabb, doaku untuk memiliki abang / kakak Engkau kabulkan. Abangku tidak hanya satu dan semuanya baik! Lindungi mereka dengan kasih sayang-MU. Jagalah keluarga mereka dari segala fitnah dan marabahaya karena aku tahu, mereka semua adalah pencinta-MU.
Sekali lagi, makasih ya Allah.... Engkau Maha Baik, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Sunday, April 15, 2012
Welcome to My Family, Abang
Sabtu kemaren (14 April 2012) abang angkatku resmi diterima menjadi bagian dari anggota keluarga Parkit 7. Entah abang yang keberapa tapi setidaknya tidak semua abang punya kesempatan untuk diterima dengan baik di keluargaku.
Papa dan mama mempunyai intuisi khas untuk menerima atau tidak menerima seseorang menjadi "bagian" dari anggota keluarga dan abang yang satu ini lolos sensor. Papa keliatan bahagia sekali dapat lawan ngobrol yang nyambung. Tapi kayaknya si abang harus bersabar karena papa hobi sekali mengulang-ulang kalimat sampai puas ha ha..
Sementara mama, seperti biasa .. lebih banyak curhat tentang penyakit beliau dan betapa bahagianya sekarang sudah bisa melepaskan tongkat yang menopang tubuhnya selama lima bulan ini.
Uul juga sangat welcome, biasanya frekuensinya sulit disamakan dengan teman-teman baruku. Ada aja kritikannya... yang temanku ga balas salamlah ... yang becandanya keterlaluanlah tapi abang sepertinya lolos fit and proper test he he he
So, welcome to my family, bang....!
with love
adek
Monday, March 12, 2012
Alhamdulillaah... Teteh dan Aa, I love you!
Semoga apapun yang terjadi, semakin menguatkan iman kedua guruku
Alhamdulillaah......... I really love you, both!
13 Maret 2012 pk. 09.00 WIB di istana dunia
Wednesday, December 16, 2009
Aku Dioperasi!
Mama yang sudah hampir dua tahun tidak bisa berjalan sempurna begitu semangat. Tak mungkin aku memadamkan semangat yang begitu menyala tersebut. Setelah minta izin dan pamit ke teman-teman di KOGAMI, aku beli tiket dan yang ada hanya Air Asia untuk hari Senin (7 Des) … sssttt… siapa bilang Air Asia murah? Mahal bo! Tapi ya sudahlah… ikhtiar harus disempurnakan.
Singkat cerita, sampailah aku, papa, mama di Shah Alam dan dijemput sama Boli, langsung menuju klinik dan Alhamdulillah lega… kali ini dokternya ada! Berarti besok pagi-pagi harus ngantri!
Bang Zab –suami Boli sobatku bersedia mengantar (Thx B’Zab), maka pukul 5 pagi Selasa (8 Des) mobil sudah meluncur dari rumah. Lebih kurang 20 menit sampailah di klinik yang dituju. Setelah mengisi nama pada daftar pasien, kami menunaikan shalat subuh di mesjid terdekat.
Kalau bicara soal pasien yang berjubel sudah bukan cerita aneh buat klinik ini karena “kehebatan” ilmu sang dokter yang lebih dikenal dengan nama Cik Man sudah membahana ke seantero Malaysia dan sebagian wilayah di Indonesia. Tepat pukul 7.30 saat klinik dibuka, kami diberi nomor antrian check up oleh staf klinik (sssttt…. aku iseng-iseng mendaftar karena aku penasaran dengan rasa sakit kepala yang sering mengganggu).
Tak ada perasaan apa-apa ketika bertemu sang dokter karena beliau sangat ramah. Satu per satu penyakit papa diuraikan, begitu juga mama. Percaya atau tidak, dengan memegang pergelangan tangan pasien, beliau mampu menguraikan seluruh diagnosa kurang dari dua menit! Dan lebih takjub lagi ketika hasilnya sama persis sama hasil scan dan MRI rumah sakit! Persis sama! Begitu juga rekomendasi untuk tindakan/operasi yang harus dilakukan. Pokoknya aku mendengarkan sambil terkagum-kagum.
Sampailah pada giliranku. Pergelangan tanganku dipegang dan keluarlah kalimat berikut dari mulut Cik Man, “Sering sakit kepala, sakit ketika haid, lemas. Ini hormon tak teratur dan ada kista. Tunggu kejap kat luar ya, selepas tu masuk lagi.” Aku keluar ruangan, kali ini sambil bengong. Apa? Kista? Oh no!
Sepuluh menit kemudian aku masuk lagi. Cik Man memegang sebuah alat digital dan memang di sana terlihatlah ada seperti bulatan di dalam perutku. Ya, itu dia si kista! Maka, akupun harus dioperasi! Ok fine. Mama akan operasi pinggul untuk memperbaiki masalah osteoporosis, papa harus dioperasi karena penyempitan pembuluh syaraf dan aku operasi untuk pengangkatan kista.
Maka, dibuatlah janji operasi hari Senin minggu berikutnya (14 Des 09). Aku tak terlalu memikirkan soal operasi karena aku memang tidak pernah membayangkan akan menjalani apapun jenis operasi. Yang penting, kami harus segera pulang ke rumah Boli karena Boli akan pulang ke Indonesia.
Seminggu dalam penantian terasa sangat lama. Aku rindu ponakan-ponakanku, aku rindu teman-teman di KOGAMI, aku rindu pekerjaanku. Untung masih bawa laptop, jadi bisa juga beberapa hal kuselesaikan selama satu minggu menunggu.
Singkat cerita, Senin (14 Des), kami siap dioperasi!
Aku deg-deg an setengah mati. Biar orang kata aku kuat atau super woman, aku paling ga suka berobat ke dokter! Sudah 10 tahun aku tak pernah berobat ke dokter. Buatku sakit bisa diobati dengan tidur dan makan yang banyak. Kali ini sekalinya ke dokter eh operasi pula. Wow! Hidupku sungguh bervariasi!
Di tempat yang kecil itu, terjadilah hubungan yang akrab antar pasien dengan berbagai keluhan. Hatiku sedikit tenang setelah tiga orang yang pernah mengalami operasi mengatakan, “tak sakitpun, tak berasa.” Ada sedikit modal keberanian sekarang. Dan yang paling penting adalah : TIDAK PAKAI JARUM SUNTIK! hahaha terakhir kali aku disuntik itu saat kelas 3 SMA. Tuh dah lama banget kan?
Papa yang bernomor urut 4 dipanggil terlebih dahulu. Aku masih terkagum-kagum dengan kerja sang dokter. Di lantai dua klinik tersebut ada 4 ruangan! Dan berganti-ganti kepala perawat muncul dari ruangan tersebut untuk meneriakkan nama pasien. Wah keren… 4 ruangan ditangani seorang dokter! Hebat!
“Nurhelmi Hasmi!” Nama mama dipanggil, maka mama juga masuk ke salah satu ruangan. Tak lama namaku dipanggil, tapi aku tau kalau aku dipanggil bukan untuk dioperasi karena perawat yang memanggil muncul dari ruangan tempat dimana papa masuk tadi. Aku diminta menyaksikan papa yang tengah dioperasi. Dengan antengnya sang dokter menerangkan apa yang tengah dilakukannya pada punggung papa. Jujur saja aku tidak paham. Aku tertegun melihat papa masih bisa ngobrol dengan enaknya dengan sang dokter saat dioperasi sementara lemak-lemak bercampur darah dibereskan di depan mataku. Seperti bukan operasi saja!
“Patra Rina Dewi!” Nah, sekarang giliranku.
Setelah memakai pakaian operasi, aku berbaring di tempat tidur menenangkan diri. Perawat mempersiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan. Dokter masuk sejenak berusaha menghiburku kemudian dia pergi lagi ke ruangan lain menangani pasien yang check up, masuk lagi ke ruanganku dan menempelkan beberapa plester di tubuhku. Katanya agar darahku jangan terlalu banyak yang keluar. Aku pasrah saja. Duh, masih kebayang mau dipotong kayak ayam hiiii…..serem!
Setelah plester melekat erat seperti kemben, Cik Man mengatakan, “Sekejap saya beri obat kebas (bius) ya” sambil mengoleskan sejenis balsam yang terasa sejuk di tubuhku kemudian dia pergi lagi ke ruangan lain menangani pasien lainnya. Lima menit dia datang lagi, memimpin 2 orang perawat berdoa sebelum membedahku! Makin mencekam deh suasananya. Mereka berdoa khusuk sekali, aku jadi membayangkan kematian. Duh!
Ketika dia telah siap menancapkan pisau operasinya, papa mama dipanggil untuk menyaksikan. Maka, papa mama pun masuk. Sekejap selepas itu, aku bisa merasakan kalau perutku sudah ditoreh, dikoyak dan sebuah benda diambil! Cik Man berkata kepada papa dan mama, “Saya hanya ambil kista, rahim masih ok lah.” Kemudian papa dan mama diminta keluar kembali sementara sang dokter menutup luka dan membersihkan darah yang berserak sambil memperlihatkan kista yang baru saja diangkat. Ya Allah besarnya…!!! sebesar telur itik! Kenapa selama ini aku ga ngerasain ada yang lain di perutku? Udah segede itu, sejak kapan aja tumbuhnya? Alhamdulillah sudah dibuang sekarang.
Lima menit saja ku dibedah dan tanpa rasa sakit sama sekali. Lukaku ditempeli perban tanpa ada jahitan lalu ku diminta istirahat selama dua jam. Sstt… belum dua jam aja aku dah turun dari tempat tidur karena kebelet pipis. Aku diberi makan bubur oleh perawat dan menunggu dua jam terasa sangat lama karena aku ga bisa tidur. Jadi, aku sms-an aja sama beberapa teman, sempat foto-foto sendiri juga (narsis jalan terus). Ketika kulihat jam tanganku menunjukkan pukul. 12.30 aku langsung turun dari tempat tidur dan menuju lantai dasar untuk bertemu papa mama. Ah operasi yang aneh dan menakjubkan…. Aku bisa jalan seperti biasa, beraktifitas seperti biasa tapi tetap tidak boleh “terlalu lincah” dan kecapean karena walaupun lukanya hanya seperti goresan terkena duri tapi luka di dalam tetap harus dijaga agar tidak terjadi infeksi.
Begitulah teman… operasi yang rumit tapi hanya berlangsung lima menit! Jadi terinspirasi buat dioperasi oleh Cik Man? hahaha jangan deh ya…. Maka, check-up lah teman.. sekarang aku bisa ngasih nasehat setelah kista sebesar telur itik yang bikin aku harus dibedah tanpa rencana!
Hari ini, 16 Desember perbanku sudah dibuka sepenuhnya dan sudah bisa mandi seperti biasa… Moga aku bisa jaga agar tidak terlalu lincah karena tidak merasa seperti telah menjalani operasi.
P.S. Nasehat dokternya yang bikin aku tersenyum simpul, “Kista bisa muncul lagi, maka segeralah menikah, buat anak.” Hahahaha…. harus cari pabrik calon mitra dulu nih … Hmm… ada yang berminat?
Untuk informasi tentang Klinik Herbapaty, ini tulisanku :
http://patrarinadewi.multiply.com/journal/item/247/Pusat_Rawatan_Herbapaty_Warisan
Tuesday, July 14, 2009
Kopdar ma Bunda Elly
Senangnya siang itu karena setelah sekian lama kenal lewat dunia maya, aku punya kesempatan buat ketemu sama Bunda Elly. Ternyata bunda Elly masih muda hahahaha... dasar otakku mikirnya ga bisa diarahin.. klo udah stempel "Bunda" aja, yang kebayang wajah yang begitu berwibawa ... Peace.. Peace.. termasuk bunda Wirda. Ternyata oh ternyata bunda berdua ini GAUL ABIZ.... !
Bunda Elly, aku ga ngarang lo.. untuk itu aku lengkapi dengan foto kita bertiga ama Mery.
Lihatlah betapa cerianya kita karena kebutuhan siang itu terpenuhi .. duh ikan bakar di saat kopdar.. menu yang oke!
Sayang, siang itu aku ga bisa lama ngobrol karena udah ada janji meeting di kantor.
Terimakasih Allah, telah memberiku sahabat yang banyak.. di dunia nyata ataupun dunia maya
Tuesday, May 5, 2009
Memang Beda!
Hari ini ada rasa yang membuncah. Ingin sekali dirangkai dalam untaian nada-nada indah tapi ah... rasanya takkan ada kata-kata yang bisa mewakili kebahagiaan yang baru saja aku rasakan dan rasanya ingin menghabiskan waktu dengan cepat untuk menyelesaikan curhatan ini. Dunia terasa begitu terang benderang. Masalah yang menumpuk tiga hari belakangan seakan lenyap begitu saja. Allah benar-benar tak sekalipun ingkar janji. Maha Besar Allah dengan segala rencana-rencananya termasuk skenario perjalanan hidup seluruh manusia yang tersebar di seluruh permukaan bumi ini.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Q.S. Alam Nasyrah (94) : 5-6)], begitu janji Allah.
Waktu menulis inipun senyum tak berhenti mengembang sebagai pelambang syukur atas karunia-Nya. Betapa adilnya Allah menetapkan masa-masa duka dan bahagia dalam kehidupan seseorang sehingga hati ini tak pernah terasa kering.
Hari Jumat minggu lalu aku dapat telfon dari seorang Dekan dari sebuah Fakultas di sebuah universitas negeri di Padang. Aku ingat, tiga tahun yang lalu setelah aku “mempensiunkan” diri dari sebuah lembaga tempat aku mengabdi, aku mendatangi beliau untuk menawarkan keilmuan dan keahlian yang aku miliki. Aku masih ingat, saat itu dengan ramahnya beliau mengatakan bahwa beliau sangat membutuhkan tenaga sesuai dengan ilmuku tapi fakultas tersebut masih berproses untuk menggapai harapan yang baru, terutama sekali dalam hal infrastruktur.
Setelah itu, aku asyik berkutat dengan lembaga yang aku dirikan sama teman-teman ; Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI). Rasanya waktu yang aku manfaatkan di KOGAMI tak lagi memberiku ruang untuk memikirkan peluang pekerjaan yang lain. Rasa cintaku mengalahkan segalanya, kecuali cinta pada Allah, Islam dan orang tua. Berbagai peluang silih berganti menggoda, tidak hanya mengenai pekerjaan tapi juga tentang kehidupan masa depan. Ah mungkin klise atau naif dalam pandangan orang-orang kalau aku harus bilang bahwa aku sangat mencintai KOGAMI.
Jujur saja, ketika sms dari beliau datang dengan tawaran bergabung dalam sebuah tim peneliti (yang prestisenya ga akan diragukan lagi), aku berada dalam titik kebimbangan. Bimbang menentukan arah, bimbang dengan ketidakmampuanku dalam mengolah konflik pribadi. Aku dalam titik terendah yang butuh pertolongan karena ternyata komunikasi intrapersonal yang aku bangun pada saat itu tak lagi bisa diandalkan, hingga aku membutuhkan komunikasi interpersonal. Cukup membantu, tapi tak sepenuhnya. Teman-teman yang peduli mencoba membangkitkan semangatku untuk tetap kuat karena aku memang dikenal sebagai orang yang kuat. Tapi ah... sampai manakah kekuatan seorang manusia? Hingga akhirnya dialog dengan Allah aku intensifkan karena hanya Dia yang tak pernah salah memberikan jawaban.
Selasa, 5 Mei 2009 pukul 15.00 WIB kupenuhi janji pada sang Dekan. Aku bawa fotokopi ijazah S1 dan S2 serta tesis masterku mengenai kultur jaringan tanaman, lebih khususnya tentang penghasilan metabolit sekunder yang sangat terkait dengan “wadah” baru yang sedang diinisiasi oleh beliau. Dengan jujur aku terangkan bahwa aku sangat tertarik untuk bergabung, tapi saat ini aku sedang menjalankan amanah di KOGAMI, bahkan sebagai pimpinan hingga aku tak mungkin meninggalkan amanah tersebut dalam waktu yang singkat (dalam hati aku masih berpikir “Apakah suatu saat nanti aku mampu?”). Sang Dekan berusaha meyakinkanku bahwa aku masih punya waktu untuk menyelesaikan amanahku karena “wadah” ini juga mungkin akan rampung pada tahun depan.
Lagi-lagi aku mengucapkan terimakasih dan menerangkan bahwa aku tidak bisa berjanji karena masih panjang langkah yang harus ditempuh untuk mewujudkan cita-citaku dan teman-teman tentang rasa aman pada masyarakat terhadap ancaman bencana.
Akhirnya beliau bertanya tetang aktifitasku di KOGAMI dan darimana KOGAMI mendapatkan dana.
“Alhamdulillah, kami dapat dukungan dana APBD dari pemerintah propinsi dan kota Padang, kami juga mendapat dukungan dana dari lembaga PBB yaitu UNESCO, dari USAID, dari Mercy Corp, dari Trocaire, dari Yayasan IDEP, dari LIPI, dari DKP. Dan tidak hanya dana tapi kami juga mendapatkan dukungan keilmuan dan dukungan moril lainnya dari banyak pihak.” Begitu paparku.
Beliau kemudian mengatakan, “Wah, kalau begitu ... anggap saja saya tidak jadi menawarkan untuk bergabung dengan Fakultas ini. Saya tidak ingin berkontribusi dalam mengurangi TRUST lembaga lain terhadap lembaga anda. Tidak mudah buat LSM menjaring lembaga nasional dan internasional sedemikian cepat, bahkan untuk LSM stereotype nya lebih dikenal sebagai lembaga oposan pemerintah, suka mengkritisi tanpa ada solusi. Lembaga anda mendapatkan dukungan sebanyak itu pastilah karena faktor kepercayaan yang tinggi dan faktor kepercayaan yang tinggi pastilah ditentukan oleh personal yang ada di dalamnya.. yang akhirnya bermuara pada leadership. Tapi, jika suatu saat nanti anda memang telah ingin berhenti dengan sendirinya, saya masih mengharapkan anda untuk menelfon saya.”
Subhanallah... perasaanku campur aduk. Sebegitu pentingnyanyakah buat beliau pengabdian yang aku lakukan bersama teman-teman di KOGAMI? Sementara selama ini masih ada beberapa orang yang memandang sebelah mata. “Apa sih yang bisa diharapkan bekerja di LSM?” itu kebanyakan pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang, karena ternyata khususnya di Sumatera Barat masih terdapat pengkastaan dalam memilih pekerjaan dan Pegawai Negara Sipil terletak pada kasta tertinggi. Dalam hati aku hanya bisa membatin, “Andaikan mereka tahu kebahagiaan yang aku rasakan bisa mengelola kreatifitas sendiri, mengelola konflik, mengambil pelajaran, membina jaringan, bertemu orang banyak, melihat kebahagiaan orang-orang yang mendapat manfaat di daerah program, melihat semangat relawan yang luar biasa.. pernahkah mereka rasakan hal yang sama?” Aku yakin tidak sehingga aku merasa sangat beruntung.
Apapun kata orang, siang itu aku merasa sangat merdeka karena telah berani membuat sebuah KEPUTUSAN BESAR dalam hidup. Aku berhasil melepaskan diri dari beban emosional yang tengah hinggap. Aku berhasil mengalahkan godaan prestise tentang masa depan yang menjanjikan. Aku semakin percaya dengan takdir Allah yang selalu tepat untuk hamba-hambaNya.
Aku sungguh merasa beruntung. Beliau, sang Dekan dari sebuah Fakultas bergengsi telah mengisi kekosongan di hatiku. Sehingga aku hanya mampu berucap, “Memang beda pemikiran orang yang berpendidikan tinggi dan open minded dalam memandang sesuatu.” Beliau sama sekali tidak mengecilkan keberadaan sebuah LSM.
Masih kuingat pesan beliau ketika aku pamit kembali ke kantor, “Lanjutkan perjuangan, jagalah kepercayaan orang-orang. Mudah untuk membangunnya tapi sangat sulit untuk mempertahankannya. Sekali salah melangkah, seumur hidup orang takkan percaya!”
Ah, takkan mudah melaksanakan pesan tersebut tapi aku percaya anggota KOGAMI; teman-teman yang selama ini berdedikasi tinggi membuat aku yakin untuk tetap melanjutkan perjuangan.
P.S. Terimakasih untuk keluarga besar KOGAMI yang telah mengajariku banyak hal, yang telah membuatku mau mengakui kekuranganku, yang mampu membuatku berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Moga Allah membalas kesungguhan dan keikhlasan kita dalam bekerja.Marilah kita jaga kepercayaan ini bersama-sama hanya untuk menggapai ridha Allah semata.
Thursday, March 19, 2009
Jangan Percaya 100 persen!
Aku sering sekali baca kalimat satu ini, "Dont trust anybody 100% even yourself!". Tadinya aku ga ngerti sama sekali kenapa ungkapan kayak gini harus ada di dunia? Bukannya kita harus percaya sama orang tua, saudara, sahabat, teman atau siapapun? Eh ini mah katanya bahkan jangan percaya ama diri sendiri juga.
Kemaren Allah ngasih jawaban, ngasih pengetahuan klo ungkapan itu emang benar!
Memang sih aku belum kenal lama sama teman yang satu ini. Perkenalan aku dan dia dimulai dengan hubungan kerja. Silaturahmi terjalin sangat baik hingga akhirnya kita merasa nyaman satu sama lain. Akhirnya merembet juga untuk ngomongin masalah kerjaan. Realita yang ada dalam membangun sebuah lembaga, penuh lika-liku dan tantangan.
Semuanya masih baik-baik saja, sampai akhirnya ketika dia mendapatkan tekanan dari atasan sehubungan kerjasama yang tengah kami bangun, dia mulai lose control. Diskusi-diskusi yang terjalin selama ini mengenai informasi lembaga menjadi bumerang yang menghantam! Masih untung kalau kenyataannya seperti yang dia lontarkan. Informasi itu menjadi kalimat-kalimat dan pernyataan-pernyataan yang begitu dahsyat sesuai dengan imajinasi dan skenario yang dibuatnya sendiri secara emosional.
Ah mengapa aku baru sadar tentang nasehat itu "Jangan percaya orang lain 100% bahkan dirimu sendiri!". Yup, aku seharusnya tidak percaya sama diriku sendiri bahwa aku merasa aman untuk menceritakan hal-hal yang seharusnya aku simpan pada sebuah tempat yang rapat. Aku seharusnya tidak percaya pada diriku sendiri bahwa sebuah komunikasi bisa saja membuatku terbius ke dalam lingkaran yang seharusnya tidak aku sentuh.
Seperti jika seorang jatuh cinta maka seharusnya dia tidak percaya 100% dirinya bisa mengendalikan gejolak asmara sehingga pada akhirnya dia baru sadar bahwa sesuatu yang tak diinginkan telah terjadi akibat percaya 100% pada diri sendiri.
Mulai saat ini, aku hanya percaya Allah 100%. Selebihnya aku akan menempatkan kepercayaan sesuai dengan porsi yang seharusnya, dengan siapa aku sedang berhadapan.
Begitulah teman....
Tuesday, March 10, 2009
[Sahabat] Sahabat, Sebuah Kata Asing
Sahabat, Sebuah Kata Asing
oleh : Patra Rina Dewi
Sahabat? Ah sungguh aneh. Kenapa orang memerlukan sahabat? Kenapa orang harus mengklasifikasikan sebuah pertemanan dengan kata "sahabat"? Bukankah punya banyak teman lebih menyenangkan?
Bertubi-tubi pertanyaan hinggap di kepalaku. Aku dibesarkan di lingkungan yang sangat keras di usiaku. Entahlah, aku memang merasa demikian. Masih sangat lekat di ingatanku ketika aku harus menempati rumah baru di sebuah tempat yang sangat asing. Sebuah tempat sepi, di dekat rawa yang dipenuhi biawak dan ular, bahkan terkadang monyet-monyet muncul dari tempat yang tak disangka-sangka. Kalaupun ada tetangga, jaraknya juga tak seperti kata "tetangga" menurut orang lain. Aku harus jalan sekitar tiga menit, baru aku temukan orang-orang yang layak disebut tetangga. Ada sih tetangga tepat di belakang rumahku tapi tetap saja rasanya aneh karena aku harus mutar ke belakang lewat semak-semak untuk sampai di rumahnya.
Waktu itu aku baru berumur lima tahun dan ingatanku masih sangat kuat mengenang kejadian demi kejadian. Aku hanya punya dua orang teman sebaya perempuan, selebihnya laki-laki. Jadilah kami (perempuan) menyesuaikan diri dengan prilaku laki-laki begitu juga dengan jenis permainan.
Aku begitu besar bersama anak-anak kampung. Kebersamaan kami yang hanya 10 orang (anak-anak kampung) membuatku tak pernah merasa kesepian. Jadi, ketika orang bertanya tentang sahabat, aku sama sekali tidak punya jawaban. Semuanya adalah sahabatku!
Sampai satu saat, di kelas 2 SMP aku merasakan ada sesuatu yang hilang. Di saat sahabat-sahabat masa kecilku tak lagi punya banyak waktu untuk bermain seperti dulu. Mereka punya kesibukan sendiri-sendiri atau sebagian dari mereka mulai malu untuk bermain bersama. Masa remaja yang tak mengenakkan. Di sekolah aku bisa tertawa sepuas-puasnya karena temanku sangat banyak dan sampai di rumah aku merasa begitu kesepian karena satu demi satu teman kecilku mulai tak terlihat.
Sahabat. Kata itu mulai terngiang kembali. Benarkah aku membutuhkan sahabat? Haruskah aku memilih salah seorang dari mereka untuk aku jadikan sahabat? Ah... mengapa dunia terasa jadi begitu rumit?
Tanpa aku sadari, pelan-pelan aku kehilangan rasa percaya diri. Aku yang anak kampung mulai kehilangan lingkungan. Berteman dengan anak-anak orang kaya di lingkungan sekolah justru membuatku merasa minder. Tak ada yang salah dengan mereka. Justru mereka sangat baik. Jika mereka dijemput dengan mobil, aku bisa ikut menumpang. Jika ada yang ulang tahun, aku selalu ditraktir. Tapi apa yang bisa aku perbuat untuk mereka? Makan saja aku harus bisa bersyukur dengan lauk yang seadanya, jajanku hanya cukup untuk mengganjal perut jika memang "harus" lapar.
Waktu terus berputar...
Entah bagaimana, (masih di kelas 2 SMP) aku bisa berkenalan dengan seorang pencandu narkoba. Tentu saja aku tidak mengetahuinya di awal pertemanan. Tiba-tiba aku sudah dihadapkan pada episode sakau demi sakau yang harus dijalaninya. Sebagai teman, aku harus merahasiakan ini dari orang lain karena tak ada seorangpun yang tau kalau dia adalah seorang pencandu. Kehilangan kasih sayang dalam keluarga telah menyeretnya pada dunia terlarang ini. Lalu, mengapa masa remajaku harus melewati masa seperti ini? Di saat orang lain bisa tertawa riang, aku harus menangis ketika melihatnya kesakitan.
Sedikit demi sedikit aku berusaha meyakinkannya bahwa kebahagiaan itu hanya milik orang-orang yang bisa menganggap ujian sebagai salah satu episode kehidupan yang harus dilalui, sama seperti ujian semester yang memberikan kita angka-angka dan ranking di kelas. Tapi sepertinya ini tidak mudah.
Kesabaranku hilang sudah! Di satu siang aku mengeluarkan ancaman, "Jika kamu tidak mau berhenti, aku akan ikut make!" sambil merampas jarum suntik yang baru saja dipakainya. Aku kehilangan cara. Aku putus asa.
Sampai akhirnya, aku harus menangis berkali-kali melihat usahanya untuk berhenti. Ah mengapa sakau begitu kejam? Ubun-ubunku serasa ikut tercabut setiap kali dia mengerang kesakitan hingga berkali-kali pula aku kalah, "Pake aja, ayo pake aja!" begitu bujukku setiap kali melihat dia menggeliat dan menggelepar menahan sakit. Tapi berkali-kali pula dia berkata, "Aku ingin buktikan bahwa aku lebih menyayangimu sebagai sahabatku daripada benda ini!"
Sahabat? ... Ah, akhirnya ada yang mengistimewakanku sebagai seorang sahabat hingga dia bersedia kesakitan berkali-kali hanya untuk membuatku bahagia? Katanya hanya aku yang bisa mengerti keadaan dirinya, hanya aku yang mau mendengar segala keluhan dan omelannya.. yang aku sendiri tak pernah menyadarinya.
Sejak saat itu, sahabat bukan lagi kata asing untukku. Enam bulan berjuang untuk tidak menggunakan segala yang berbau narkoba telah membuktikan bahwa dia telah menjadikan aku penting. Adakah orang di luar sana yang merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan? Bola mataku selalu saja panas jika teringat pengorbanannya untukku.
Sahabat, dimanakah kau sekarang? Aku merindukan saat-saat kita bersama melewati masa sulit dan menyimpan bongkahan rahasia... hingga sekarang hanya Tuhan, kau dan aku yang tahu... Aku menyayangimu, dimanapun kau berada...
Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA MENULIS TENTANG SAHABAT
Monday, April 28, 2008
[US-Palo Alto] What They Think about Islam
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. ” (An-Nisaa’: 129)
Akhirnya, tadi aku kembali makan malam di rumah yang sama dan sang putra berkata "Tadi pelajaran di kelasku jadi menarik, karena aku menerangkan semua yang kamu terangkan kepada teman-teman dan guruku. Dan sekarang mereka punya pandangan berbeda. You make the difference, Patra. I know Islam better now."
Itulah peranan kita, sahabat... Do our best!
*Kamis aku diminta untuk memberikan presentasi di Castilleja School tentang peranan wanita Islam di masyarakat dan hal-hal lainnya yang bikin mereka penasaran. Semoga aku mampu*