Tuesday, July 14, 2009

Kopdar ma Bunda Elly

Senangnya siang itu karena setelah sekian lama kenal lewat dunia maya, aku punya kesempatan buat ketemu sama Bunda Elly. Ternyata bunda Elly masih muda hahahaha... dasar otakku mikirnya ga bisa diarahin.. klo udah stempel "Bunda" aja, yang kebayang wajah yang begitu berwibawa ... Peace.. Peace.. termasuk bunda Wirda. Ternyata oh ternyata bunda berdua ini GAUL ABIZ.... !

Bunda Elly, aku ga ngarang lo.. untuk itu aku lengkapi dengan foto kita bertiga ama Mery.

Lihatlah betapa cerianya kita karena kebutuhan siang itu terpenuhi .. duh ikan bakar di saat kopdar.. menu yang oke!

Sayang, siang itu aku ga bisa lama ngobrol karena udah ada janji meeting di kantor.

Terimakasih Allah, telah memberiku sahabat yang banyak.. di dunia nyata ataupun dunia maya

Monday, July 13, 2009

MP, I miss you!

Dah lama ga berkunjung ke blog ku tercinta, akhirnya panggilan itu datang juga. Betapa di MP silaturahmi terasa begitu indah. Teman di dunia maya, ketika jumpa ga pernah bikin kaget karena yang tersaji di rumah maya mereka masing-masing adalah kehidupan yang sesungguhnya, tanpa basa-basi ...

Betapa aku merindukanmu teman-teman... sangat!
Aku kan berusaha untuk serajin dulu mengunjungimu.

Ah rindu............ serindu-rindunya

ngabsen ah..
1. Mba Atik, masih hebring kan?
2. Deshinta, masih beberes mo pulkam ya?
3. Mba Marlene yang feminim... pakabar?
4. Mba Eleonora... masih aktifkah di MP?
5. Bunda Wirda, ingat kehangatan di rumah Bunda
6. Bunda Elly,  ku baru saja jumpa... asyik .. gaul!
7. Teh Dina Sudjana, persiapan masak dimana lagi nih?
8. Dewa Cinta, masihkah kau setia walaupun aku berpaling sesaat?
9. Mona, adik manisku.... ku rindu sapaanmu
10. Teh Henny K Teguh, jalan-jalanmu mengesankan kah?
11. Gita Cinta, Tisha, Yudi, semuanyaaaaaaaaaa.............!! yang ga keabsen jangan marah ya...

I miss you all :)


Tuesday, May 5, 2009

Memang Beda!

Hari ini ada rasa yang membuncah. Ingin sekali dirangkai dalam untaian nada-nada indah tapi ah... rasanya takkan ada kata-kata yang bisa mewakili kebahagiaan yang baru saja aku rasakan dan rasanya ingin menghabiskan waktu dengan cepat untuk menyelesaikan curhatan ini. Dunia terasa begitu terang benderang. Masalah yang menumpuk tiga hari belakangan seakan lenyap begitu saja. Allah benar-benar tak sekalipun ingkar janji. Maha Besar Allah dengan segala rencana-rencananya termasuk skenario perjalanan hidup seluruh manusia yang tersebar di seluruh permukaan bumi ini.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Q.S. Alam Nasyrah (94) : 5-6)], begitu janji Allah.

Waktu menulis inipun senyum tak berhenti mengembang sebagai pelambang syukur atas karunia-Nya. Betapa adilnya Allah menetapkan masa-masa duka dan bahagia dalam kehidupan seseorang sehingga hati ini tak pernah terasa kering.

Hari Jumat minggu lalu aku dapat telfon dari seorang Dekan dari sebuah Fakultas di sebuah universitas negeri di Padang. Aku ingat, tiga tahun yang lalu setelah aku “mempensiunkan” diri dari sebuah lembaga tempat aku mengabdi, aku mendatangi beliau untuk menawarkan keilmuan dan keahlian yang aku miliki. Aku masih ingat, saat itu dengan ramahnya beliau mengatakan bahwa beliau sangat membutuhkan tenaga sesuai dengan ilmuku tapi fakultas tersebut masih berproses untuk menggapai harapan yang baru, terutama sekali dalam hal infrastruktur.

Setelah itu, aku asyik berkutat dengan lembaga yang aku dirikan sama teman-teman ; Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI). Rasanya waktu yang aku manfaatkan di KOGAMI tak lagi memberiku ruang untuk memikirkan peluang pekerjaan yang lain. Rasa cintaku mengalahkan segalanya, kecuali cinta pada Allah, Islam dan orang tua. Berbagai peluang silih berganti menggoda, tidak hanya mengenai pekerjaan tapi juga tentang kehidupan masa depan. Ah mungkin klise atau naif dalam pandangan orang-orang kalau aku harus bilang bahwa aku sangat mencintai KOGAMI.

Jujur saja, ketika sms dari beliau datang dengan tawaran bergabung dalam sebuah tim peneliti (yang prestisenya ga akan diragukan lagi), aku berada dalam titik kebimbangan. Bimbang menentukan arah, bimbang dengan ketidakmampuanku dalam mengolah konflik pribadi. Aku dalam titik terendah yang butuh pertolongan karena ternyata komunikasi intrapersonal yang aku bangun pada saat itu tak lagi bisa diandalkan, hingga aku membutuhkan komunikasi interpersonal. Cukup membantu, tapi tak sepenuhnya. Teman-teman yang peduli mencoba membangkitkan semangatku untuk tetap kuat karena aku memang dikenal sebagai orang yang kuat. Tapi ah... sampai manakah kekuatan seorang manusia? Hingga akhirnya dialog dengan Allah aku intensifkan karena hanya Dia yang tak pernah salah memberikan jawaban.

Selasa, 5 Mei 2009 pukul 15.00 WIB kupenuhi janji pada sang Dekan. Aku bawa fotokopi ijazah S1 dan S2 serta tesis masterku mengenai kultur jaringan tanaman, lebih khususnya tentang penghasilan metabolit sekunder yang sangat terkait dengan “wadah” baru yang sedang diinisiasi oleh beliau. Dengan jujur aku terangkan bahwa aku sangat tertarik untuk bergabung, tapi saat ini aku sedang menjalankan amanah di KOGAMI, bahkan sebagai pimpinan hingga aku tak mungkin meninggalkan amanah tersebut dalam waktu yang singkat (dalam hati aku masih berpikir “Apakah suatu saat nanti aku mampu?”). Sang Dekan berusaha meyakinkanku bahwa aku masih punya waktu untuk menyelesaikan amanahku karena “wadah” ini juga mungkin akan rampung pada tahun depan.

Lagi-lagi aku mengucapkan terimakasih dan menerangkan bahwa aku tidak bisa berjanji karena masih panjang langkah yang harus ditempuh untuk mewujudkan cita-citaku dan teman-teman tentang rasa aman pada masyarakat terhadap ancaman bencana.

Akhirnya beliau bertanya tetang aktifitasku di KOGAMI dan darimana KOGAMI mendapatkan dana.

“Alhamdulillah, kami dapat dukungan dana APBD dari pemerintah propinsi dan kota Padang, kami juga mendapat dukungan dana dari lembaga PBB yaitu UNESCO, dari USAID, dari Mercy Corp, dari Trocaire, dari Yayasan IDEP, dari LIPI, dari DKP. Dan tidak hanya dana tapi kami juga mendapatkan dukungan keilmuan dan dukungan moril lainnya dari banyak pihak.” Begitu paparku.

Beliau kemudian mengatakan, “Wah, kalau begitu ... anggap saja saya tidak jadi menawarkan untuk bergabung dengan Fakultas ini. Saya tidak ingin berkontribusi dalam mengurangi TRUST lembaga lain terhadap lembaga anda. Tidak mudah buat LSM menjaring lembaga nasional dan internasional sedemikian cepat, bahkan untuk LSM stereotype nya lebih dikenal sebagai lembaga oposan pemerintah, suka mengkritisi tanpa ada solusi. Lembaga anda mendapatkan dukungan sebanyak itu pastilah karena faktor kepercayaan yang tinggi dan faktor kepercayaan yang tinggi pastilah ditentukan oleh personal yang ada di dalamnya.. yang akhirnya bermuara pada leadership. Tapi, jika suatu saat nanti anda memang telah ingin berhenti dengan sendirinya, saya masih mengharapkan anda untuk menelfon saya.”

Subhanallah... perasaanku campur aduk. Sebegitu pentingnyanyakah buat beliau pengabdian yang aku lakukan bersama teman-teman di KOGAMI? Sementara selama ini masih ada beberapa orang yang memandang sebelah mata. “Apa sih yang bisa diharapkan bekerja di LSM?” itu kebanyakan pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang, karena ternyata khususnya di Sumatera Barat masih terdapat pengkastaan dalam memilih pekerjaan dan Pegawai Negara Sipil terletak pada kasta tertinggi. Dalam hati aku hanya bisa membatin, “Andaikan mereka tahu kebahagiaan yang aku rasakan bisa mengelola kreatifitas sendiri, mengelola konflik, mengambil pelajaran, membina jaringan, bertemu orang banyak, melihat kebahagiaan orang-orang yang mendapat manfaat di daerah program, melihat semangat relawan yang luar biasa.. pernahkah mereka rasakan hal yang sama?” Aku yakin tidak sehingga aku merasa sangat beruntung.

Apapun kata orang, siang itu aku merasa sangat merdeka karena telah berani membuat sebuah KEPUTUSAN BESAR dalam hidup. Aku berhasil melepaskan diri dari beban emosional yang tengah hinggap. Aku berhasil mengalahkan godaan prestise tentang masa depan yang menjanjikan. Aku semakin percaya dengan takdir Allah yang selalu tepat untuk hamba-hambaNya.

Aku sungguh merasa beruntung. Beliau, sang Dekan dari sebuah Fakultas bergengsi telah mengisi kekosongan di hatiku. Sehingga aku hanya mampu berucap, “Memang beda pemikiran orang yang berpendidikan tinggi dan open minded dalam memandang sesuatu.” Beliau sama sekali tidak mengecilkan keberadaan sebuah LSM.

Masih kuingat pesan beliau ketika aku pamit kembali ke kantor, “Lanjutkan perjuangan, jagalah kepercayaan orang-orang. Mudah untuk membangunnya tapi sangat sulit untuk mempertahankannya. Sekali salah melangkah, seumur hidup orang  takkan percaya!”

Ah, takkan mudah melaksanakan pesan tersebut  tapi aku percaya anggota KOGAMI; teman-teman yang selama ini berdedikasi tinggi membuat aku yakin untuk tetap melanjutkan perjuangan.

 

P.S. Terimakasih untuk keluarga besar KOGAMI yang telah mengajariku banyak hal, yang telah membuatku mau mengakui kekuranganku, yang mampu membuatku berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Moga Allah membalas kesungguhan dan keikhlasan kita dalam bekerja.Marilah kita jaga kepercayaan ini bersama-sama hanya untuk menggapai ridha Allah semata.

Thursday, April 2, 2009

Tentang GEMPA dan TSUNAMI - khususnya untuk Sumbar

Karena banyak teman-teman yang bertanya tentang :
1. Ciri-ciri gempa berpotensi tsunami
2. Kenapa masih berusaha, padahal tsunami itu kan takdir dari Allah

maka aku akan jawab sesuai dengan kapasitas keilmuanku dan kelembagaanku. Terimakasih untuk pertanyaannya.

Jawaban:

Prolog:
Walaupun definisi bencana yang ditentukan oleh lembaga PBB adalah : suatu kejadian yang terjadi secara tiba-tiba ataupun perlahan-lahan, disebabkan oleh alam ataupun campur tangan manusia, mengakibatkan kehilangan nyawa dan harta benda serta berubahnya fungsi sosial, dan hal tersebut tidak mampu diatasi oleh sekelompok manusia pada sebuah daerah.

Tapi aku punya definisi yang lebih sederhana

Bencana = kegagalan manusia beradaptasi dengan tanda-tanda yang diberikan Tuhan melalui alam / Kegagalan manusia beradaptasi dengan fenomena alam

Kenapa demikian?
Kalau manusia bisa mempelajari tanda-tanda alam, maka manusia akan belajar lebih jauh lagi bagaimana cara menyikapinya. Jika cara menyikapinya benar, maka tidak akan pernah ada yang namanya BENCANA ALAM.

Sederhana.

Contoh : Situ Gintung.
Pelajaran I : Lokasi Situ lebih tinggi dari kompleks perumahan - pasti ini termasuk bahaya yang berpotensi menjadi bencana suatu saat. Manusia yang paham, tidak akan bermukim di sana, apalagi sampai menimbun Situ
Pelajaran II : Sudah terlihat retakan dan sudah dilaporkan berkali-kali kepada pemerintah tapi tidak disikapi dengan seksama. Jika cepat diantisipasi, tidak akan terjadi BENCANA

atau yang lebih sederhana lagi...
Pada sebuah daerah aliran sungai, tidak ada kehidupan selain kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan liar di sana. Suatu saat jika sungai meluap dan terjadi banjir, walaupun banyak areal yang digenangi.. maka manusia tidak menyebutnya sebagai BENCANA.

Nah, berarti benar kan? Kalau manusia memberi istilah bencana untuk hal-hal yang merugikan manusia itu sendiri? Udahlah berkontribusi buat kerusakan alam eh ALAM pula yang DISALAHKAN :)

Hehehe.. moga ga ada yang protes aku nulis gini.

INI JAWABAN buat KEDUA PERTANYAAN DI ATAS

Ok, lanjut.
Risiko bencana = Bahaya x kerentanan
                            --------------------------
                                 kemampuan

Ntar klo ga ngerti, boleh nanya kok.
Jadi, artinya .. jika kerentanan dikurangi dan kemampuan ditingkatkan, maka risiko bencana bisa diminimalkan.

Nah, sekarang... mengapa kita harus bersiap ? Bukankah bencana itu takdir ?
Hey... siapa bilang? Tuhan itu Maha Baik lo... Manusia aja yang ga mau belajar. Sudah dikasih ilmunya bahwa fenomena alam itu punya siklus tapi tetap aja ga ngerti.
Galodo.... di tempat yang sama terjadi pengulangan, siklusnya antara 30-40 tahun. Tanya deh penduduk setempat klo ga percaya.
Trus, gempa... selalu terjadi pengulangan di tempat yang sama. Siklusnya berbeda-beda di tiap daerah, ada yang 50 tahun, ada yang 100 tahun, ada yang 30 tahun. Coba deh buka lagi catatan sejarah bencana di daerah masing-masing.

Nah, lagi-lagi.. kelalaian manusia itu belajarlah yang bikin manusia (kita-kita ini) terkena bencana.

Jepang... belajar dari siklus gempa dan tsunami yang pernah mereka alami membuat mereka lebih bagus dalam perencanaan. Pembangunan pun sudah terintegrasi dengan pengurangan risiko bencana, seperti : pendirian bangunan sesuai dengan building code (yang telah disesuaikan dengan kerawanan gempa di sana) .. ssst... Indonesia katanya udah punya, tapi belum diterapkan :)

Nah gitu juga dengan Tsunami, pengulangannya bisa ratusan tahun.
Lagi-lagi Tuhan ngasih tanda-tanda...

Ga percaya?
Belajar donk dari penduduk Simeulue yang pernah terkena tsunami pada tahun 1907, yang artinya dah banyak yang wafat lo nenek moyang yang jadi saksi tsunami.. tapi kenapa hanya 7 orang dari 78.000 penduduknya yang tewas pada tsunami 26 Desember 2004? Itupun yang berada di laut lebih dekat ke pantai.

Karena.... nenek moyangnya mau mendidik generasi penerusnya dan generasi penerusnya mau belajar dari nenek moyangnya.

Coba deh ke simeulue, tanya semua orang di sana. Pasti mereka tahu cerita tentang Smong 07. Mereka menyebut tsunami dengan SMONG.

Dari mulut ke mulut, generasi ke generasi, bahkan ke pendatangpun cerita tentang tsunami 1907 diteruskan tanpa bosan-bosan. Sederhana saja caranya, tidak mahal! Caranya cuma bercerita di rumah masing-masing, di kedai-kedai, dimanapun mereka berada.

Isi ceritanya :
Dulu pernah terjadi gelombang besar (smong) pada tahun 1907. Ada gempa besar sebelumnya, kemudian laut surut. Nah, jika itu terjadi lagi... kemasi barang-barang dan larilah ke bukit.
Simpel banget kan? Tapi dampaknya... luar biasa!! Itu dinamakan kebijakan lokal

Gempa besar bisa dijadikan salah satu pertanda untuk terjadi tsunami
Khususnya bagi wilayah-wilayah yang terletak di dekat pertemuan lempeng bumi (zona subduksi)
contoh : wilayah pesisir Sumbar, dimana pertemuan lempeng Indo Australia dan Eurasia berada kurang lebih 170 km dari kota Padang. Maka, jika terjadi pergeseran lempeng... akan berakibat terasa getaran yang dinamakan GEMPA!

Beda halnya dengan Sri Lanka atau Maldive yang sama sekali tidak punya sumber gempa (secara geologis), jadi mereka akan sangat bergantung sekali dengan peralatan peringatan dini, karena mereka masih punya waktu!

Biar tidak terjadi kesalahpahaman.
TSUNAMI pasti didahului oleh peristiwa gempa bumi di laut (bedanya : terasa atau tidak terasa, tergantung pada jarak daerah yang akan terkena dampak)
tapi TIDAK SIAP GEMPABUMI menyebabkan TSUNAMI

Nah, karena Sumatera Barat berada dekat sekali dengan pertemuan lempeng, tentu saja akan merasakan gempa.

CIRI-CIRI GEMPA BERPOTENSI TSUNAMI untuk WILAYAH PESISIR SUMBAR, sebagai berikut :
1. Gempanya sangat kuat (manusia tidak bisa berdiri seimbang)
Kenapa ? Jawabnya : bayangkan lempeng bumi dengan ketebalan 40-60 km masing-masingnya yang bertumbukan. Hebat kan benturannya?

2. Berlangsung lama tanpa jeda (satu menit atau lebih)
Kenapa ? Karena setelah berbenturan, pastinya lempeng tidak akan langsung diam. Penggaris aja habis dibengkokkan akan bergetar untuk sekian lama sampai stabil kembali

3. Struktur bangunan (terutama yang berada di daerah pantai) akan mengalami kerusakan atau runtuh
struktur bangunan : kolom-kolom, tiang penyangga

Jika ketiga ciri ini yang terjadi, maka :
SEGERA EVAKUASI (lebih baik berjalan kaki). Ikuti langkah-langkah berikut:
1. Matikan listrik, gas
2. Ambil tas siaga yang telah dipersiapkan dari sekarang. Isinya : makanan instan, minuman, dokumen penting, obat-obatan, pakaian, senter + baterai, radio + baterai
3. Kunci dan tinggalkan rumah menuju daerah > 3 km dari pantai atau ketinggian> 10 meter dari permukaan laut (hindari gendung dalam radius 500 meter dari pantai)
Dengarkan informasi melalui radio, karena akan ada arahan dari pemerintah, tentang : sumber gempa, apakah berpotensi tsunami atau tidak, serta informasi lainnya
3. Jika informasi yang diterima bahwa
gempa berasal dari darat : boleh kembali ke rumah
gempa berasal dari laut dan berpotensi tsunami : lanjutkan evakuasi
gempa berpotensi tsunami dan kemudian dibatalkan : boleh kembali ke rumah
4. Jika terjadi tsunami, bertahanlah di daerah aman selama 4 jam minimum

Maka, dari sekarang:
Buatlah perencanaan keluarga, karena aktifitas anggota keluarga pasti berbeda-beda

Ingat! Salah satu penyebab jatuhnya banyak korban di Aceh adalah karena SALING MENCARI
Bapak yang sudah berada di daerah aman pulang ke rumah untuk mencek keluarga... maka seharusnya dia bisa selamat, tapi malah ikut jadi korban.

Caranya :
Diskusikan tempat aman yang akan dituju oleh masing-masing anggota keluarga
misal : anak akan ikut arahan dari guru (karena 60 sekolah telah dilatih di kota Padang)
Nah kalau terjadi tsunami, semua anggota keluarga akan berkumpul di IAIN Imam Bonjol Lb. Lintah 5 jam setelah terjadi gempa atau selambat-lambatnya 10 jam setelah terjadi gempa.

Masih mau nanya kenapa kita harus bersiap?
Waduh...waduh....
Takdir itu adalah ketika ikhtiar kita dah semaksimal mungkin... nah akhirnya mati juga, itu baru dinamakan takdir.

Kan tsunami ga ada tanda-tandanya ?
Lha kan udah dijelasin tadi.

Air laut itu baru akan dibangkitkan beberapa menit setelah "slip" nya lempeng memberi pengaruh pada permukaan air.

Nah, untuk wilayah Sumbar ... waktunya yang diskenariokan melalui pemodelan adalah 20-30 menit!
berarti : KITA MASIH PUNYA WAKTU UNTUK MENYELAMATKAN DIRI dalam RENTANG WAKTU 20 - 30 MENIT!

Bukankah kalau Tuhan sudah berkehendak, harusnya kita pasrah?
Oh ya? Kenapa harus pakai payung kalau hujan ? Harusnya pasrah aja buat basah
Kenapa harus ke dokter kalau sakit? Harusnya pasrah aja donk, karena Tuhan sudah berkehendak.
TOTALLY WRONG! Salah besar dalam mengartikan takdir.

Nabi Nuh aja masih bikin kapal besar kok! Tuh pelajaran langsung dari Tuhan
Trus, Nabi Muhammad - Rasulullah SAW aja masih bikin parit kok untuk bertahan dari serangan musuh

Mau beralasan apa lagi?

Maka, BUDAYA SIAGA BENCANA harus tumbuh pada diri masing-masing
Udah ga jamannya membiarkan korban tewas trus baru berlomba-lomba kasih bantuan. Itu paradigma lama... lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali!

Kalau masih ada pertanyaan lanjutan, silakan email ke kogami_indonesia@yahoo.com

terimakasih
PS. Mohon maaf kalau tidak berkenan dan bahasanya juga bahasa buat teman-teman, jadi buat Bapak-bapak ... maaf ya, ini cuma cc aja :). Mohon masukan juga kalau ada yang salah.

Eh ada yang kelupaan :
GEMPA TIDAK BISA DIRAMALKAN, JADI JANGAN PERCAYA ISU TENTANG TANGGAL TSUNAMI !
(tau kan nyambunginnya?)

Teman-teman telah ikut dalam usaha KESIAPSIAGAAN apabila ikut menyebarkan informasi ini kepada teman-teman yang lain .... Relawan jarak jauh, mungkin sekali kan? Terimakasih untuk kepedulian kita semua :)

MARI BANGUN BUDAYA SIAGA BENCANA ! Sebagai wujud syukur atas kehidupan yang diberikan Allah untuk kita

Saturday, March 21, 2009

[Sahabat] Empat Jam Ga Cukup!

by : Patra Rina Dewi

Alhamdulillah, Kamis 19 Maret 2009 berakhir sudah seminar Regional “Building Models for Disaster Preparedness” yang diadakan Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI). Lega! Setelah tiga hari berkutat dan pindah kantor ke Hotel Pangeran Beach. Saatnya balik ke kantor. Kangen!

Di kantor cuma ngabisin waktu untuk temu kangen ama teman-teman, cerita tentang serba-serbi seminar, serba-serbi kantor dan update kabar yang beredar seputar Kogamers. Tiba-tiba telfon berdering. Ups, dari nomor tak dikenal. Kedengaran suara yang super lembut dari seberang sana. Untung si penelfon ga jail, langsung bilang “Puspa Rini...” belum selesai nama itu disebut, aku rasanya sontak, girang banget! Ya ampun ... lama sekali aku ga jumpa sobat kecilku ini, mulai dari SD, SMP, SMA aku dan dia bareng.... pulang sekolahpun kadang suka bareng karena kami tinggal di satu arah.

Trus, kami janjian buat ketemu besok sore (Jumat) sepulang aku ngantor.

Duh rasanya ga sabar, pengen tahu seperti apa wajahnya. Berubahkah? Seperti sobatku lainnya Iyen (Reni Susanti) yang semakin cantik, pakai jilbabkah? Seperti sobat-sobatku : Ik, Tia, Zani, Pipin, Diena, Irma, Net, Rahmi, Lisa, Ira, Eva, Pipiet.. atau tetap seperti wajah yang kukenal dulu, seperti Afrin, Sandra, Uci, Iing atau Riny yang foto-foto mereka aku temukan di Facebook? Ah, ga mau menebak-nebak... tapi rasanya benar-benar ga sabar dan ga mau berandai-andai juga.

Jumat pagi, aku begitu semangat ngantor dan berharap waktu cepat berlalu (biasanya aku ingin jam berputar lebih pelan). Rapat pagi hari di BAPPEDA, kembali ke kantor untuk tugas harian, berdiskusi ama Neysa (partner kerja dari Jerman), shalat ashar.. yuhuuuuu..... 16.30 WIB kutelfon Puspa. Aku begitu bersemangat ninggalin kantor. Teman-teman rada heran klo aku pulang lebih cepat dari biasanya, tapi untuk hari Jumat mereka maklum karena sebagai Ketua Majelis Ta’lim Masjid Baitul Makmur aku berusaha menyempatkan diri untuk hadir pada wirid rutin Jumat. Hehehe pasti mereka nyangkanya aku pergi wirid, padahal salah total! Aku kangen ketemu Puspa!!

Lima belas menit lewat dari 16.30 aku menginjakkan kaki di rumah sobat kecilku. Ah... masa sih udah 18 tahun aku ga ketemu dia? Ga nginjakin kaki di rumahnya? Belum lagi nyampe di depan pintu rumah, tiba-tiba “Assalaamu’alaikum”, kedengaran suara dari dalam rumah memberi salam. Siapa lagi kalo bukan Puspa. Hehehe saking excitednya, aku mpe keduluan ngucapin salam.

Tanpa pakai pemanasan, silih berganti cerita meluncur dari mulut kami berdua. Kadang sabar bergantian untuk saling mendengarkan dan bercerita tapi kadang kami saling balapan pengen cerita. Bayangin aja, 18 tahun sudah tak pernah berbagi cerita. Walaupun zaman kuliah kami masih sama-sama di Padang tapi entah kenapa aku dan dia ga pernah ketemu. Segitu sibuk kah? Ih, baru nyadar sekarang.

Trus, Puspa hijrah ke Jakarta dan kerja di sana. Aku ngelanjutin S2 di Malaysia, trus aku kerja di Bandung selama tiga tahun, trus balik ke Padang. Hmm... tapi itu kan ga seharusnya jadi alasan. Trus kenapa donk? Ya .. sudahlah, yang penting hari ini aku dah ketemu dia.


Dia makin cantik, cantik banget malah! Rambutnya yang dulu panjang, sekarang masih ngelewatin bahu. Wajahnya terlihat begitu segar, ah... benar-benar cantik! Kami bercerita seakan tak pernah berpisah sebelumnya, ga ada jaim-jaiman, cerita mengalir gitu aja... tentang kehidupan, tentang harapan, tentang status yang masih jomblo... hahahaha ternyata aku ga sendirian! Trus kami mulai mengitung teman-teman lainnya yang masih jomblo (sorry Iyen, Pipiet, Lisa, dan Diena klo nama kalian ikut kesenggol) berikut cerita-cerita pendukung tentang status yang masih jomblo tersebut. Sampai di ujung pembahasan, kami dengan besar hati mengakui bahwa alasan-alasan yang kami kemukakan hanyalah sebuah usaha pembenaran terhadap status yang masih sendiri. Namun intinya, kami masih normal dan berhasrat menikah dengan orang yang tepat! hahaha... Berkali-kali tawa berderai menertawakan apa aja yang bisa ditertawakan. Termasuk ide untuk “mengiklankan” diri yang berkualitas tinggi untuk mendapatkan pendamping yang sepadan tanpa terkesan banting harga hahahaha.... (mpe keluar air dari mata).

Mama tiba-tiba muncul bawa kerupuk emping (Ssst... mamanya Puspa adalah Dewan Penasehat Majelis Ta’lim Baitul Makmur, jadi ketauan deh aku ga pergi wirid dengan alasan kangen-kangenan ma sobat lama). Trus papa juga nyelutuk, “Patra itu ya?” ... ya ampun, saking asyiknya ngobrol, aku mpe lupa negur papa yang lagi nonton TV. Aku merasa begitu nyaman di rumah itu, serasa rumahku sendiri.. papa mama Puspa begitu baik dan ramah. Makasih Allah!

Karena ada tamu yang datang, Puspa ngajak aku ngungsi ke kamar. Yes! Makin membuka peluang buat bercerita tanpa sensor. Obrolan tanpa judul dan tanpa chapter itu hanya dihentikan oleh shalat Maghrib, trus dilanjutkan lagi di meja makan. Ssst.... dendeng dan sup bikinin mama enak banget!

Abis makan, balik lagi ke kamar. Bolak-balik cerita tentang diri sendiri, tentang teman, tentang status... dengan versi yang berbeda-beda. Mungkin klo ada alat ukur yang bisa ngukur binar-binar mata, mungkin hasilnya akan berupa grafik yang tak beraturan, peaknya akan berlompatan sana-sini. Sungguh aku tak bisa mengurai kerinduan yang sedang terjalin (iya ga sih Pus? Jangan-jangan aku ge-er sendiri nih.... Biarin ah).

Lagi seru-serunya cerita, telfonku berdering. Siapa lagi klo bukan salah satu dari ortuku tersayang, papa. “Masih lama pulangnya nak? Bisa ga dilanjutin besok?” Duh, empat jam cukup! Tapi aku harus pamit.

Puspa mengantarku sampai teras depan dan kukebut motorku pulang. Sungguh pertemuan yang indah, moga tetap indah sampai di syurga Allah nanti. Amin.

Jumat, 20 Maret 2009

Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Tentang Sahabat

Thursday, March 19, 2009

Jangan Percaya 100 persen!

Aku sering sekali baca kalimat satu ini, "Dont trust anybody 100% even yourself!". Tadinya aku ga ngerti sama sekali kenapa ungkapan kayak gini harus ada di dunia? Bukannya kita harus percaya sama orang tua, saudara, sahabat, teman atau siapapun? Eh ini mah katanya bahkan jangan percaya ama diri sendiri juga.

Kemaren Allah ngasih jawaban, ngasih pengetahuan klo ungkapan itu emang benar!

Memang sih aku belum kenal lama sama teman yang satu ini. Perkenalan aku dan dia dimulai dengan hubungan kerja. Silaturahmi terjalin sangat baik hingga akhirnya kita merasa nyaman satu sama lain. Akhirnya merembet juga untuk ngomongin masalah kerjaan. Realita yang ada dalam membangun sebuah lembaga, penuh lika-liku dan tantangan.

Semuanya masih baik-baik saja, sampai akhirnya ketika dia mendapatkan tekanan dari atasan sehubungan kerjasama yang tengah kami bangun, dia mulai lose control. Diskusi-diskusi yang terjalin selama ini mengenai informasi lembaga menjadi bumerang yang menghantam! Masih untung kalau kenyataannya seperti yang dia lontarkan. Informasi itu menjadi kalimat-kalimat dan pernyataan-pernyataan yang begitu dahsyat sesuai dengan imajinasi dan skenario yang dibuatnya sendiri secara emosional.

Ah mengapa aku baru sadar tentang nasehat itu "Jangan percaya orang lain 100% bahkan dirimu sendiri!". Yup, aku seharusnya tidak percaya sama diriku sendiri bahwa aku merasa aman untuk menceritakan hal-hal yang seharusnya aku simpan pada sebuah tempat yang rapat. Aku seharusnya tidak percaya pada diriku sendiri bahwa sebuah komunikasi bisa saja membuatku terbius ke dalam lingkaran yang seharusnya tidak aku sentuh.

Seperti jika seorang jatuh cinta maka seharusnya dia tidak percaya 100% dirinya bisa mengendalikan gejolak asmara sehingga pada akhirnya dia baru sadar bahwa sesuatu yang tak diinginkan telah terjadi akibat percaya 100% pada diri sendiri.

Mulai saat ini, aku hanya percaya Allah 100%. Selebihnya aku akan menempatkan kepercayaan sesuai dengan porsi yang seharusnya, dengan siapa aku sedang berhadapan.

Begitulah teman....

Tuesday, March 10, 2009

[Sahabat] Sahabat, Sebuah Kata Asing

Sahabat, Sebuah Kata Asing

oleh : Patra Rina Dewi

Sahabat? Ah sungguh aneh. Kenapa orang memerlukan sahabat? Kenapa orang harus mengklasifikasikan sebuah pertemanan dengan kata "sahabat"? Bukankah punya banyak teman lebih menyenangkan?

Bertubi-tubi pertanyaan hinggap di kepalaku. Aku dibesarkan di lingkungan yang sangat keras di usiaku. Entahlah, aku memang merasa demikian. Masih sangat lekat di ingatanku ketika aku harus menempati rumah baru di sebuah tempat yang sangat asing. Sebuah tempat sepi, di dekat rawa yang dipenuhi biawak dan ular, bahkan terkadang monyet-monyet muncul dari tempat yang tak disangka-sangka. Kalaupun ada tetangga, jaraknya juga tak seperti kata "tetangga" menurut orang lain. Aku harus jalan sekitar tiga menit, baru aku temukan orang-orang yang layak disebut tetangga. Ada sih tetangga tepat di belakang rumahku tapi tetap saja rasanya aneh karena aku harus mutar ke belakang lewat semak-semak untuk sampai di rumahnya.

Waktu itu aku baru berumur lima tahun dan ingatanku masih sangat kuat mengenang kejadian demi kejadian. Aku hanya punya dua orang teman sebaya perempuan, selebihnya laki-laki. Jadilah kami (perempuan) menyesuaikan diri dengan prilaku laki-laki begitu juga dengan jenis permainan.

Aku begitu besar bersama anak-anak kampung. Kebersamaan kami yang hanya 10 orang (anak-anak kampung) membuatku tak pernah merasa kesepian. Jadi, ketika orang bertanya tentang sahabat, aku sama sekali tidak punya jawaban. Semuanya adalah sahabatku!

Sampai satu saat, di kelas 2 SMP aku merasakan ada sesuatu yang hilang. Di saat sahabat-sahabat masa kecilku tak lagi punya banyak waktu untuk bermain seperti dulu. Mereka punya kesibukan sendiri-sendiri atau sebagian dari mereka mulai malu untuk bermain bersama. Masa remaja yang tak mengenakkan. Di sekolah aku bisa tertawa sepuas-puasnya karena temanku sangat banyak dan sampai di rumah aku merasa begitu kesepian karena satu demi satu teman kecilku mulai tak terlihat.

Sahabat. Kata itu mulai terngiang kembali. Benarkah aku membutuhkan sahabat? Haruskah aku memilih salah seorang dari mereka untuk aku jadikan sahabat? Ah... mengapa dunia terasa jadi begitu rumit?

Tanpa aku sadari, pelan-pelan aku kehilangan rasa percaya diri. Aku yang anak kampung mulai kehilangan lingkungan. Berteman dengan anak-anak orang kaya di lingkungan sekolah justru membuatku merasa minder. Tak ada yang salah dengan mereka. Justru mereka sangat baik. Jika mereka dijemput dengan mobil, aku bisa ikut menumpang. Jika ada yang ulang tahun, aku selalu ditraktir. Tapi apa yang bisa aku perbuat untuk mereka? Makan saja aku harus bisa bersyukur dengan lauk yang seadanya, jajanku hanya cukup untuk mengganjal perut jika memang "harus" lapar.

Waktu terus berputar...

Entah bagaimana, (masih di kelas 2 SMP) aku bisa berkenalan dengan seorang pencandu narkoba. Tentu saja aku tidak mengetahuinya di awal pertemanan. Tiba-tiba aku sudah dihadapkan pada episode sakau demi sakau yang harus dijalaninya. Sebagai teman, aku harus merahasiakan ini dari orang lain karena tak ada seorangpun yang tau kalau dia adalah seorang pencandu. Kehilangan kasih sayang dalam keluarga telah menyeretnya pada dunia terlarang ini. Lalu, mengapa masa remajaku harus melewati masa seperti ini? Di saat orang lain bisa tertawa riang, aku harus menangis ketika melihatnya kesakitan.

Sedikit demi sedikit aku berusaha meyakinkannya bahwa kebahagiaan itu hanya milik orang-orang yang bisa menganggap ujian sebagai salah satu episode kehidupan yang harus dilalui, sama seperti ujian semester yang memberikan kita angka-angka dan ranking di kelas. Tapi sepertinya ini tidak mudah.

Kesabaranku hilang sudah! Di satu siang aku mengeluarkan ancaman, "Jika kamu tidak mau berhenti, aku akan ikut make!" sambil merampas jarum suntik yang baru saja dipakainya. Aku kehilangan cara. Aku putus asa.

Sampai akhirnya, aku harus menangis berkali-kali melihat usahanya untuk berhenti. Ah mengapa sakau begitu kejam? Ubun-ubunku serasa ikut tercabut setiap kali dia mengerang kesakitan hingga berkali-kali pula aku kalah, "Pake aja, ayo pake aja!" begitu bujukku setiap kali melihat dia menggeliat dan menggelepar menahan sakit. Tapi berkali-kali pula dia berkata, "Aku ingin buktikan bahwa aku lebih menyayangimu sebagai sahabatku daripada benda ini!"

Sahabat? ... Ah, akhirnya ada yang mengistimewakanku sebagai seorang sahabat hingga dia bersedia kesakitan berkali-kali hanya untuk membuatku bahagia? Katanya hanya aku yang bisa mengerti keadaan dirinya, hanya aku yang mau mendengar segala keluhan dan omelannya.. yang aku sendiri tak pernah menyadarinya.

Sejak saat itu, sahabat bukan lagi kata asing untukku. Enam bulan berjuang untuk tidak menggunakan segala yang berbau narkoba telah membuktikan bahwa dia telah menjadikan aku penting. Adakah orang di luar sana yang merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan? Bola mataku selalu saja panas jika teringat pengorbanannya untukku.

Sahabat, dimanakah kau sekarang? Aku merindukan saat-saat kita bersama melewati masa sulit dan menyimpan bongkahan rahasia... hingga sekarang hanya Tuhan, kau dan aku yang tahu... Aku menyayangimu, dimanapun kau berada...

Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA MENULIS TENTANG SAHABAT