Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Saturday, May 8, 2010

“Ketersinggunganku” atas Kesetaraan Gender

Mohon maaf jika ada yang tidak sependapat dengan  tulisanku ini. Setiap orang dijamin kebebasannya dalam mengeluarkan pendapat.

Hari ini aku dicecar beberapa pertanyaan seputar keterlibatan kaum perempuan dalam penanggulangan bencana oleh seorang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Bukan mahasiswanya yang ingin aku bahas tapi konteks kesetaraan gender itu sendiri.

Inilah daftar pertanyaan orang-orang yang hampir selalu ditanyakan kepadaku dalam berbagai kesempatan. Silakan mengkritisi jawaban yang aku berikan.

  1. Sebagai seorang perempuan, apakah anda cukup dihargai oleh kaum laki-laki ketika anda melaksanakan tugas?

Jawabku :

Penghargaan seseorang diperoleh bukan karena kita perempuan atau laki-laki tapi apakah kita bisa menghargai orang lain dengan cara komunikasi yang sesuai. Pada dasarnya, semua manusia ingin dihargai, siapapun dia. Walaupun laki-laki tapi cara berkomunikasinya membosankan, melecehkan, tidak cerdas dan tidak santun, orang juga tidak akan respek. Nah, sudah jelas bukan kalau bukan gender yang menentukan seseorang akan dihargai atau tidak?

  1. Berapa perbandingan jumlah staf laki-laki dan perempuan di KOGAMI? Apakah berimbang?

Terus terang, aku bingung sekali dengan pertanyaan ini. Kenapa sih perbadingan ini menjadi hal penting yang harus ditanyakan? Buat apa aku memaksakan jumlah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki atau sebaliknya kalau mereka tidak mampu mempunyai komitmen, komptensi yang sesuai, dedikasi dan loyalitas? Sebagai organisasi sosial, KOGAMI membutuhkan orang-orang yang mengerti arti PENGABDIAN.  Jadi, mau perempuan atau laki-laki, silakan saja … kalau sesuai dengan kebutuhan dan cita-cita organisasi.

Jawabku biasanya :

Bagi saya selaku pimpinan KOGAMI, bukan jumlah yang menentukan sebuah organisasi telah mengimplementasikan kesetaraan gender atau tidak, tapi bagaimana sebuah organisasi bisa memanfaatkan peluang dari minat dan bakat seseorang untuk mencapai visi dan misi organisasi. Dan tanpa sengaja, saat ini jumlah karyawan dan relawan di KOGAMi sangat berimbang antara laki-laki dan perempuan karena memang merekalah orang-orang terpilih sesuai dengan kebutuhan organisasi yang berjuang untuk masyarakat.

  1. Apakah di setiap perencanaan pengurangan risiko bencana di komunitas dampingan, KOGAMI selalu mempertimbangkan jumlah keterlibatan kaum perempuan?

Duh, sebenarnya aku agak kesal untuk menjawab pertanyaan ini. Lagi-lagi, kenapa kehadiran atau jumlah sih yang menjadi ukuran? Kenapa bukan perananan dari kaum perempuan dan laki-laki itu sendiri?

Apakah dengan banyaknya kaum laki-laki yang hadir di setiap perencanaan selalu berarti pengabaian terhadap kaum perempuan?

Untuk apa kaum perempuan banyak hadir tapi nyatanya mereka gelisah mengingat apakah anak-anak di rumah sudah makan, sudah mengerjakan Pe-Er atau hadir hanya untuk mengembangkan bakat ngerumpi sehingga tidak menghasilkan apa-apa.

Jawabku biasanya :

Buat KOGAMI, pemahaman kaum perempuan dan laki-laki tentang bagaiamana menjalankan peran secara bertanggungjawab itu lebih penting daripada sekedar jumlah kehadiran.  Kesadaran kaum laki-laki bahwa mereka harus memberikan kepercayaan kepada istri untuk mengambil keputusan di saat gempa besar terjadi; evakuasi atau tidak (sesuai dengan perencanaan keluarga yang mereka buat) itu lebih besar nilainya dibandingkan hanya sekedar kehadiran. Kepahaman kaum perempuan bahwa mereka mempunyai kemampuan sendiri dalam mengatasi masa-masa sulit .. buat KOGAMI, itu jauh lebih penting!

Aku terusik dengan praktek-praktek kesataraan gender yang seolah-olah menempatkan perempuan sebagai kaum yang lemah, tak terdidik dan tak berdaya. Pendapat ekstrimku, sebagai perempuan kita PANTANG mengemis-ngemis untuk dilibatkan dalam sebuah aktifitas, PANTANG untuk dikasihani karena menganggap diri lemah.  Untuk apa minta jatah kalau TAK BERANI BERTANGGUNGJAWAB, kalau SELALU PUNYA ALASAN untuk TIDAK MENUNAIKAN AMANAH? Amanah itu tidak saja di pekerjaan tapi juga di rumah tangga. Sadarlah wahai kaumku!

Begitu juga dengan laki-laki yang memang adakalanya melecehkan perempuan, sadarlah bahwa kalian lahir dari rahim seorang Perempuan. Tanpa kelahiran, kalian takkan pernah ada!

Seandainya kaum muslimin dan muslimat mau lebih jauh mendalami pesan-pesan Sang Khalik melalui firman-firman-NYA dan mengambil contoh dari kehidupan Rasululllah, tentulah topik kesetaraan gender ini tak perlu muncul ke permukaan.

Dalam Alquran, semuanya diatur dengan indah, mulai dari hukum pernikahan, perceraian, pembagian harta waris, hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan. Lalu, kenapa harus jadi persoalan? Bagian mana yang kurang?

Bagian yang kurang adalah : keseriusan seorang manusia untuk mau menjadikan Al-Quran sebagai rujukan dan pedoman dalam setiap pengambilan keputusan.

Terakhir. Muslimah yang cerdas adalah muslimah yang bisa bersyukur atas kelebihannya dan menjadikan kekurangannya sebagai media untuk menghargai kelebihan orang lain. Itu saja! Sederhana, bukan?

 

Silakan renungkan aya-ayat Allah ini :

"Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain…” (Ali Imran 195)

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At Taubah 71)

 

Selanjutnya, pernahkah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW berpesan  bahwa:

” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari)

“Tidaklah termasuk beriman seseorang diantara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana is mencintai dirinya sendiri.”  ( H.R Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i )

Wednesday, December 16, 2009

Pusat Rawatan Herbapaty Warisan

Pusat Rawatan Herbapaty yang kini berubah nama menjadi Pusat Rawatan Islam, klinik kecil yang terdapat di No. 15 dan 15A, Jalan Anggerik Doritis BB 31/BB, Seksyen 31 Kota Kemuning 40460 Shah Alam Selangor Darul Ehsan memang termasuk Klinik yang unik karena hanya memiliki seorang dokter yang akrab dipanggil “Cik Man” yang dengan karunia Allah beliau mampu mengobati segala macam penyakit yang dikeluhkan pasien.  Tak heran kalau dari Senin sampai Kamis klinik ini selalu disesaki oleh hampir seratus orang setiap harinya.

Bagi teman-teman yang ingin berobat ke sana atau yang ingin mengantar saudara berobat ke sana, maka ini syaratnya :

  1. Harus sabar ! Karena ada kalanya Cik Man tidak masuk klinik tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada stafnya. Walaupun sudah bikin janji, janji tersebut bisa saja dibatalkan. Tidak sedikit pasien yang datang dari jauh kecewa karena berkali-kali gagal berobat disebabkan sang dokter satu-satunya Cik Man tak ada di tempat.
  2. Harus percaya ! Percaya bahwa Allah menitipkan “keistimewaan” kepada Cik Man sehingga beliau bisa mengetahui bermacam penyakit hanya dengan memegang pergelangan tangan tanpa harus bertanya kepada pasien. Percaya atau tidak, semua penyakit yang “terbaca” oleh Cik Man jika dibandingkan dengan hasil diagnose rumah sakit akan sama persis! Tapi beliau hanya butuh 30 detik, ditambah 30 detik lagi memaparkan tindakan yang harus dilakukan; dioperasikah, mengkonsumsi obat saja atau tidak dilakukan tindakan apa-apa (jadi Cik Mat juga tidak mau memaksa melakukan apa yang beliau tidak bisa lakukan).
  3. Harus tawakal! Bahwa Cik Man juga manusia biasa yang bertindak sebagai perantara untuk kesembuhan penyakit.  Kadang-kadang penyakit tidak serta-merta sembuh karena memang pengobatan beliau bukan sulap atau “magic” tapi memang pengobatan yang realistis. Jadi, mungkin saja harus datang beberapa kali untuk menyembuhkan satu penyakit, seperti : kanker.  Jadi, tetap berdoa kepada Allah dan terus berikhtiar untuk kesembuhan.

Apa yang harus dilakukan jika ingin berobat ke sana ?

  1. Untuk yang dari luar Malaysia, tentu saja pastikan anda punya paspor, punya NPWP (untuk bebas fiskal) dan bawa uang yang cukup untuk akomodasi dan transportasi.  Catatan : harus membawa saudara! Untuk yang akan operasi, tidak bisa datang sendiri karena ada surat persetujuan pengobatan yang akan ditandatangani oleh ahli waris.
  2. Telepon klinik sebelum memutuskan berangkat ke sana! Walaupun sekali lagi, ini tidak bisa memastikan bahwa pengobatan bisa dilakukan tapi setidaknya jika memang Cik Man tidak ada. Tapi lebih baik sedikit tahu daripada tidak tahu sama sekali. Ini nomor telpon klinik : +60(03)51210098 atau +60(03)51220366. Teleponlah sekitar pukul 13.00 – 15.00 WIB karena pagi-pagi staf klinik sangat sibuk melayani pasien. Lebih baik menelfon pada hari Senin karena menurut kebiasaan, Cik Man jika datang pada hari Senin, berarti selama seminggu beliau berada di tempat tapi jika hari Senin sudah tidak ada, maka berkemungkinan beliau tidak akan masuk selama satu minggu bahkan sampai satu bulan.
  3. Jika staf klinik mengatakan bahwa Cik Man ada, mulailah pesan tiket pesawat setidak-tidaknya berangkat pada hari Rabu jika tidak dapat pesawat untuk hari Selasa (sebaiknya hari Selasa), karena jika tiba di klinik lewat dari pukul 07.30 pagi berarti kesempatan  bisa berobat pada hari itu sangat tipis! Orang-orang sudah mulai berdatangan mulai dari pk. 05 pagi, tidak terkecuali untuk yang sudah bikin janji (datang kedua kali dan seterusnya).
  4. Bagi yang tidak punya saudara di Shah Alam dan sekitarnya, mulailah “booking” hotel. Ada dua hotel yang biasa digunakan oleh pasien untuk menginap : Hotel Subang Jaya : +60(03)56330128 atau Sri Muda Corner (SMC) Hotel : +62(03)51246503. Kedua-dua hotel ini terletak di tempat yang strategis, terutama berdekatan dengan tempat makan. Tapi SMC lebih dekat ke klinik, kurang lebih 15 menit pakai mobil atau 15 ringgit dengan taxi sementara Hotel Subang Jaya berjarak kurang lebih 30 menit yang berarti ongkos taxi juga bisa lebih mahal. Atau yang lebih mudah lagi telepon seorang penyedia jasa bernama Anwar +60176631377 atau Ina : +60123776158. Oh ya, kamar di hotel tersebut rata-rata 65-100 ringgit tergantung berapa orang yang akan menginap. Dan, yang paling baik adalah : punya saudara atau teman yang baik hati dan bersedia untuk ditumpangi (special thanks to my good friends : Bolly and Pipin)
  5. Supir taxi biasanya tidak familiar dengan lokasi klinik, jadi lebih baik menghubungi perantara (jika ditanya ke staf klinik, maka staf klinik pun akan merekomendasikan “orang” ini. Coba saja tanya “Ada yang bisa jemput saya ke hotel dan antar saya ke klinik tak?”), tapi lewat aku juga boleh tanya nomor kontaknya kok. Kalau akan diantar saudara, lebih baik survey lokasi dulu pas hari kedatangan.
  6. Datanglah sebelum pukul 7 pagi  waktu setempat karena biasanya pk.7 pagi sudah banyak yang berdatangan (lebih pagi lebih baik, terutama untuk yang pertama kali ingin check up/tahu penyakit). Buat nama di kertas yang disediakan. Ada di tembok di depan klinik. Karena pasien pertama kali datang akan dipanggil/diurutkan berdasarkan daftar nama yang telah diisi. Sediakan paspor atau kartu identitas!
  7. Klinik dibuka pukul 7.30 Waktu setempat. Jangan meninggalkan klinik sebelum nomor antrian diberikan oleh petugas klinik karena kesempatan berobat bisa hilang! Staf klinik akan memberikan nomor antrian sesuai dengan urutan pada kertas yang telah diisi. Paspor akan disimpan sampai check up selesai –untuk digunakan sebagai kelengkapan administrasi.
  8. Pengobatan akan dimulai pk. 8.30, jadi masih ada kesempatan sarapan bagi yang belum sarapan atau lebih baik tidak sarapan bagi yang akan menjalani operasi di sekitar wilayah perut.
  9. Untuk yang bernomor urut 1-5 (baik untuk pertama kali datang, untuk yang akan operasi/rawatan/sudah bikin janji, untuk yang follow up) segera menuju ruang tunggu berobat (lantai 2) untuk menunggu giliran dipanggil jika tidak ingin “disalib” orang lain.
  10. Bersabarlah sampai giliran dipanggil karena ruang tunggu yang sangat sempit. Jika hanya check-up, usahakan pengantar (yang tidak akan berobat) tidak berada di ruang tersebut. Tapi jika akan operasi, maka saudara / ahli waris harus berada bersama-sama pasien. Dan jangan buat bising alias jaga ketenangan.
  11. Pasang telinga baik-baik karena kadangkala nama pasien hanya dipanggil satu kali! Di lantai 2 ada empat ruangan yang difungsikan sekaligus. Ruang 1 biasanya untuk pasien pertama kali datang, ruang 2-4 untuk operasi. Ruang 4 sesekali digunakan untuk “dressing” (cek bekas operasi sehari setelah operasi dilakukan).
  12. Setelah bertemu Cik Man (baik untuk check up, operasi, dressing, follow up), turunlah ke lantai dasar untuk melakukan pembayaran. Bagi pasien check-up buat janji untuk operasi, dst. Biasanya operasi dijadwalkan satu minggu ke depan setelah check-up dilakukan dan tak bisa ditawar-tawar kecuali Cik Man (dokter) menyatakan bahwa pasien dalam keadaan kritis dan harus segera dioperasi.  Biaya check-up hanya RM 20 (Des 2009,red) tapi biaya untuk obat-obatan sebelum operasi bisa mencapai RM400/orang tergantung jenis penyakit.
  13. Tanyakan kepada staf klinik perkiraan biaya berdasarkan jenis operasi yang akan dilakukan. Karena adakalanya pasien harus menjalani tiga jenis operasi dan dipersilakan memilih operasi mana yang ingin dilakukan terlebih dahulu.
  14. Jika prosedur di atas bisa dijalani dengan baik, maka untuk operasi, dressing dan follow up pun akan lancar karena prosedurnya sama.

 

Hal-hal yang juga sebaiknya diketahui :

  1. Untuk mendapatkan visa di Malaysia, biasanya penumpang pesawat ditanyai tiket pulang, maka sewaktu memesan tiket, pesanlanlah tiket pulang dengan tips berikut : Jika check up hari Senin, maka berkemungkinan operasi adalah hari Senin atau Selasa minggu depan, dst. Sehari setelah operasi, akan ada dressing (mencek bekas operasi dan tukar plester). Untuk operasi “major” (perut dan sekitarnya) biasanya dicek langsung oleh Cik Man, sementara operasi kecil dilakukan oleh staf klinik.
  2. Setelah operasi, usahakan mengkonsumsi pati ikan Heruan (pati ikan lele) untuk mempercepat penyembuhan luka dalam dan jel Gamat untuk penyembuhan luka dari dalam (walaupun luka hanya seperti ditoreh daun tebu)
  3. Biaya operasi bervariasi; RM 500 – RM 4000 tergantung kesukaran operasi yang dilakukan
  4. Dokternya (Cik Man) ramah dan baik sekali
  5. Operasinya tidak sakit, tidak dijahit dan pasien bisa langsung pulang setelah beristirahat sejenak setelah operasi (untuk operasi major)
  6. Di depan klinik tidak ada tempat khusus untuk menunggu, jadi menunggu klinik dibuka, calon pasien “ngemper”.
  7. Harus disiplin untuk tidak memakan “pantangan” jika memang ada yang dipantangkan untuk dikonsumsi.
  8. Jangan pernah mencoba berbohong karena pasti akan ketahuan J.
  9. Di dekat klinik ada restoran melayu, ada mini market 24 jam
  10. Di depan klinik juga lewat bas mini atau bus Rapid KL menuju Taman Sri Muda (tempat dimana Hotel Sri Muda Corner berlokasi).

 

Thursday, April 2, 2009

Tentang GEMPA dan TSUNAMI - khususnya untuk Sumbar

Karena banyak teman-teman yang bertanya tentang :
1. Ciri-ciri gempa berpotensi tsunami
2. Kenapa masih berusaha, padahal tsunami itu kan takdir dari Allah

maka aku akan jawab sesuai dengan kapasitas keilmuanku dan kelembagaanku. Terimakasih untuk pertanyaannya.

Jawaban:

Prolog:
Walaupun definisi bencana yang ditentukan oleh lembaga PBB adalah : suatu kejadian yang terjadi secara tiba-tiba ataupun perlahan-lahan, disebabkan oleh alam ataupun campur tangan manusia, mengakibatkan kehilangan nyawa dan harta benda serta berubahnya fungsi sosial, dan hal tersebut tidak mampu diatasi oleh sekelompok manusia pada sebuah daerah.

Tapi aku punya definisi yang lebih sederhana

Bencana = kegagalan manusia beradaptasi dengan tanda-tanda yang diberikan Tuhan melalui alam / Kegagalan manusia beradaptasi dengan fenomena alam

Kenapa demikian?
Kalau manusia bisa mempelajari tanda-tanda alam, maka manusia akan belajar lebih jauh lagi bagaimana cara menyikapinya. Jika cara menyikapinya benar, maka tidak akan pernah ada yang namanya BENCANA ALAM.

Sederhana.

Contoh : Situ Gintung.
Pelajaran I : Lokasi Situ lebih tinggi dari kompleks perumahan - pasti ini termasuk bahaya yang berpotensi menjadi bencana suatu saat. Manusia yang paham, tidak akan bermukim di sana, apalagi sampai menimbun Situ
Pelajaran II : Sudah terlihat retakan dan sudah dilaporkan berkali-kali kepada pemerintah tapi tidak disikapi dengan seksama. Jika cepat diantisipasi, tidak akan terjadi BENCANA

atau yang lebih sederhana lagi...
Pada sebuah daerah aliran sungai, tidak ada kehidupan selain kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan liar di sana. Suatu saat jika sungai meluap dan terjadi banjir, walaupun banyak areal yang digenangi.. maka manusia tidak menyebutnya sebagai BENCANA.

Nah, berarti benar kan? Kalau manusia memberi istilah bencana untuk hal-hal yang merugikan manusia itu sendiri? Udahlah berkontribusi buat kerusakan alam eh ALAM pula yang DISALAHKAN :)

Hehehe.. moga ga ada yang protes aku nulis gini.

INI JAWABAN buat KEDUA PERTANYAAN DI ATAS

Ok, lanjut.
Risiko bencana = Bahaya x kerentanan
                            --------------------------
                                 kemampuan

Ntar klo ga ngerti, boleh nanya kok.
Jadi, artinya .. jika kerentanan dikurangi dan kemampuan ditingkatkan, maka risiko bencana bisa diminimalkan.

Nah, sekarang... mengapa kita harus bersiap ? Bukankah bencana itu takdir ?
Hey... siapa bilang? Tuhan itu Maha Baik lo... Manusia aja yang ga mau belajar. Sudah dikasih ilmunya bahwa fenomena alam itu punya siklus tapi tetap aja ga ngerti.
Galodo.... di tempat yang sama terjadi pengulangan, siklusnya antara 30-40 tahun. Tanya deh penduduk setempat klo ga percaya.
Trus, gempa... selalu terjadi pengulangan di tempat yang sama. Siklusnya berbeda-beda di tiap daerah, ada yang 50 tahun, ada yang 100 tahun, ada yang 30 tahun. Coba deh buka lagi catatan sejarah bencana di daerah masing-masing.

Nah, lagi-lagi.. kelalaian manusia itu belajarlah yang bikin manusia (kita-kita ini) terkena bencana.

Jepang... belajar dari siklus gempa dan tsunami yang pernah mereka alami membuat mereka lebih bagus dalam perencanaan. Pembangunan pun sudah terintegrasi dengan pengurangan risiko bencana, seperti : pendirian bangunan sesuai dengan building code (yang telah disesuaikan dengan kerawanan gempa di sana) .. ssst... Indonesia katanya udah punya, tapi belum diterapkan :)

Nah gitu juga dengan Tsunami, pengulangannya bisa ratusan tahun.
Lagi-lagi Tuhan ngasih tanda-tanda...

Ga percaya?
Belajar donk dari penduduk Simeulue yang pernah terkena tsunami pada tahun 1907, yang artinya dah banyak yang wafat lo nenek moyang yang jadi saksi tsunami.. tapi kenapa hanya 7 orang dari 78.000 penduduknya yang tewas pada tsunami 26 Desember 2004? Itupun yang berada di laut lebih dekat ke pantai.

Karena.... nenek moyangnya mau mendidik generasi penerusnya dan generasi penerusnya mau belajar dari nenek moyangnya.

Coba deh ke simeulue, tanya semua orang di sana. Pasti mereka tahu cerita tentang Smong 07. Mereka menyebut tsunami dengan SMONG.

Dari mulut ke mulut, generasi ke generasi, bahkan ke pendatangpun cerita tentang tsunami 1907 diteruskan tanpa bosan-bosan. Sederhana saja caranya, tidak mahal! Caranya cuma bercerita di rumah masing-masing, di kedai-kedai, dimanapun mereka berada.

Isi ceritanya :
Dulu pernah terjadi gelombang besar (smong) pada tahun 1907. Ada gempa besar sebelumnya, kemudian laut surut. Nah, jika itu terjadi lagi... kemasi barang-barang dan larilah ke bukit.
Simpel banget kan? Tapi dampaknya... luar biasa!! Itu dinamakan kebijakan lokal

Gempa besar bisa dijadikan salah satu pertanda untuk terjadi tsunami
Khususnya bagi wilayah-wilayah yang terletak di dekat pertemuan lempeng bumi (zona subduksi)
contoh : wilayah pesisir Sumbar, dimana pertemuan lempeng Indo Australia dan Eurasia berada kurang lebih 170 km dari kota Padang. Maka, jika terjadi pergeseran lempeng... akan berakibat terasa getaran yang dinamakan GEMPA!

Beda halnya dengan Sri Lanka atau Maldive yang sama sekali tidak punya sumber gempa (secara geologis), jadi mereka akan sangat bergantung sekali dengan peralatan peringatan dini, karena mereka masih punya waktu!

Biar tidak terjadi kesalahpahaman.
TSUNAMI pasti didahului oleh peristiwa gempa bumi di laut (bedanya : terasa atau tidak terasa, tergantung pada jarak daerah yang akan terkena dampak)
tapi TIDAK SIAP GEMPABUMI menyebabkan TSUNAMI

Nah, karena Sumatera Barat berada dekat sekali dengan pertemuan lempeng, tentu saja akan merasakan gempa.

CIRI-CIRI GEMPA BERPOTENSI TSUNAMI untuk WILAYAH PESISIR SUMBAR, sebagai berikut :
1. Gempanya sangat kuat (manusia tidak bisa berdiri seimbang)
Kenapa ? Jawabnya : bayangkan lempeng bumi dengan ketebalan 40-60 km masing-masingnya yang bertumbukan. Hebat kan benturannya?

2. Berlangsung lama tanpa jeda (satu menit atau lebih)
Kenapa ? Karena setelah berbenturan, pastinya lempeng tidak akan langsung diam. Penggaris aja habis dibengkokkan akan bergetar untuk sekian lama sampai stabil kembali

3. Struktur bangunan (terutama yang berada di daerah pantai) akan mengalami kerusakan atau runtuh
struktur bangunan : kolom-kolom, tiang penyangga

Jika ketiga ciri ini yang terjadi, maka :
SEGERA EVAKUASI (lebih baik berjalan kaki). Ikuti langkah-langkah berikut:
1. Matikan listrik, gas
2. Ambil tas siaga yang telah dipersiapkan dari sekarang. Isinya : makanan instan, minuman, dokumen penting, obat-obatan, pakaian, senter + baterai, radio + baterai
3. Kunci dan tinggalkan rumah menuju daerah > 3 km dari pantai atau ketinggian> 10 meter dari permukaan laut (hindari gendung dalam radius 500 meter dari pantai)
Dengarkan informasi melalui radio, karena akan ada arahan dari pemerintah, tentang : sumber gempa, apakah berpotensi tsunami atau tidak, serta informasi lainnya
3. Jika informasi yang diterima bahwa
gempa berasal dari darat : boleh kembali ke rumah
gempa berasal dari laut dan berpotensi tsunami : lanjutkan evakuasi
gempa berpotensi tsunami dan kemudian dibatalkan : boleh kembali ke rumah
4. Jika terjadi tsunami, bertahanlah di daerah aman selama 4 jam minimum

Maka, dari sekarang:
Buatlah perencanaan keluarga, karena aktifitas anggota keluarga pasti berbeda-beda

Ingat! Salah satu penyebab jatuhnya banyak korban di Aceh adalah karena SALING MENCARI
Bapak yang sudah berada di daerah aman pulang ke rumah untuk mencek keluarga... maka seharusnya dia bisa selamat, tapi malah ikut jadi korban.

Caranya :
Diskusikan tempat aman yang akan dituju oleh masing-masing anggota keluarga
misal : anak akan ikut arahan dari guru (karena 60 sekolah telah dilatih di kota Padang)
Nah kalau terjadi tsunami, semua anggota keluarga akan berkumpul di IAIN Imam Bonjol Lb. Lintah 5 jam setelah terjadi gempa atau selambat-lambatnya 10 jam setelah terjadi gempa.

Masih mau nanya kenapa kita harus bersiap?
Waduh...waduh....
Takdir itu adalah ketika ikhtiar kita dah semaksimal mungkin... nah akhirnya mati juga, itu baru dinamakan takdir.

Kan tsunami ga ada tanda-tandanya ?
Lha kan udah dijelasin tadi.

Air laut itu baru akan dibangkitkan beberapa menit setelah "slip" nya lempeng memberi pengaruh pada permukaan air.

Nah, untuk wilayah Sumbar ... waktunya yang diskenariokan melalui pemodelan adalah 20-30 menit!
berarti : KITA MASIH PUNYA WAKTU UNTUK MENYELAMATKAN DIRI dalam RENTANG WAKTU 20 - 30 MENIT!

Bukankah kalau Tuhan sudah berkehendak, harusnya kita pasrah?
Oh ya? Kenapa harus pakai payung kalau hujan ? Harusnya pasrah aja buat basah
Kenapa harus ke dokter kalau sakit? Harusnya pasrah aja donk, karena Tuhan sudah berkehendak.
TOTALLY WRONG! Salah besar dalam mengartikan takdir.

Nabi Nuh aja masih bikin kapal besar kok! Tuh pelajaran langsung dari Tuhan
Trus, Nabi Muhammad - Rasulullah SAW aja masih bikin parit kok untuk bertahan dari serangan musuh

Mau beralasan apa lagi?

Maka, BUDAYA SIAGA BENCANA harus tumbuh pada diri masing-masing
Udah ga jamannya membiarkan korban tewas trus baru berlomba-lomba kasih bantuan. Itu paradigma lama... lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali!

Kalau masih ada pertanyaan lanjutan, silakan email ke kogami_indonesia@yahoo.com

terimakasih
PS. Mohon maaf kalau tidak berkenan dan bahasanya juga bahasa buat teman-teman, jadi buat Bapak-bapak ... maaf ya, ini cuma cc aja :). Mohon masukan juga kalau ada yang salah.

Eh ada yang kelupaan :
GEMPA TIDAK BISA DIRAMALKAN, JADI JANGAN PERCAYA ISU TENTANG TANGGAL TSUNAMI !
(tau kan nyambunginnya?)

Teman-teman telah ikut dalam usaha KESIAPSIAGAAN apabila ikut menyebarkan informasi ini kepada teman-teman yang lain .... Relawan jarak jauh, mungkin sekali kan? Terimakasih untuk kepedulian kita semua :)

MARI BANGUN BUDAYA SIAGA BENCANA ! Sebagai wujud syukur atas kehidupan yang diberikan Allah untuk kita

Monday, April 28, 2008

[US] Jilbab di Amerika ?

Sambil nunggu jam mulai meeting nih. Jadi ingat pertanyaan teman-teman "Ga ada masalah tuh kamu jilbaban di Amerika ?"
Alhamdulillah, aku percaya banget, selama kita patuh sama perintah Allah dan menjalankannya dengan penuh keikhlasan, Allah bakal nolong kita kok! Banyak sekali kemudahan hidup yang aku dapatkan hanya dengan satu keyakinan ini. Aku ga pernah ngotot mau pergi ke US karena buatku semua tempat berpijak di bumi Allah ini sama nilainya, ga ada yang lebih istimewa kecuali tempat-tempat mustajab yang memang telah diistimewakan oleh Pemilik-Nya seperti Al-Mutazam, Raudah, dsb.
Kata orang-orang, sulit mendapatkan visa ke US karena berjilbab. Wah, aku sama sekali ga ngalamin tuh, bahkan aku dapat multi entry visa buat lima tahun dengan proses interview kurang dari dua menit.
Di imigrasi ?
Juga cuma ditanya kenapa masuk US dan setelah dijawab semuanya selesai.
Di conference kemaren ?
Aku diperlakukan sangat istimewa oleh panitianya padahal aku cuma salah satu dari puluhan nara sumber yang sangat berpengaruh. Tiap sebentar ditanya "Is everything good ?" sampai makanpun benar-benar diurusin karena mereka tau aku ga bisa makan yang ga halal.
Bahkan ada di antara mereka yang nyelutuk begini, "Why are you so powerful ? You are not US resident but you can make rule for us and we follow it happily. You are an extraordinary woman." Senang juga sih dikasih compliment gitu walo aku juga ga that perfect. Pernyataan ini keluar karena aku sebisanya tidak bersalaman atau tak bersentuhan dengan yang ga muhrim (walo ga mudah) dan akhirnya mereka mengerti bagaimana memberikan salam, aku ajarin yang kayak Sunda itu lo...
Nah, siapa bilang jilbab jadi masalah ?
Mau lomba manjat gunung sama aku ? Sok.... 
Mau balapan motor sama aku ? Sok....
Mau surfing? Ayuk....
hahaha ga gitu juga sih, cuma aku mau bilang "ga ada alasan untuk tidak mengenakan jilbab bagi muslimah karena itu perintah Allah dalam Alquran. Kalau non muslim aja bisa se-respect itu sama kita, apalagi saudara sendiri, ya kan ?"
Ga ada alasan "belum siap" karena aku dulu juga pernah punya alasan ini (takut teman-teman berkurang), buktinya sekarang Allah malah ngasih teman2 dari belahan dunia yang ada, lewat real conference ataupun dunia maya. Ah Maha Kaya Allah dengan segala rencana-rencananya.

Sunday, April 20, 2008

Tuhan Sembilan Senti

sumber gambar : whitmancounty.org
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Tulisan Taufik Ismail ini, sangat menginspirasi kehidupan kami akhir-akhir ini. Secara jujur, keluarga kami sangat tergangggu, dengan tuhan-tuhan mereka ini. Apalagi, ketika banyak tamu yang cukup lama dengan tuhan-tuhannya, main dirumah kami, sambil berdiskusi..
Berani hadapi tantangan, untuk meninggalkan tuhan-tuhan ini!!! Bagaimana pendapat Anda???
 dari websitenya mas Amri : http://masamri.multiply.com/journal/item/18/

[US] Sisi Lain Amerika dan Harapan untuk Indonesia

Aku ga akan bisa menyangkal kalau aku sungguh terpesona dengan sebuah negara bernama Amerika. Bukan berarti aku pro Amerika. Sekali lagi, aku benci perang yang dikobarkan dimanapun, apalagi di tanah muslim saudaraku sendiri. No way! Dimanapun yang namanya kekejaman aku ga suka ! Never!
Di Amerika pun, masyarakatnya udah putus asa sama ulah Bush yang bikin citra negara mereka buruk di mata bangsa lain. Mereka juga benci perang, bahkan di jembatan-jembatan khususnya di Washington State digantungkan pita kuning tanda berduka sebagian sanak kerabat terhadap saudara mereka yang tewas dalam peperangan. Tentara-tentara dipisahkan dari sanak keluarganya dan tak sedikit yang pulang dalam keadaan "jiwa yang sakit". Mereka disuruh "membantai" tanpa mereka tahu kesalahan orang yang mereka "bantai" terutama di Irak sana.
Sementara negara-negara lain tetap menghujat negara yang mereka cintai dan mereka menjadi bagian dari "kebiadaban" tersebut. Akhirnya, ada pengharapan kepada Obama yang dinilai lebih punya sensitivitas untuk mengakhiri perang dan menebar kedamaian seperti hati-hati orang Amerika yang aku temui dalam hidupku. Mereka yang dikirimkan Allah untuk merubah wacana berpikirku tentang bangsa lain, tak peduli mereka dari Amerika atau bukan. Setiap orang berpotensi untuk baik dan berpotensi juga untuk jahat.
Bagaimanapun aku salut dengan Amerika yang serba teratur, yang mampu menata negaranya menjadi negara maju walaupun potensi sumber daya yang mereka miliki ga sebesar yang dimiliki negaraku Indonesia. Aku salut sama Amerika yang mengerti hukum, yang berhasil membuat masyarakatnya tidak diperbudak oleh rokok, bahkan iklan rokokpun tidak boleh dipajang dalam bentuk Billboard (yang ada malah himbauan untuk meninggalkan tembakau) sementara negaraku masih sangat bergantung dengan perusahaan rokok. Aku salut sama masyarakat Amerika yang mampu menjaga kebersihan, bahkan bepergian ke dalam hutan pun sempat-sempatnya membawa plastik sampah. Negaraku belum seperti itu karena dari mobil bermerk dan keren masih bisa terbang kulit pisang ke jalan raya. Aku salut sama film-film Amerika (kecuali yang sadis) yang mampu membuat dialog-dialog yang cerdas, imajinasi yang tinggi untuk kemajuan ilmu pengetahuan, belum seperti di negaraku yang layar kaca rumah tangganya masih dihiasi dengan iri dengki kaum perempuan memperebutkan laki-laki dan sebaliknya plus hal-hal mistik di luar jangkauan akal sehat (ga mutu banget kan?).
Masih terlalu banyak yang harus dibenahi dan ga akan mungkin berhasil kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Jika tak ingin dihujat, maka kita harus mampu bersatu padu untuk menunjukkan bahwa kita adalah bangsa bermartabat dan mampu mencerdaskan bangsanya.
Berhentilah merusak aset sendiri, redamlah kemarahan, salurkan aspirasi dengan elegan, maka orang akan melihat Indonesia sebagai negara yang besar. Memangnya kita kurang apa ?
Ayo.. mari mulai dari diri sendiri!

Friday, December 21, 2007

Tsunami 23 Desember 2007 : Isu, Kecemasan, Takdir dan Fakta

Tsunami 23 Desember 2007 : Isu, Kecemasan, Takdir dan Fakta
Mengikuti perkembangan di masyarakat terkait isu Tsunami yang dihembuskan oleh seorang Profesor dari Brazil lewat mimpinya dan kecemasan yang berefek pada matinya kreatifitas sebagian masyarakat Sumatra Barat dan Bengkulu membuat saya tergelitik untuk ikut memberikan pandangan.  Satu pertanyaan mendasar yang belum mendapat jawaban sampai saat ini adalah : “Mengapa masyarakat mudah sekali panik?”. Kalau bicara tentang kematian, bukankah setiap yang bernyawa akan mati? .” (QS. Ali ‘Imran: 185) , lalu mengapa harus resah ? Saya pun takut mati dan setelah ditanya kembali hati kecil ini, ternyata saya tidak takut Tsunami tapi sekali lagi saya takut mati, karena setelah dievaluasi ternyata bekal yang akan dibawa ke hadapan Allah agar diakui sebagai seorang hamba yang taat belumlah terasa cukup, mana pula mungkin berharap tidak mendapat siksa apalagi masuk syurga. Sehubungan dengan isu Tsunami tanggal 23 Desember 2007 ataupun jenis kecemasan lainnya yang merasuki masyarakat ternyata ada hubungannya dengan ketakutan yang saya rasakan. Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan meyakini bahwa amalan yang dilakukan selama hidup akan mampu mengantarkannya sebagai seorang syuhada takkan pernah takut mati, bahkan mungkin rindu akan kematian karena kematian adalah gerbang menuju pertemuan dengan Allah SWT dalam hakekat yang sebenarnya.
Kembali kepada isu yang kabar-kabarnya meresahkan masyarakat sampai-sampai ada yang memutuskan untuk meninggalkan kota/kabupaten tempat tinggalnya untuk menghindari bencana Tsunami seperti mimpi sang Profesor. Betulkah Sang Profesor bisa mentakwilkan (mengartikan mimpi)? Ah, terlalu naif jika akhirnya kita sebagai manusia beriman harus mempercayainya. Salah satu kriteria seseorang dikatakan beriman adalah ketika dia percaya kepada Rasul-Rasul utusan Allah, termasuk mukjizat yang diberikan Allah kepada para rasul-Nya. Bukankah mentakwilkan mimpi itu salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Yusuf as ? Nah, kalau kita percaya dengan mimpi sang Profesor, apakah kita masih mengimani Allah dan Rasul-Nya? Apakah kepercayaan kita terhadap mukjizat Nabi Yusuf as sudah bisa digantikan dengan keimanan yang lain? Wallaahu a’lam, silakan bertanya kepada diri sendiri. Jikapun pada akhirnya Allah berkehendak, itu bukanlah karena mimpi si Profesor tapi memang iradat Allah semata. Coba renungkan firman Allah berikut, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: " Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?".(Q.S. Al-‘AnkabĂ»t:2). Maka, saat ini iman kita sedang diuji melalui seorang Profesor dari Brazil.
Di antara masyarakat yang gelisah ada juga masyarakat yang skeptis, yang menganggap bencana adalah takdir yang harus diterima begitu saja. Bahkan yang lebih ironis lagi ada yang melontarkan celutukan terhadap proses edukasi kebencanaan yang diberikan kepada masyarakat, “Untuk apa sih mengadakan persiapan segala? Mau mendahului takdir? Sudah merasa lebih hebat dari Tuhan ya?”. Tentu saja hal ini juga harus disikapi dengan bijaksana. Karena Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri....” (Q.S. Ar-Ra'd: 11). Allah memberikan ujian berupa Tsunami bukan berarti kita harus pasrah karena sesungguhnya terkandung hikmah bahwa Allah ingin menambah pengetahuan manusia. Sakit diciptakan agar manusia bisa menemukan obatnya (yang tentu saja sudah disediakan Allah), begitu juga dengan bencana, Allah ingin manusia menemukan jalan untuk bisa mengenali karakteristik alam dan beradaptasi dengan fenomena alam. “Bacalah dengan menyebut nama TuhanMu...” (Q.S. Al-‘Alaq:1).  ayat pertama yang diturunkan Allah agar manusia mau belajar, baik ilmu-Nya yang tersurat maupun yang tersirat, bukannya menyerah sebelum melakukan apa-apa. Rasulullah Sang Kekasih Allah masih saja mau bersusah-susah menggali parit untuk menyelamatkan pasukannya pada perang Khandaq, apalagi kita manusia biasa yang punya banyak keterbatasan? Sudah sepatutnya kita melakukan usaha maksimal untuk mengenali ancaman gempa dan Tsunami dan terlibat aktif dalam usaha kesiapsiagaan sembari berdoa agar kita mendapat perlindungan dari Allah SWT. Setelah segala usaha yang dilakukan, maka wajib hukumnya bagi manusia untuk bertawakal dengan mempercayai takdir. Tentu saja peranan ulama sangat diharapkan untuk bisa mengisi kekosongan hati dan mengokohkan kembali keimanan yang mulai terdegradasi.
Selanjutnya penting untuk membicarakan fakta yang ada, bahwa:
  1. Sumatera Barat tepat berada pada pertemuan dua lempeng dunia yang sewaktu-waktu bisa mengalami tumbukan yang terasa sebagai gempa dan mungkin saja memicu gelombang yang dinamakan Tsunami
  2. Proses bertumbukannya lempeng adalah sunnatullah, bagian dari proses penciptaan
  3. Tidak ada ahli dan peralatan yang bisa meramalkan kapan gempa akan terjadi, sementara Tsunami khususnya untuk wilayah pesisir Sumatera Barat akan didahului oleh gempa yang kuat karena posisinya yang berada pada pertemuan lempeng tersebut.
  4. Sumatera Barat pernah dilanda Tsunami pada tahun 1797 dan 1833, maka masyarakat perlu mengenali proses terjadinya Tsunami dan bagaimana cara menyikapinya agar korban jiwa seperti di Aceh tidak terulang kembali.
  5. Himbauan Gubernur Sumatera Barat, bapak Gamawan Fauzi agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung kepada sistem peringatan dini berupa teknologi yang punya banyak keterbatasan sangatlah bijak karena sesungguhnya gempa besar bisa dijadikan peringatan utama bagi masyarakat.
  6. Orang yang berilmu dan beriman tidak akan mudah panik, akan tetapi akan termotivasi untuk mengembangkan wawasan dan menggali ilmu Allah yang tersurat maupun yang tersirat. Takdir mutlak menjadi rahasia Allah.
  7. Ancaman bencana memang perlu diwaspadai tapi ancaman erosi keimanan harus lebih diwaspadai karena mati seharusnya menjadi sebuah kerinduan untuk bertemu dengan Sang Khalik, tentu saja dengan cara yang diridhai-Nya.
Semoga isu ini membawa hikmah khususnya bagi saya agar tidak takut lagi mati karena bertekad untuk menjadi hamba yang bertaqwa dengan menjaga keridhaan-Nya di setiap perkataan dan perbuatan. Amin




Saturday, May 26, 2007

Suami Belanja Ke Pasar - Langka kah?

Walau hujan turun dan becek dimana-mana tapi tetap aja yang namanya pasar ga pernah sepi. Dalam kehati-hatian menapaki gerimis, aku berpapasan dengan dosenku dulu.  Seorang Profesor terpandang di kotaku, yang menyandang gelar Doktor sebuah universitas terkemuka di Eropa. Di kedua tangannya ada tentengan belanjaan dan sepertinya beliau sudah selesai berbelanja.

“Udah selesai belanja Pak?”, sapaku.

“Sudah” sahutnya sambil memperlihatkan dua tentengan belanjaan yang cukup besar.

“Salam buat ibu ya Pak.”

”Iya, nanti saya sampaikan. Assalaamu’alaikum.”Jawabnya sambil melempar senyum.

”Wa’alaikumussalam.”

 

 “Mmh… seorang Profesor terpandang belanja di pasar tradisional sendirian?” Sungguh kondisi seperti ini sangat langka di kulturku yang terlanjur memposisikan belanja ke pasar sebagai pekerjaan yang tak lazim dilakukan oleh kaum adam dan mungkin juga keadaan ini berlaku buat daerah-daerah lain di Indonesia. Aku ga tahu. Pikiranku tergelitik, ”Masih ada ga ya stok laki-laki seperti itu di zaman sekarang ini?” (sebelum diprotes, aku jawab sendiri.... Pasti ada! tapi mungkin bisa dikatakan sebagai kaum minoritas).

 

Setelah menikah, entah dari mana asal muasalnya akan ada pembagian kerja antara suami dan istri. Suami akan berdalih bahwa dia telah cukup sibuk dan cape mencari nafkah di luaran sehingga kerjaan rumah bukan lagi jadi urusannya termasuk pendidikan anak. Mungkin masih wajar kalau hal ini diutarakan oleh seorang suami yang memang pontang-panting dan sudah bisa memenuhi nafkah buat keluarganya dengan penuh tanggung jawab tapi buat suami yang nyata-nyata masih butuh bantuan istri buat mencukupi kebutuhan keluarganya? Jelas ga bisa diterima donk! Toh ga ada perbedaan jam kantor buat laki-laki dan perempuan. Berarti, dua-duanya sama-sama cape kan? (Pernyataan ini ditujukan khusus kepada suami yang memelas minta bantuan istri untuk ikut membantu keuangan keluarga tapi malas banget ketika dimintai tolong untuk membantu pekerjaan rumah tangga).

 

Ga rumit sih sebenarnya karena aku pernah baca dan sangat yakin (haqul yaqin) bahwa Rasulullah ga mau membebani istri dengan pekerjaan yang masih bisa beliau kerjakan sendiri. Rasulullah pernah kok ngejahit baju sendiri dan juga menumbuk gandum untuk membuat roti padahal Rasulullah kan nyari nafkah juga buat keluarga, bahkan perjuangan beliau lebih berat lagi (Sst... Bukankah Rasulullah lebih mulia dan terpandang dibanding seorang Profesor?). Lalu, pikiran siapa yang sedang dikembangkan saat ini kalau suami tidak seharusnya nyuci dan belanja ke pasar?

 

Bukan berarti juga istri akhirnya punya alasan untuk ga peduli ama urusan rumah tangga. Siti Khadijah bukan hanya bikinin makanan lo buat Rasulullah tapi juga mendaki gua Hira’ buat nganterin makanan. Jarak dari rumah beliau sampai gua hira’ itu empat jam jalan kaki bolak-balik di terik matahari dan tajamnya bebatuan. Yang sudah pernah ke tanah suci pasti bisa ngebayangin kondisinya. Semoga kita juga bisa begitu. Amin.

 

Maaf sobat, aku hanya sedang mengagumi suami – istri yang tak sekedar menagih hak atas fitrahnya tapi menunaikan kewajibannya atas landasan ibadah kepada Allah.

Mungkin dosenku bisa seperti itu karena memang orang tuanya telah mengajarkan arti empati semenjak beliau masih kecil. Wallaahu a’lam.

 

Dalam kesederhanaan, aku bersyukur karena papaku bisa menjadi partner kerja yang mengasyikkan buatku dan mama di dapur, terutama untuk pekerjaan yang akrab dengan kekotoran seperti membersihkan dan memotong ikan atau ayam yang hasil dari pekarangan sendiri. Bahkan masih kuingat, dulu ketika mama pergi ke luar kota dalam waktu yang agak lama, papa tuh yang masak buat kami anak-anaknya. Terimakasih Allah.

 

PENASARAN NIH AMA PARA MP-ers BERSTATUS SUAMI atau SUAMI nya MP-ers

 

Terimakasih kepada papa mama yang tlah membagi jadwal piket yang adil antara aku dan adik-adik dengan jenis kegiatan yang sama.

 

special to : setiap pasangan yang saling menghargai dalam usaha menggapai surga-Nya.

Monday, May 7, 2007

Hamil.. Punya Anak.. HARUSKAH ?

Wajah tua itu mendadak kehilangan sinar ketika menceritakan kesedihan putrinya yang setelah tujuh tahun menikah belum juga dikaruniai anak. Tak sanggup lagi rasanya menahan kedukaan atas keluh kesah putrid tercinta, sebut saja namanya Sasha. Semenjak menikah, hanya sesekali dia bisa bertemu dengan putri bungsunya tersebut karena jarak yang memisahkan. Anak yang selama ini dibesarkan dengan curahan kasih sayang yang sempurna menghadapi masalah pelik dan sekedar belaian pun tak sanggup dia berikan. Air mata itu turun satu-satu, berharap setengah beban bisa dilepaskan.


 


“Sasha divonis dokter tidak akan bisa punya anak karena rahimnya telah diangkat oleh satu sebab. Harapan untuk mempunyai keturunan pupus sudah. Sebenarnya, Sasha pun sudah bisa menerima kenyataan dengan hati lapang dan berusaha menghapuskan segala gundah dan kesedihannya. Namun, luka itu meradang lagi di saat pertanyaan demi pertanyaan mertua membebaninya, kapan dia akan memberikan cucu seperti menantu-menantu lainnya. Tante kasihan sekali sama Sasha. Semoga dia bisa sabar. Tante sedih sekali…”


 


Sesekali dia menghela nafas dan menghapus air mata. Aku memanggilnya Tante. Tak ada yang bisa aku lakukan karena sesungguhnya Tante sangat bertawakal kepada Allah. Dia sangat percaya Allah takkan pernah memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya. Nurani sebagai ibu lah yang membuatnya menangis. Betapa dia bisa rasakan kerinduan Sasha untuk bisa memiliki momongan, membahagiakan suami, orang tua dan saudara-saudara di sekitarnya. (mungkin hal ini juga dirasakan oleh muslimah-muslimah lainnya yang merindukan kehadiran janin di rahim mereka).


 


Logikanya, siapa sih wanita yang ga ingin hamil, tapi haruskah dipaksa hamil ?


 


Sejurus Tante menenangkan diri… dan sesungging senyum menggayut di bibirnya, “Tapi Allah sungguh adil ya? Tante agak lega dan bersyukur sekali Sasha didampingi oleh suami yang shaleh. Tadi malam suaminya menelpon Tante dan bilang bahwa ibunya sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi. Dia telah membuat pengakuan kepada ibunya bahwa dialah yang bermasalah sehingga Sasha tidak mungkin bisa hamil. Dengan begitu dia berharap ibunya takkan bertanya lagi kepada Sasha. Tante benar-benar tak menyangka dia mau melakukan itu.”


 


Subhanallaah, kerongkonganku tercekat. Masih adakah suami semulia itu di zaman sekarang? Bukankah dengan membuat pengakuan seperti itu semestinya harga dirinya merasa sangat terbanting? Apalagi yang akan jadi kebanggaan seorang laki-laki yang telah mengakui dirinya impotent? Tapi demi ketenangan batin sang istri, dia harus berkorban walau di sisi lain hatinya juga berontak karena telah membohongi ibunya. Tapi untuk saat ini hanya itu solusi terbaik bagi permasalahan yang sedang dihadapinya.


 


Ternyata, masih banyak yang berjiwa "seperti Rasulullah” karena sebagaimana yang kita ketahui, hanya dari Siti Khadijah Rasulullah mempunyai keturunan dan dua putra yang disayangi beliau pun meninggal di usia yang sangat muda. Tapi Rasulullah tidak pernah membebani istri-istrinya yang lain untuk memberikan keturunan. Wallahu a’lam.