Showing posts with label catatanhidup. Show all posts
Showing posts with label catatanhidup. Show all posts

Tuesday, May 1, 2012

Senangnya Jadi Adik

Siang menuju sore ini ... aku senaaaaang banget!
Dengan tim kajian cepat sistem peringatan dini untuk gempa 11 April 2012 makan siang di Lamun Ombak Khatib Sulaiman Padang. Hasil temuan banyak yang menakjubkan!
Akhirnya terpikir buat advokasi eksekutif melalui kekuatan legislatif. Nah, terpikirlah nama seorang abang dan satu-satunya abang yang bisa membantu. Abang banget lah pokoknya mah secara aku anak sulung.

Eh lagi ngobrolin itu, mejaku disamperin Uda, sahabat baiknya Abang. Bilang abang lagi di ruangan VIP. Pucuk dicinta ulam tiba! Baru aja diobrolin eh abang ada di sana. Setelah menyapa abang sebentar, aku balik ke tim dan mengabari kalau abangku ternyata lagi ada di dalam dan aku janji akan mempertemukan tim.

Dan yang paling membahagiakan, abang ingat janjinya sama aku .. membelikan aku hadiah. Saat itu juga abang memesannya dan jadilah malam ini hadiah itu sudah ada di tanganku. Bahagiaaaaaanya..............!

Oh gini toh rasanya jadi adik ? Makasih ya Rabb, doaku untuk memiliki abang / kakak Engkau kabulkan. Abangku tidak hanya satu dan semuanya baik! Lindungi mereka dengan kasih sayang-MU. Jagalah keluarga mereka dari segala fitnah dan marabahaya karena aku tahu, mereka semua adalah pencinta-MU.

Sekali lagi, makasih ya Allah.... Engkau Maha Baik, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


Sunday, April 15, 2012

Welcome to My Family, Abang

Senangnya ....
Sabtu kemaren (14 April 2012) abang angkatku resmi diterima menjadi bagian dari anggota keluarga Parkit 7. Entah abang yang keberapa tapi setidaknya tidak semua abang punya kesempatan untuk diterima dengan baik di keluargaku.

Papa dan mama mempunyai intuisi khas untuk menerima atau tidak menerima seseorang menjadi "bagian" dari anggota keluarga dan abang yang satu ini lolos sensor. Papa keliatan bahagia sekali dapat lawan ngobrol yang nyambung. Tapi kayaknya si abang harus bersabar karena papa hobi sekali mengulang-ulang kalimat sampai puas ha ha..

Sementara mama, seperti biasa .. lebih banyak curhat tentang penyakit beliau dan betapa bahagianya sekarang sudah bisa melepaskan tongkat yang menopang tubuhnya selama lima bulan ini.

Uul juga sangat welcome, biasanya frekuensinya sulit disamakan dengan teman-teman baruku. Ada aja kritikannya... yang temanku ga balas salamlah ... yang becandanya keterlaluanlah tapi abang sepertinya lolos fit and proper test he he he

So, welcome to my family, bang....!

with love
adek

Monday, March 12, 2012

Alhamdulillaah... Teteh dan Aa, I love you!

Senangnya mendengar kabar gembira hari ini. Teh Ninih dan Aa Gym resmi menikah lagi. Subhanallah, begitulah keagungan Allah dalam memperlakukan hamba-hamba pilihan-Nya.

Semoga apapun yang terjadi, semakin menguatkan iman kedua guruku

Alhamdulillaah.........  I really love you, both!

13 Maret 2012 pk. 09.00 WIB di istana dunia

Wednesday, December 16, 2009

Aku Dioperasi!

Ga pernah nyangka harus menjalani operasi. Itulah aku! Maksud hati cuma mau ngantar papa sama mama berobat di Pusat Rawatan Herbapaty –sebuah klinik kecil di Kota Kemuning, Shah Alam pada tanggal 7 Desember 2009. Rencana keberangkatanpun mendadak karena tanggal 4 Desember (Jumat) aku baru saja pulang dari Jogja dan mamaku sayang memintaku untuk segera beli tiket ke Malaysia karena dokter yang selama ini “diburu” sedang berada di tempat (begitu kata sobatku Boli. Thanks ya Boli….).

Mama yang sudah hampir dua tahun tidak bisa berjalan sempurna begitu semangat. Tak mungkin aku memadamkan semangat yang begitu menyala tersebut. Setelah minta izin dan pamit ke teman-teman di KOGAMI, aku beli tiket dan yang ada hanya Air Asia untuk hari Senin (7 Des) … sssttt… siapa bilang Air Asia murah? Mahal bo! Tapi ya sudahlah…  ikhtiar harus disempurnakan.

Singkat cerita, sampailah aku, papa, mama di Shah Alam dan dijemput sama Boli, langsung menuju klinik dan Alhamdulillah lega… kali ini dokternya ada! Berarti besok pagi-pagi harus ngantri!

Bang Zab –suami Boli sobatku bersedia mengantar (Thx B’Zab), maka pukul 5 pagi Selasa (8 Des) mobil sudah meluncur dari rumah. Lebih kurang 20 menit sampailah di klinik yang dituju. Setelah mengisi nama pada daftar pasien, kami menunaikan shalat subuh di mesjid terdekat.

Kalau bicara soal pasien yang berjubel sudah bukan cerita aneh buat klinik ini karena “kehebatan” ilmu sang dokter yang lebih dikenal dengan nama Cik Man sudah membahana ke seantero Malaysia dan sebagian wilayah di Indonesia. Tepat pukul 7.30 saat klinik dibuka, kami diberi nomor antrian check up oleh staf klinik (sssttt…. aku iseng-iseng mendaftar karena aku penasaran dengan rasa sakit kepala yang sering mengganggu).

Tak ada perasaan apa-apa ketika bertemu sang dokter karena beliau sangat ramah. Satu per satu penyakit papa diuraikan, begitu juga mama. Percaya atau tidak, dengan memegang pergelangan tangan pasien, beliau mampu menguraikan seluruh diagnosa kurang dari dua menit! Dan lebih takjub lagi ketika hasilnya sama persis sama hasil scan dan MRI rumah sakit! Persis sama! Begitu juga rekomendasi untuk tindakan/operasi yang harus dilakukan. Pokoknya aku mendengarkan sambil terkagum-kagum.

Sampailah pada giliranku. Pergelangan tanganku dipegang dan keluarlah kalimat berikut dari mulut Cik Man, “Sering sakit kepala, sakit ketika haid, lemas. Ini hormon tak teratur dan ada kista. Tunggu kejap kat luar ya, selepas tu masuk lagi.” Aku keluar ruangan, kali ini sambil bengong. Apa? Kista? Oh no!

Sepuluh menit kemudian aku masuk lagi. Cik Man memegang sebuah alat digital dan memang di sana terlihatlah ada seperti bulatan di dalam perutku. Ya, itu dia si kista! Maka, akupun harus dioperasi! Ok fine. Mama akan operasi pinggul untuk memperbaiki masalah osteoporosis, papa harus dioperasi karena penyempitan pembuluh syaraf dan aku operasi untuk pengangkatan kista.

Maka, dibuatlah janji operasi hari Senin minggu berikutnya (14 Des 09). Aku tak terlalu memikirkan soal operasi karena aku memang tidak pernah membayangkan akan menjalani apapun jenis operasi.  Yang penting, kami harus segera pulang ke rumah Boli karena Boli akan pulang ke Indonesia.

Seminggu dalam penantian terasa sangat lama. Aku rindu ponakan-ponakanku, aku rindu teman-teman di KOGAMI, aku rindu pekerjaanku. Untung masih bawa laptop, jadi bisa juga beberapa hal kuselesaikan selama satu minggu menunggu.

Singkat cerita, Senin  (14 Des), kami siap dioperasi!

Aku deg-deg an setengah mati. Biar orang kata aku kuat atau super woman, aku paling ga suka berobat ke dokter! Sudah 10 tahun aku tak pernah berobat ke dokter. Buatku sakit bisa diobati dengan tidur dan makan yang banyak. Kali ini sekalinya ke dokter eh operasi pula. Wow! Hidupku sungguh bervariasi!

Di tempat yang kecil itu, terjadilah hubungan yang akrab antar pasien dengan berbagai keluhan. Hatiku sedikit tenang setelah tiga orang yang pernah mengalami operasi mengatakan, “tak sakitpun, tak berasa.” Ada sedikit modal keberanian sekarang. Dan yang paling penting adalah : TIDAK PAKAI JARUM SUNTIK! hahaha terakhir kali aku disuntik itu saat kelas 3 SMA. Tuh dah lama banget kan?

Papa yang bernomor urut 4 dipanggil terlebih dahulu. Aku masih terkagum-kagum dengan kerja sang dokter. Di lantai dua klinik tersebut ada 4 ruangan! Dan berganti-ganti kepala perawat muncul dari ruangan tersebut untuk meneriakkan nama pasien. Wah keren… 4 ruangan ditangani seorang dokter! Hebat!

“Nurhelmi Hasmi!” Nama mama dipanggil, maka mama juga masuk ke salah satu ruangan. Tak lama namaku dipanggil, tapi aku tau kalau aku dipanggil bukan untuk dioperasi karena perawat yang memanggil muncul dari ruangan tempat dimana papa masuk tadi. Aku diminta menyaksikan papa yang tengah dioperasi. Dengan antengnya sang dokter menerangkan apa yang tengah dilakukannya pada punggung papa. Jujur saja aku tidak paham. Aku tertegun melihat papa masih bisa ngobrol dengan enaknya dengan sang dokter saat dioperasi sementara lemak-lemak bercampur darah dibereskan di depan mataku. Seperti bukan operasi saja!

“Patra Rina Dewi!” Nah, sekarang giliranku.

Setelah memakai pakaian operasi, aku berbaring di tempat tidur menenangkan diri. Perawat mempersiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan. Dokter masuk sejenak berusaha menghiburku kemudian dia pergi lagi ke ruangan lain menangani pasien yang check up, masuk lagi ke ruanganku dan menempelkan beberapa plester di tubuhku. Katanya agar darahku jangan terlalu banyak yang keluar. Aku pasrah saja. Duh, masih kebayang mau dipotong kayak ayam hiiii…..serem!

Setelah plester melekat erat seperti kemben, Cik Man mengatakan, “Sekejap saya beri obat kebas (bius) ya” sambil mengoleskan sejenis balsam yang terasa sejuk di tubuhku kemudian dia pergi lagi ke ruangan lain menangani pasien lainnya. Lima menit dia datang lagi, memimpin 2 orang perawat berdoa sebelum membedahku! Makin mencekam deh suasananya. Mereka berdoa khusuk sekali, aku jadi membayangkan kematian. Duh!

Ketika dia telah siap menancapkan pisau operasinya, papa mama dipanggil untuk menyaksikan. Maka, papa mama pun masuk. Sekejap selepas itu, aku bisa merasakan kalau perutku sudah ditoreh, dikoyak dan sebuah benda diambil! Cik Man berkata kepada papa dan mama, “Saya hanya ambil kista, rahim masih ok lah.” Kemudian papa dan mama diminta keluar kembali sementara sang dokter menutup luka dan membersihkan darah yang berserak sambil memperlihatkan kista yang baru saja diangkat. Ya Allah besarnya…!!! sebesar telur itik! Kenapa selama ini aku ga ngerasain ada yang lain di perutku? Udah segede itu, sejak kapan aja tumbuhnya? Alhamdulillah sudah dibuang sekarang.

Lima menit saja ku dibedah dan tanpa rasa sakit sama sekali. Lukaku ditempeli perban tanpa ada jahitan lalu ku diminta istirahat selama dua jam. Sstt… belum dua jam aja aku dah turun dari tempat tidur karena kebelet pipis. Aku diberi makan bubur oleh perawat dan menunggu dua jam terasa sangat lama karena aku ga bisa tidur. Jadi, aku sms-an aja sama beberapa teman, sempat foto-foto sendiri juga (narsis jalan terus). Ketika kulihat jam tanganku menunjukkan pukul. 12.30 aku langsung turun dari tempat tidur dan menuju lantai dasar untuk bertemu papa mama. Ah operasi yang aneh dan menakjubkan…. Aku bisa jalan seperti biasa, beraktifitas seperti biasa tapi tetap tidak boleh “terlalu lincah” dan kecapean karena walaupun lukanya hanya seperti goresan terkena duri tapi luka di dalam tetap harus dijaga agar tidak terjadi infeksi.

Begitulah teman… operasi yang rumit tapi hanya berlangsung lima menit! Jadi terinspirasi buat dioperasi oleh Cik Man? hahaha jangan deh ya…. Maka, check-up lah teman.. sekarang aku bisa ngasih nasehat setelah kista sebesar telur itik yang bikin aku harus dibedah tanpa rencana!

Hari ini, 16 Desember perbanku sudah dibuka sepenuhnya dan sudah bisa mandi seperti biasa… Moga aku bisa jaga agar tidak terlalu lincah karena tidak merasa seperti telah menjalani operasi.

 

P.S. Nasehat dokternya yang bikin aku tersenyum simpul, “Kista bisa muncul lagi, maka segeralah menikah, buat anak.” Hahahaha…. harus cari pabrik calon mitra dulu nih … Hmm… ada yang berminat?

 

Untuk informasi tentang Klinik Herbapaty, ini tulisanku :

http://patrarinadewi.multiply.com/journal/item/247/Pusat_Rawatan_Herbapaty_Warisan

Tuesday, July 14, 2009

Kopdar ma Bunda Elly

Senangnya siang itu karena setelah sekian lama kenal lewat dunia maya, aku punya kesempatan buat ketemu sama Bunda Elly. Ternyata bunda Elly masih muda hahahaha... dasar otakku mikirnya ga bisa diarahin.. klo udah stempel "Bunda" aja, yang kebayang wajah yang begitu berwibawa ... Peace.. Peace.. termasuk bunda Wirda. Ternyata oh ternyata bunda berdua ini GAUL ABIZ.... !

Bunda Elly, aku ga ngarang lo.. untuk itu aku lengkapi dengan foto kita bertiga ama Mery.

Lihatlah betapa cerianya kita karena kebutuhan siang itu terpenuhi .. duh ikan bakar di saat kopdar.. menu yang oke!

Sayang, siang itu aku ga bisa lama ngobrol karena udah ada janji meeting di kantor.

Terimakasih Allah, telah memberiku sahabat yang banyak.. di dunia nyata ataupun dunia maya

Tuesday, May 5, 2009

Memang Beda!

Hari ini ada rasa yang membuncah. Ingin sekali dirangkai dalam untaian nada-nada indah tapi ah... rasanya takkan ada kata-kata yang bisa mewakili kebahagiaan yang baru saja aku rasakan dan rasanya ingin menghabiskan waktu dengan cepat untuk menyelesaikan curhatan ini. Dunia terasa begitu terang benderang. Masalah yang menumpuk tiga hari belakangan seakan lenyap begitu saja. Allah benar-benar tak sekalipun ingkar janji. Maha Besar Allah dengan segala rencana-rencananya termasuk skenario perjalanan hidup seluruh manusia yang tersebar di seluruh permukaan bumi ini.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Q.S. Alam Nasyrah (94) : 5-6)], begitu janji Allah.

Waktu menulis inipun senyum tak berhenti mengembang sebagai pelambang syukur atas karunia-Nya. Betapa adilnya Allah menetapkan masa-masa duka dan bahagia dalam kehidupan seseorang sehingga hati ini tak pernah terasa kering.

Hari Jumat minggu lalu aku dapat telfon dari seorang Dekan dari sebuah Fakultas di sebuah universitas negeri di Padang. Aku ingat, tiga tahun yang lalu setelah aku “mempensiunkan” diri dari sebuah lembaga tempat aku mengabdi, aku mendatangi beliau untuk menawarkan keilmuan dan keahlian yang aku miliki. Aku masih ingat, saat itu dengan ramahnya beliau mengatakan bahwa beliau sangat membutuhkan tenaga sesuai dengan ilmuku tapi fakultas tersebut masih berproses untuk menggapai harapan yang baru, terutama sekali dalam hal infrastruktur.

Setelah itu, aku asyik berkutat dengan lembaga yang aku dirikan sama teman-teman ; Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI). Rasanya waktu yang aku manfaatkan di KOGAMI tak lagi memberiku ruang untuk memikirkan peluang pekerjaan yang lain. Rasa cintaku mengalahkan segalanya, kecuali cinta pada Allah, Islam dan orang tua. Berbagai peluang silih berganti menggoda, tidak hanya mengenai pekerjaan tapi juga tentang kehidupan masa depan. Ah mungkin klise atau naif dalam pandangan orang-orang kalau aku harus bilang bahwa aku sangat mencintai KOGAMI.

Jujur saja, ketika sms dari beliau datang dengan tawaran bergabung dalam sebuah tim peneliti (yang prestisenya ga akan diragukan lagi), aku berada dalam titik kebimbangan. Bimbang menentukan arah, bimbang dengan ketidakmampuanku dalam mengolah konflik pribadi. Aku dalam titik terendah yang butuh pertolongan karena ternyata komunikasi intrapersonal yang aku bangun pada saat itu tak lagi bisa diandalkan, hingga aku membutuhkan komunikasi interpersonal. Cukup membantu, tapi tak sepenuhnya. Teman-teman yang peduli mencoba membangkitkan semangatku untuk tetap kuat karena aku memang dikenal sebagai orang yang kuat. Tapi ah... sampai manakah kekuatan seorang manusia? Hingga akhirnya dialog dengan Allah aku intensifkan karena hanya Dia yang tak pernah salah memberikan jawaban.

Selasa, 5 Mei 2009 pukul 15.00 WIB kupenuhi janji pada sang Dekan. Aku bawa fotokopi ijazah S1 dan S2 serta tesis masterku mengenai kultur jaringan tanaman, lebih khususnya tentang penghasilan metabolit sekunder yang sangat terkait dengan “wadah” baru yang sedang diinisiasi oleh beliau. Dengan jujur aku terangkan bahwa aku sangat tertarik untuk bergabung, tapi saat ini aku sedang menjalankan amanah di KOGAMI, bahkan sebagai pimpinan hingga aku tak mungkin meninggalkan amanah tersebut dalam waktu yang singkat (dalam hati aku masih berpikir “Apakah suatu saat nanti aku mampu?”). Sang Dekan berusaha meyakinkanku bahwa aku masih punya waktu untuk menyelesaikan amanahku karena “wadah” ini juga mungkin akan rampung pada tahun depan.

Lagi-lagi aku mengucapkan terimakasih dan menerangkan bahwa aku tidak bisa berjanji karena masih panjang langkah yang harus ditempuh untuk mewujudkan cita-citaku dan teman-teman tentang rasa aman pada masyarakat terhadap ancaman bencana.

Akhirnya beliau bertanya tetang aktifitasku di KOGAMI dan darimana KOGAMI mendapatkan dana.

“Alhamdulillah, kami dapat dukungan dana APBD dari pemerintah propinsi dan kota Padang, kami juga mendapat dukungan dana dari lembaga PBB yaitu UNESCO, dari USAID, dari Mercy Corp, dari Trocaire, dari Yayasan IDEP, dari LIPI, dari DKP. Dan tidak hanya dana tapi kami juga mendapatkan dukungan keilmuan dan dukungan moril lainnya dari banyak pihak.” Begitu paparku.

Beliau kemudian mengatakan, “Wah, kalau begitu ... anggap saja saya tidak jadi menawarkan untuk bergabung dengan Fakultas ini. Saya tidak ingin berkontribusi dalam mengurangi TRUST lembaga lain terhadap lembaga anda. Tidak mudah buat LSM menjaring lembaga nasional dan internasional sedemikian cepat, bahkan untuk LSM stereotype nya lebih dikenal sebagai lembaga oposan pemerintah, suka mengkritisi tanpa ada solusi. Lembaga anda mendapatkan dukungan sebanyak itu pastilah karena faktor kepercayaan yang tinggi dan faktor kepercayaan yang tinggi pastilah ditentukan oleh personal yang ada di dalamnya.. yang akhirnya bermuara pada leadership. Tapi, jika suatu saat nanti anda memang telah ingin berhenti dengan sendirinya, saya masih mengharapkan anda untuk menelfon saya.”

Subhanallah... perasaanku campur aduk. Sebegitu pentingnyanyakah buat beliau pengabdian yang aku lakukan bersama teman-teman di KOGAMI? Sementara selama ini masih ada beberapa orang yang memandang sebelah mata. “Apa sih yang bisa diharapkan bekerja di LSM?” itu kebanyakan pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang, karena ternyata khususnya di Sumatera Barat masih terdapat pengkastaan dalam memilih pekerjaan dan Pegawai Negara Sipil terletak pada kasta tertinggi. Dalam hati aku hanya bisa membatin, “Andaikan mereka tahu kebahagiaan yang aku rasakan bisa mengelola kreatifitas sendiri, mengelola konflik, mengambil pelajaran, membina jaringan, bertemu orang banyak, melihat kebahagiaan orang-orang yang mendapat manfaat di daerah program, melihat semangat relawan yang luar biasa.. pernahkah mereka rasakan hal yang sama?” Aku yakin tidak sehingga aku merasa sangat beruntung.

Apapun kata orang, siang itu aku merasa sangat merdeka karena telah berani membuat sebuah KEPUTUSAN BESAR dalam hidup. Aku berhasil melepaskan diri dari beban emosional yang tengah hinggap. Aku berhasil mengalahkan godaan prestise tentang masa depan yang menjanjikan. Aku semakin percaya dengan takdir Allah yang selalu tepat untuk hamba-hambaNya.

Aku sungguh merasa beruntung. Beliau, sang Dekan dari sebuah Fakultas bergengsi telah mengisi kekosongan di hatiku. Sehingga aku hanya mampu berucap, “Memang beda pemikiran orang yang berpendidikan tinggi dan open minded dalam memandang sesuatu.” Beliau sama sekali tidak mengecilkan keberadaan sebuah LSM.

Masih kuingat pesan beliau ketika aku pamit kembali ke kantor, “Lanjutkan perjuangan, jagalah kepercayaan orang-orang. Mudah untuk membangunnya tapi sangat sulit untuk mempertahankannya. Sekali salah melangkah, seumur hidup orang  takkan percaya!”

Ah, takkan mudah melaksanakan pesan tersebut  tapi aku percaya anggota KOGAMI; teman-teman yang selama ini berdedikasi tinggi membuat aku yakin untuk tetap melanjutkan perjuangan.

 

P.S. Terimakasih untuk keluarga besar KOGAMI yang telah mengajariku banyak hal, yang telah membuatku mau mengakui kekuranganku, yang mampu membuatku berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Moga Allah membalas kesungguhan dan keikhlasan kita dalam bekerja.Marilah kita jaga kepercayaan ini bersama-sama hanya untuk menggapai ridha Allah semata.

Thursday, March 19, 2009

Jangan Percaya 100 persen!

Aku sering sekali baca kalimat satu ini, "Dont trust anybody 100% even yourself!". Tadinya aku ga ngerti sama sekali kenapa ungkapan kayak gini harus ada di dunia? Bukannya kita harus percaya sama orang tua, saudara, sahabat, teman atau siapapun? Eh ini mah katanya bahkan jangan percaya ama diri sendiri juga.

Kemaren Allah ngasih jawaban, ngasih pengetahuan klo ungkapan itu emang benar!

Memang sih aku belum kenal lama sama teman yang satu ini. Perkenalan aku dan dia dimulai dengan hubungan kerja. Silaturahmi terjalin sangat baik hingga akhirnya kita merasa nyaman satu sama lain. Akhirnya merembet juga untuk ngomongin masalah kerjaan. Realita yang ada dalam membangun sebuah lembaga, penuh lika-liku dan tantangan.

Semuanya masih baik-baik saja, sampai akhirnya ketika dia mendapatkan tekanan dari atasan sehubungan kerjasama yang tengah kami bangun, dia mulai lose control. Diskusi-diskusi yang terjalin selama ini mengenai informasi lembaga menjadi bumerang yang menghantam! Masih untung kalau kenyataannya seperti yang dia lontarkan. Informasi itu menjadi kalimat-kalimat dan pernyataan-pernyataan yang begitu dahsyat sesuai dengan imajinasi dan skenario yang dibuatnya sendiri secara emosional.

Ah mengapa aku baru sadar tentang nasehat itu "Jangan percaya orang lain 100% bahkan dirimu sendiri!". Yup, aku seharusnya tidak percaya sama diriku sendiri bahwa aku merasa aman untuk menceritakan hal-hal yang seharusnya aku simpan pada sebuah tempat yang rapat. Aku seharusnya tidak percaya pada diriku sendiri bahwa sebuah komunikasi bisa saja membuatku terbius ke dalam lingkaran yang seharusnya tidak aku sentuh.

Seperti jika seorang jatuh cinta maka seharusnya dia tidak percaya 100% dirinya bisa mengendalikan gejolak asmara sehingga pada akhirnya dia baru sadar bahwa sesuatu yang tak diinginkan telah terjadi akibat percaya 100% pada diri sendiri.

Mulai saat ini, aku hanya percaya Allah 100%. Selebihnya aku akan menempatkan kepercayaan sesuai dengan porsi yang seharusnya, dengan siapa aku sedang berhadapan.

Begitulah teman....

Tuesday, March 10, 2009

[Sahabat] Sahabat, Sebuah Kata Asing

Sahabat, Sebuah Kata Asing

oleh : Patra Rina Dewi

Sahabat? Ah sungguh aneh. Kenapa orang memerlukan sahabat? Kenapa orang harus mengklasifikasikan sebuah pertemanan dengan kata "sahabat"? Bukankah punya banyak teman lebih menyenangkan?

Bertubi-tubi pertanyaan hinggap di kepalaku. Aku dibesarkan di lingkungan yang sangat keras di usiaku. Entahlah, aku memang merasa demikian. Masih sangat lekat di ingatanku ketika aku harus menempati rumah baru di sebuah tempat yang sangat asing. Sebuah tempat sepi, di dekat rawa yang dipenuhi biawak dan ular, bahkan terkadang monyet-monyet muncul dari tempat yang tak disangka-sangka. Kalaupun ada tetangga, jaraknya juga tak seperti kata "tetangga" menurut orang lain. Aku harus jalan sekitar tiga menit, baru aku temukan orang-orang yang layak disebut tetangga. Ada sih tetangga tepat di belakang rumahku tapi tetap saja rasanya aneh karena aku harus mutar ke belakang lewat semak-semak untuk sampai di rumahnya.

Waktu itu aku baru berumur lima tahun dan ingatanku masih sangat kuat mengenang kejadian demi kejadian. Aku hanya punya dua orang teman sebaya perempuan, selebihnya laki-laki. Jadilah kami (perempuan) menyesuaikan diri dengan prilaku laki-laki begitu juga dengan jenis permainan.

Aku begitu besar bersama anak-anak kampung. Kebersamaan kami yang hanya 10 orang (anak-anak kampung) membuatku tak pernah merasa kesepian. Jadi, ketika orang bertanya tentang sahabat, aku sama sekali tidak punya jawaban. Semuanya adalah sahabatku!

Sampai satu saat, di kelas 2 SMP aku merasakan ada sesuatu yang hilang. Di saat sahabat-sahabat masa kecilku tak lagi punya banyak waktu untuk bermain seperti dulu. Mereka punya kesibukan sendiri-sendiri atau sebagian dari mereka mulai malu untuk bermain bersama. Masa remaja yang tak mengenakkan. Di sekolah aku bisa tertawa sepuas-puasnya karena temanku sangat banyak dan sampai di rumah aku merasa begitu kesepian karena satu demi satu teman kecilku mulai tak terlihat.

Sahabat. Kata itu mulai terngiang kembali. Benarkah aku membutuhkan sahabat? Haruskah aku memilih salah seorang dari mereka untuk aku jadikan sahabat? Ah... mengapa dunia terasa jadi begitu rumit?

Tanpa aku sadari, pelan-pelan aku kehilangan rasa percaya diri. Aku yang anak kampung mulai kehilangan lingkungan. Berteman dengan anak-anak orang kaya di lingkungan sekolah justru membuatku merasa minder. Tak ada yang salah dengan mereka. Justru mereka sangat baik. Jika mereka dijemput dengan mobil, aku bisa ikut menumpang. Jika ada yang ulang tahun, aku selalu ditraktir. Tapi apa yang bisa aku perbuat untuk mereka? Makan saja aku harus bisa bersyukur dengan lauk yang seadanya, jajanku hanya cukup untuk mengganjal perut jika memang "harus" lapar.

Waktu terus berputar...

Entah bagaimana, (masih di kelas 2 SMP) aku bisa berkenalan dengan seorang pencandu narkoba. Tentu saja aku tidak mengetahuinya di awal pertemanan. Tiba-tiba aku sudah dihadapkan pada episode sakau demi sakau yang harus dijalaninya. Sebagai teman, aku harus merahasiakan ini dari orang lain karena tak ada seorangpun yang tau kalau dia adalah seorang pencandu. Kehilangan kasih sayang dalam keluarga telah menyeretnya pada dunia terlarang ini. Lalu, mengapa masa remajaku harus melewati masa seperti ini? Di saat orang lain bisa tertawa riang, aku harus menangis ketika melihatnya kesakitan.

Sedikit demi sedikit aku berusaha meyakinkannya bahwa kebahagiaan itu hanya milik orang-orang yang bisa menganggap ujian sebagai salah satu episode kehidupan yang harus dilalui, sama seperti ujian semester yang memberikan kita angka-angka dan ranking di kelas. Tapi sepertinya ini tidak mudah.

Kesabaranku hilang sudah! Di satu siang aku mengeluarkan ancaman, "Jika kamu tidak mau berhenti, aku akan ikut make!" sambil merampas jarum suntik yang baru saja dipakainya. Aku kehilangan cara. Aku putus asa.

Sampai akhirnya, aku harus menangis berkali-kali melihat usahanya untuk berhenti. Ah mengapa sakau begitu kejam? Ubun-ubunku serasa ikut tercabut setiap kali dia mengerang kesakitan hingga berkali-kali pula aku kalah, "Pake aja, ayo pake aja!" begitu bujukku setiap kali melihat dia menggeliat dan menggelepar menahan sakit. Tapi berkali-kali pula dia berkata, "Aku ingin buktikan bahwa aku lebih menyayangimu sebagai sahabatku daripada benda ini!"

Sahabat? ... Ah, akhirnya ada yang mengistimewakanku sebagai seorang sahabat hingga dia bersedia kesakitan berkali-kali hanya untuk membuatku bahagia? Katanya hanya aku yang bisa mengerti keadaan dirinya, hanya aku yang mau mendengar segala keluhan dan omelannya.. yang aku sendiri tak pernah menyadarinya.

Sejak saat itu, sahabat bukan lagi kata asing untukku. Enam bulan berjuang untuk tidak menggunakan segala yang berbau narkoba telah membuktikan bahwa dia telah menjadikan aku penting. Adakah orang di luar sana yang merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan? Bola mataku selalu saja panas jika teringat pengorbanannya untukku.

Sahabat, dimanakah kau sekarang? Aku merindukan saat-saat kita bersama melewati masa sulit dan menyimpan bongkahan rahasia... hingga sekarang hanya Tuhan, kau dan aku yang tahu... Aku menyayangimu, dimanapun kau berada...

Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA MENULIS TENTANG SAHABAT

Monday, April 28, 2008

[US-Palo Alto] What They Think about Islam

Tadi malam aku diundang salah seorang partner kerja untuk makan malam di rumahnya. Lagi-lagi aku jumpa American people yang so nice dan treat friends seperti yang seharusnya dilakukan oleh muslim. Mereka sangat hangat, ramah dan sama sekali ga dibuat-buat.
Istrinya berasal dari Perancis dan mereka punya dua orang anak, satu orang putri yang berusia 16 tahun dan putra berusia 13 tahun. Makan malam jadi semakin hangat karena ternyata sang putra sedang belajar tentang religion dan sedang memasuki pelajaran tentang Islam. Uniknya, dia ga tau apa agama gurunya tersebut karena dia mempelajari segala agama. Sampailah pembahasan tentang polygami, tentang kebebasan wanita menurut Islam dan segala seluk beluk Islam lainnya. Yang mereka pikirkan tentang Islam adalah : wanita terkungkung dan tidak merdeka dan polygami adalah hal yang mudah untuk dilakukan.
Aku terangkan semampu yang aku bisa bahwa Islam tidak pernah mengajarkan untuk mengungkung wanita tapi ada aturan-aturan yang mengikat baik laki-laki ataupun perempuan. Aku juga contohkan kalau Siti Khadijah adalah seorang pedagang sukses dan tidak pernah ada cerita beliau berhenti berdagang setelah menikah dengan Muhammad, juga tentang perjuangan Ummu Salamah, dst. Tentang polygami, sebenarnya tidak semudah yang dipikirkan oleh orang-orang, hanya sebagian laki-laki mengambil "keuntungan" dari hal tersebut. " Jelas sekali dijelaskan dalam Al-Quran :
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (An-Nisaa’: 3)
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. ” (An-Nisaa’: 129)
Akhirnya, tadi aku kembali makan malam di rumah yang sama dan sang putra berkata "Tadi pelajaran di kelasku jadi menarik, karena aku menerangkan semua yang kamu terangkan kepada teman-teman dan guruku. Dan sekarang mereka punya pandangan berbeda. You make the difference, Patra. I know Islam better now."
Itulah peranan kita, sahabat... Do our best!
*Kamis aku diminta untuk memberikan presentasi di Castilleja School tentang peranan wanita Islam di masyarakat dan hal-hal lainnya yang bikin mereka penasaran. Semoga aku mampu*

Tuesday, April 15, 2008

[US-Lynwood] Alhamdulillah.. udah di rumah mba Atik

Alhamdulillah, tanpa rintangan aku nyampe di Seattle. Semua lelah terbayar ngelihat wajah mba Atik yang cerah menjemputku. Semuanya baik-baik saja. Berangkat dari Cengkareng menuju Taipei pukul 2.40 pm, dari Taipei ke Seattle boarding pk.22.30 waktu Taipei. Ternyata dari Taipei ke Seattle lebih lama dibanding dari Tokyo ke Seattle -makan waktu 10 jam. Sebisanya aku berusaha "menipu" tubuh agar ga jetlag. Soalnya besok (16 April pk.9) dah harus ke Ocean Shores bareng Brian Atwater.
Sssst... mba Atik lagi sibuk tuh di dapur menservis tamu nya yang banyak permintaan hahaha...
Mba ku emang mba banget deh! Mother banget juga. Sembari nyiapin "meals" buat aku, anak-anak juga diserve dengan baik.
Sepanjang jalan kita belajar tentang "pelajaran" yang bisa diambil dari Amrik. Kenapa mesti alergi sama Amerika? jika banyak hal-hal yang diajarkan Al-Quran diimplementasikan di sana? Tentu saja tidak semua hal baik, tapi ga ada salahnya belajar dari yang baik, kan ?
Udah ya.. aku istirahat dulu...

Monday, April 14, 2008

Akhirnya pertanyaan itu datang juga

Dulu aku sempat becanda ama sodara dan teman-temanku bahwa aku akan menikah sebelum ponakanku sempat bertanya, "Bunda, om nya mana ?" dan itu aku perkirakan ketika ponakanku udah ngerti klo tiap orang punya pasangan. Ya... kemungkinan akan terjadi pada tahun 1010 karena pada saat itu (tahun 2004) ponakanku baru aja lahir. Rencana tinggal rencana...
Kemaren pas lagi nyante ama seisi rumah di Bintaro, tiba-tiba Rafi -ponakanku yang masih berumur 4 tahun (ulang tahun tanggal 11 April ini) bertanya (tanpa ada pendahuluan, red), "Bunda, bunda kapan baralek ?" (baralek = kenduri dalam bahasa Minang). Haaaaah...?? ga salah nih pertanyaannya?! Trus aku tanya lagi buat meyakinkan hati. "Apa Bang?". Dia mengulanginya sama persis, "Bunda kapan baralek?". Aku tergelak ... itu wajah polos banget.
Trus aku tanya lagi, "Emang penting ya bunda baralek?".
Rafi, "Iya donk Bunda, Bunda Selfi aja tadi baralek. Serius lo Abang." Dia berusaha meyakinkanku dengan ngasih perbandingan. Tadi siang Selfi -sepupunya lala (adik iparku)- dilamar. Ternyata Rafi belum bisa bedain lamaran ama pesta pernikahan.
Ya ampuuuuuuun, ini sama sekali tidak sesuai dengan rencana hahaha... mana orang yang tadinya ada dalam doaku udah mengundurkan diri pula. Aku harus hunting secepatnya nih. Engkau mengerti kan Rabb ? Amin.
Rafi.. Rafi... Bunda harus baralek ama siapa ?

Tuesday, March 11, 2008

Love Story from US

Before I write this story, I'd like to inform you that I dont care what people think about American people. I just want to tell you what kind of feeling that I have for my friends in that country.
I am grateful God sending me friends from everywhere. He knows that I can not live alone, he knows that I have so much love to share because He has created love since I was born.
I still remember at the first time I decided to sail with volunteers from US, called Surfzone Relief Operations, I had conversation with some friends
F : "Dont you feel afraid sailing with people who you dont know?"
M : "Should I ?"
F : "You know they are from America"
M : "Then, what ? What's wrong about that?"
F : "I hate America, they have been attacking our brothers and sisters in Afghanistan, in Iraq, in everywhere they like. They are so cruel!"
M : "I agree with you, I dont like war at all! but I believe that mostly people in America dont like war eithter. They are human being like us. I have no reason to hate somebody that I dont know. For me, as long as somebody treat me nicely, he/she is my friend ever!"
F : "I still cant believe that you will go with them"
M : "Whatever, I like to have friends... because God asks me to love every creature in this world, and I love Allah very much. I always know what the best for me because I know that Allah is with me at anytime."
Believe or not, I have true friends from US. They are so nice. How can I hate them ? They help me to keep my faith in place. Even though they are not moslem, they always remind me to pray on the prayer time. It is so touch when they say, "Dinda, it is time to pray! Dont be a bad moslem!" Then, I have to pray right away because they just know that I should pray on time. Wow, so wonderful friends, right ?
That's way I love them because Allah have sent them to love me.
Thank you

Friday, February 29, 2008

Aku yang tak biasa

Belakangan ini banyak sekali hal yang "nakal" dan doyan gangguin pikiranku secara bertubi-tubi. Aku sudah lama sekali menyetel tubuh ini untuk tidak menangis ketika ada masalah "JANGAN PERNAH MENANGIS KLO ADA MASALAH, GA AKAN SELESAI DENGAN TANGISAN!" Gitu selalu sugesti yang aku terapkan dan ternyata BERHASIL !
Sekarang aku malah kena batunya. Emang benar setiap ada masalah AKU GA BISA NANGIS SAMA SEKALI padahal dalam hati rasanya sesaaaaaaaaaaaak banget pengen dilepasin. Ih, sebel juga ga bisa nangis karena ada masalah.
Anehnya, aku gampang banget nangis ngelihat hal-hal yang emang "touching" bahkan jarang lo aku ga nangis nonton Three Wishes, Nannya 911 dan film-film yang emang nyentuh banget ke perasaan. Ngelihat ibu cium anaknya aja aku bisa netesin air mata. Tapi ketika diperlukan, air mata itu sama sekali ga bisa keluar. Huh.... !
Untung aja, aku masih bisa nulis dan beban itu bisa lepas setengahnya. Dan masih sangat bersyukur aku punya sahabat-sahabat setia yang ngerti aku banget. Walo kadang ga sepenuhnya bisa menghibur karena "ada seorang sohib yang suka sama kisahnya ma aku" ... jadi semuanya sama, dari mellow, pinky-pinky ampe patah hati, hahaha.....
Aku memang tak biasa. Begitu kata teman-temanku. Bisa cepat melupakan masalah dan kembali ceria. Hihi mereka ga tau aja dalam hati seperti apa but that's a compliment for me. Thank you, sobat!
Makasih untuk True Friend ku yang selalu bisa bikin aku bersinar lagi.... You are the best!

Wednesday, February 13, 2008

Nostalgia Edelweiss

Sabtu, 10 Februari 2008 pk. 16.00

HP ku berdering, tertera nama Anos di situ.  Aih senangnya! Anos bilang kalau Anda (Iskandar) salah seorang teman seangkatan kami juga sedang berada di Padang bersama keluarganya (istrinya Ana dan putrinya Yasmine). Entah kenapa, walaupun udah sepuluh tahun kami berpisah setelah menamatkan kuliah, atmosfir “perkuliahan” itu tetap ada.
Kalau orang lain akan bilang masa-masa SMA adalah masa paling indah, seperti lagunya Paramitha Rusadi “Nostalgia SMA kita.... masa-masa remaja ceria.. masa paling indah...”. Hmm... buatku masa kuliah lebih indah. Kami disatukan dengan adanya OPSPEK yang mengesalkan, menggelikan sekaligus mengharukan. Kata senior-seniorku dulu, karena kuliah di Biologi dituntut untuk berada banyak di lapangan, maka kami harus ditempa sedemikian rupa agar tidak lemah dan tidak mudah dilemahkan.  Hingga akhirnya kami menikmati OPSPEK tidak lagi sebagai bentuk perpeloncoan tapi sebagai piknik akhir minggu. Enam bulan lamanya dalam hardikan kasih sayang senior telah menumbuhkan rasa kebersamaan dan persahabatan yang dalam di antara kami.
Lagu YANG TERLUPAKAN – Iwan Fals dan bunga EDELWEISS menjadi lambang kasih sayang di antara kami (Duh, jadi kangen deh ama semua Edelweis... how are you doing now?).
Sehingga ada semacam kalimat “kutukan” bahwa “TAKKAN ADA SATUPUN ANGGOTA EDELWEISS YANG AKAN BERTAHAN KALAU JADIAN, KARENA KITA SEMUA ADALAH SAUDARA!”
Wallaahu a’lam kenyataannya memang seperti itu. Beberapa orang teman-teman yang mencoba untuk menjalani kisah kasih harus pasrah ketika “kutukan” itu menjadi kenyataan. Alhasil, memang tak ada seorangpun berhasil menuju pelaminan hingga rasa persaudaraan itu kian kental. Silaturahmi tetap bisa dibangun dengan baik walaupun ada sejumlah teman berjudul “mantan” dari yang lainnya. Enam tahun ditempa oleh terasingnya kampus dari hiruk pikuk dunia dan “ranjau-ranjau” rimba belantara telah membuat kami DEWASA baik dalam berpikir maupun bertindak. Dalam kesempatan reuni, nostalgia kisah kasih tersebut jadi bahan pemeriah suasana, ledek-ledekan pun tak terhindari lagi (jadi kangen banget nih... ).
Kalau orang lain masih bisa mengatakan “Aku ga suka makanan ini, ga enak”, kami bahkan telah menjudge bahwa semua makanan itu enak (selagi masih halal). Karena sering menjelajah hutan menghantar kami pada rasa syukur tak terperi dengan semua pemberian Sang Khalik, karena tak jarang kami makan “makanan basi”.
Sebagai Biologist, Kuliah Lapangan adalah salah satu pendukung perkuliahan karena kami harus mengenali hewan, tumbuhan, pengklasifikasian, cara hidup, pertumbuhan dan perkembangannya dan itu hanya bisa dilakukan dengan melihat langsung ke habitat mereka. Hal itu menyebabkan kami harus menjadi petualang dan penjelajah rimba raya ssttt... dengan dibekali ilmu jelajah hutan seadanya menyebabkan insting kami terlatih sedemikian rupa, Alhamdulillah. Alat bantu yang biasanya kami bawa hanyalah parang dan tali temali. Jika terpisah jauh, kami tinggal berteriak sekencang-kencangnya melalui suara perut “Oooooouuuuu.....p!” sebagai tanda minta ditunggu. Komunikasi yang terasa sangat indah di saat hanya Allah dan teman seperjalanan yang bisa diandalkan.
Kembali ke masalah makan. Tak jarang kami harus pergi ke rimba-rimba di Kabupaten lain seperti Pasaman, Padang Pariaman, dan sebagainya sehingga untuk logistik diadakan pembagian tugas. Sebelum berangkat, ada beberapa orang yang ditugaskan untuk memasak lauk pauk sebagai bekal. Kadang kala pengemasannya terburu-buru dan ketika perut sedang lapar-laparnya bau bekal tersebut menyeruak dan mematikan selera dalam sekejap tapi sekali lagi, mau cari makan kemana ? Maka, makanan “basi” tersebut telah ikut membantu meningkatkan kekebalan tubuh para Edelweiss (maksa sekali ngeles nya). Atau tak jarang, di tengah penjelajahan turun hujan deras. Lauk yang tadinya menggiurkan seperti “Nasi Dendeng Balado” jadi nasi putih berkuah hujan dan daging lunak yang pucat.
Sekali lagi, dalam langkah kebersamaan, semua itu terasa enak, enak dan enak. No complaining about food!
Sekarang, walaupun sudah saling berjauhan, kami masih bisa tetap bertemu muka dengan adanya email angkatan dan blog angkatan http://bio91.multiply.com (jadi klo mo lihat Patra yang masih culun, boleh kok berkunjung ke sini). Setiap membuka halaman ini, sejuta kenangan masa-masa indah di perkuliahan akan menyeruak, menghadirkan getir, senyum dan tawa (I still have you in my heart, friends).
Aku sangat bersyukur dikaruniai teman-teman yang baik hati. Kami tak pernah merasa dibatasi oleh jabatan, pangkat, gelar atau apapun asesories dunia lainnya. Persahabatan yang terjalin hanyalah karena ingin bahagia bersama karena kita sama! Sama-sama hamba Allah. Jadi, ga akan ada yang alergi klo diajakin reunian, malah jadi kebutuhan mutlak! Makasih ya Rabb...
Seperti malam itu, ketika Anda dan Anos bertanya, “Udah berencana menikah, Pat?”. Terang donk jawabku, “Udah, insya Allah di bulan Juni tahun ini” sesuai dengan resolusi 2008 yang kubuat (teteeeep......!). Dan.... mereka memang bukan orang kebanyakan, mereka adalah orang-orang spesial yang menjadikan aku istimewa seperti sekarang ini. Kata-kata yang keluar dari lisan merekapun mengandung kebijaksanaan yang membuatku semakin berterimakasih dengan kehadiran mereka.
Anda melanjutkan kisahnya menemukan pendamping yang  tidak semudah berteori, Anos pun sama dan akhirnya mereka mengatakan, “Percayalah Pat, jodoh itu bukan kita yang mengatur. Segimanapun kita menjalin sebuah hubungan tapi kalau bukan itu jodoh kita tetap aja ga akan jadi. Suatu saat akan ada “klik” di hati yang membuat kita berani membuat keputusan untuk menikah. Itulah jodoh kita.” Jadi terharu.... 
Makasih sobat, nasehatmu sangat menyejukkan hati di saat pertanyaan-pertanyaan lain mengacaukan perasaan. You are really my best friends. Semoga kita dipertemukan lagi di surga Allah, bahagia dunia dan akhirat. Amin.

Polygami Sakinah

Ini bukan mau ikut-ikutan cerita tentang polygami atau berteori tentang polygami. Aku selalu berharap kepada Allah agar dijauhkan dari ujian hati yang satu ini. Bukan berarti juga aku anti polygami tapi aku sadar kalau aku belum bisa mencapai tingkat keimanan seperti isteri-isteri Rasulullah. Bahkan, Siti Aisyahpun tak bisa menyembunyikan kecemburuannya kepada Bunda Khadijah yang tak pernah ditemuinya.
Namun ternyata Polygami sakinah itu memang ada, benar-benar nyata! Tentu saja terlepas dari kecemburuan-kecemburuan atau konflik yang hanya mereka saja yang tahu (manusiawi sih...).
Ceritanya, aku dan tiga sobatku : Evonk, Ceceu dan Umaya berkunjung ke rumah Mas KR dua minggu yang lalu, tepatnya ke rumah Mas KR dengan istri keduanya Mba NN. Itu kali pertama kami berkunjung setelah kira-kira tiga tahun yang lalu mas KR menikah lagi.
Berselang  15 menit setelah kedatangan kami, mba T sang istri pertama menyusul dengan enam orang anak. Hebring! Tak terlihat wajah kesal atau jenis ketaknyamanan lainnya.
Oh ya, mba NN tengah hamil anak kedua setelah sebelumnya melahirkan anak pertama hampir berbarengan dengan mba T yang melahirkan anak keenam. Bahkan dari cerita mas KR, mereka bergantian menjaga! Ketika Mba NN harus dioperasi caesar, mba T dengan sabar nungguin mba NN dan belum cukup satu bulan jaraknya, giliran mba NN yang nungguin mba T yang juga harus dioperasi caesar. Cerita mas KR pun diamini oleh mba NN dan Mba T ditingkahi dengan canda-canda yang hangat.
Mas KR terlihat sangat arif di antara kedua istri dan anak-anaknya. Panggilan “Cinta” tiap sebentar mengalir dari wajahnya yang tirus namun tegas. Kharisma kepemimpinannya telah menggiring kedua istrinya untuk ikhlas menjalani takdir yang telah diperuntukkan Allah bagi mereka. Ah.... aku rasa aku takkan pernah sanggup ya Rabb...
Lalu, mereka sudah disibukkan oleh anak-anak yang berseliweran. Terlihat betapa begitu bahagia dan tulusnya mereka mengasuh putra-putri yang berjumlah total tujuh orang itu tanpa sedikitpun terlihat pilih kasih. Anak-anak itupun patuh kepada dua orang Ibu mereka dengan kadar yang sama. Ah, aku hanya bisa menikmati pemandangan itu dengan kalimat tahmid, ku rasa teman-temanku juga begitu.
Beranjak dari rumah mas KR, di dalam taxi tak henti-henti kata Subhanallaah meluncur dari bibir kami berempat. Ternyata ada ya Polygami sakinah ? Tak disadari, kami berebutan memberi pujian untuk mas KR dan keluarga besarnya. Benar-benar calon penghuni syurga! Mereka mampu menyingkirkan keegoisan atas rasa ingin memiliki yang sesungguhnya tak pernah ada di dunia ini.
Lagi-lagi...  aku berharap ujian itu tak menghampiri hidupku walau aku telah melihat contoh Polygami sakinah. Ampuni aku ya Rabbi...  aku benar-benar belum sanggup seperti mereka...
Catatan :
Anda salah besar kalau membayangkan mba NN lebih cantik dan lebih muda dibanding mba T. Yang artinya mas KR menikah tidak karena “kecantikan” atau “kemudaan” mba NN. Biarlah hanya mereka yang tahu alasan dan tujuannya.

Monday, February 11, 2008

Bertemu mantan ?

Pada pernah ga sih bertemu sama mantan kekasih? Trus gimana perasaannya ? Apa hubungan silaturahmi tetap bisa dijaga dengan baik? Atau malah jadi berantakan ? Sharing yuuuuk....
Aku mau cerita ini hanya untuk berbagi ibrah ma teman-teman karena buat aku masa lalu ga harus dihapus pun tak harus membayang-bayangi kehidupan masa sekarang.
Takkan pernah ada KITA yang sekarang ini tanpa melewati perjuangan -apapun bentuknya- di masa lalu. Menyakitkan atau membahagiakan, masa lalu lah yang membuat kita bisa menjadi pribadi KOKOH seperti sekarang ini (insya Allah....).
Minggu kemaren aku bertemu dengan dia –seseorang yang berarti  di kehidupanku,  terutama di masa-masa SMA.
Catatan : aku tidak mau memakai istilah PERNAH BERARTI, karena setiap orang yang pernah hadir di hidupku, buatku selalu akan punya arti dengan porsinya masing-masing
Aku ga akan membuka lembaran itu! Biarlah tetap tersimpan rapi di salah satu sudut memori. Hanya tak pernah terbayangkan hubungan silaturahmi ini bisa kami jaga dengan baik dalam bingkai persahabatan yang indah, yang tanpa lagi melibatkan perasaan “itu”. Hubungan yang saling menghargai dan saling mendukung untuk kebaikan masing-masing. Lima belas tahun! Cukup lama bukan ? Bahkan aku dan istrinya (yang juga teman SMA ku) juga bisa ngobrol dengan leluasa tanpa diganggu oleh kecurigaan.  Alhamdulillaah...
Dalam hati terpatri bahwa aku harus memahami bahwa setiap orang punya masa lalu. Maka aku akan sangat menghargai jika suamiku nanti juga ingin menjaga silaturahmi dengan orang-orang yang pernah berarti dalam hidupnya. Selayaknya aku bersyukur karena mereka ikut berperan untuk menjadikan suamiku seperti harapanku (hehehe aku yang ngotot pengen nikah tahun ini. Amin). 
“Siapapun orang yang hadir di masa lalumu, baik atau jahat, dia ikut berperan menjadikanmu seperti sekarang ini” (sms yang aku dapat dari seorang sahabat sehingga aku bisa menghargai setiap episode hidup yang aku lalui, terimakasih).

Terimakasih buat dia yang telah mampu menempatkan silaturahmi ini dalam wadah yang tepat.
Terimakasih juga buat istrinya yang mengerti bahwa aku dan dia tetap ingin bersahabat.           
Terimakasih buat diriku sendiri yang mampu menjaga murninya persahabatan di jalan yang diridhai Allah.
Terimakasih buat dia yang sekarang membuat hari-hariku selalu indah.... ehem...
Terimakasih buat teman-teman yang selalu menjaga langkahku... You are the best!

Friday, February 1, 2008

Dari Ruang Tunggu Kedubes Amerika

Senin tanggal 28 Januari 2008, ruang tunggu kedubes Amerika di Jakarta sangat full. Hmmm...  siapa bilang Indonesia miskin ? Jumlah orang-orang yang akan mengadakan perjalanan ke Amerika aja sebanyak ini. Ga hanya untuk perjalanan dinas tapi juga buat liburan pribadi. Ah, naif juga kalau aku berpikiran seperti itu karena pasti mereka adalah orang-orang yang bisa digolongkan kaya.
Di antara orang-orang tersebut, aku pasti terlihat menyolok karena aku satu-satunya yang mengenakan jilbab pada saat itu. Degup jantungku berdetak kencang ketika satu per satu wajah mendung melintas karena permohonan visa mereka ditolak, bahkan ada yang ngedumel dan mengeluarkan sumpah serapah.
Lalu, telingaku menangkap obrolan sekelompok ibu-ibu di belakangku.
"Ini kali kedua aku apply visa lo, dulu aku pernah ditolak." kata seorang ibu
"Aku juga", sahut yang satunya
"Makanya kali ini aku lepas kerudung karena kata orang kalau pakai kerudung sulit dikabulkan visanya." kata yang lainnya lagi.
"Apalagi kalau kerudung panjang dan tertutup rapat begitu." Duh, entah kepada siapa kalimat ini ditujukan tapi dadaku sempat bergejolak. Ada rasa marah. Bukan karena aku merasa dijadikan objek obrolan tapi alangkah mudahnya dia mempermainkan aqidah. Segitu pentingnyakah ke Amerika sehingga kerudung harus dilepas? Lalu, apakah sebesar itu juga ketakutannya ketika nanti Allah tidak mengabulkan permohonan untuk memasuki syurga-Nya?
Ternyata, obrolan itu memang ditujukan untukku. Sebelum sampai giliranku, aku pengen ke toilet dan aku ga nyangka kalau dua orang dari kelompok ibu-ibu itu berpapasan dan bertanya kepadaku, "Mba, ga takut visanya ga diapprove karena pakai jilbab?"
Aku berusaha untuk menenangkan diri (walau ada dongkol sedikit), "Engga bu, karena saya sudah pernah ke Amerika dan tidak menemui kesulitan sama sekali. Kalau Allah mengizinkan, saya pasti bisa berangkat." Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Allah Memang Maha Bijaksana, ibu yang bilang "buka kerudung" itu ternyata tidak bisa mendapatkan visa, sementara aku bisa mendapatkan visa dalam waktu tidak lebih dari dua menit. Aku hanya tersenyum karena rasa syukur yang membuncah. Tentu saja di sini aku bicara tentang profesionalisme kedubes Amerika yang ternyata tidak benar kalau ada diskriminasi muslim atau non muslim. Kalau alasan ke Amriknya jelas, insya Allah ga ada hambatan.
Terimakasih Allah... Engkau selalu ada bersamaku...
Aku tak pernah takut apapun, hanya satu yang aku takutkan... jika AKU TIDAK BISA MENEMUI ALLAH DALAM KEADAAN TERBAIK.

Sunday, January 27, 2008

Alhamdulillah...udah dapat visa nya

Benar-benar deg-degan ngurus visa ke Amrik kali ini karena harus ngurus sendiri. Semua dokumen udah disiapin oleh sekretarisku tercinta, tapi ada satu dokumen terlupa, rekening koran yayasan! Sebenarnya udah dikirim sih ama Direktur Finance lewat email tapi lagi-lagi hobiku yang suka jalan sana-sini bikin hal tersebut ga jadi prioritas.
Pagi tadi makin deg-degan karena hari ini jenazah Pak Harto akan diberangkatkan dari Cendana, kebayang aja bakal macet. Ya udah, habis shalat subuh, berbekal bismillah dan segala doa minta pertolongan.. plus dibekalin sarapan ma evonk serta doa dari mama, papa, Evonk, Ceu2, Bi Maya dan teman-teman lainnya aku berangkat.
Subhanallah, pertolongan Allah emang sangat dekat. Aku cuma diinterview dua menit tanpa memperlihatkan dokumen apapun kecuali paspor diiringi wajah ramah sang penginterview... dapat deh visanya.
Mba Atiek, insya Allah kita jumpa lagi ya.... ? Julia .. mudah-mudahan kita bisa ketemu di Seattle ya ?
Bahagianya pagi ini

Monday, January 21, 2008

HAPPY BIRTHDAY TO ME

HAPPY BIRHTDAY TO ME....
Kurang satu tahun lagi jatah hidup di dunia ini
moga aku bisa memaknai dengan sabar dan syukur
terimakasih buat teman-teman yang udah ngasih selamat baik lewat sms, telfon ataupun PM
Vonk, you are the first in this year !!
Mohon doakan ya teman-teman di sujud malammu, moga resolusi 2008 ku terkabul dan mendapat ridha dari Allah. Amin


Monday, January 14, 2008

MENIKAH DI BULAN JUNI, Insya Allah

Di kantor terjadi KEHEBOHAN karena aku pampangin resolusi 2008 di Mading. Anehnya dari 9 resolusi yang termpampang, hanya poin kedua : MENIKAH DI BULAN JUNI yang jadi perhatian teman-teman. Semua sibuk nanyain buat klarifikasi. Macam-mcam pertanyaan yang diajukan, mulai dari siapa orang yang jadi "sang calon", sampai pada sebentuk kekhawatiran kalau-kalau rencana tersebut batal alias ga jadi sementara sudah terlanjur dipublikasikan.
Aduh! Kalau hidup selalu dibayang-bayangi tanggapan orang lain kapan bisa maju ? Setidaknya aku percaya kalau kesuksesan itu diawali dengan  kekuatan sebuah rencana.
Kalau aku merencanakan nikah di Bulan Juni, kan satu-satu nya kekuatan hanya Allah, jadi kenapa harus takut ? Maka, doakan aku ya teman.....