Monday, February 11, 2008

Bertemu mantan ?

Pada pernah ga sih bertemu sama mantan kekasih? Trus gimana perasaannya ? Apa hubungan silaturahmi tetap bisa dijaga dengan baik? Atau malah jadi berantakan ? Sharing yuuuuk....
Aku mau cerita ini hanya untuk berbagi ibrah ma teman-teman karena buat aku masa lalu ga harus dihapus pun tak harus membayang-bayangi kehidupan masa sekarang.
Takkan pernah ada KITA yang sekarang ini tanpa melewati perjuangan -apapun bentuknya- di masa lalu. Menyakitkan atau membahagiakan, masa lalu lah yang membuat kita bisa menjadi pribadi KOKOH seperti sekarang ini (insya Allah....).
Minggu kemaren aku bertemu dengan dia –seseorang yang berarti  di kehidupanku,  terutama di masa-masa SMA.
Catatan : aku tidak mau memakai istilah PERNAH BERARTI, karena setiap orang yang pernah hadir di hidupku, buatku selalu akan punya arti dengan porsinya masing-masing
Aku ga akan membuka lembaran itu! Biarlah tetap tersimpan rapi di salah satu sudut memori. Hanya tak pernah terbayangkan hubungan silaturahmi ini bisa kami jaga dengan baik dalam bingkai persahabatan yang indah, yang tanpa lagi melibatkan perasaan “itu”. Hubungan yang saling menghargai dan saling mendukung untuk kebaikan masing-masing. Lima belas tahun! Cukup lama bukan ? Bahkan aku dan istrinya (yang juga teman SMA ku) juga bisa ngobrol dengan leluasa tanpa diganggu oleh kecurigaan.  Alhamdulillaah...
Dalam hati terpatri bahwa aku harus memahami bahwa setiap orang punya masa lalu. Maka aku akan sangat menghargai jika suamiku nanti juga ingin menjaga silaturahmi dengan orang-orang yang pernah berarti dalam hidupnya. Selayaknya aku bersyukur karena mereka ikut berperan untuk menjadikan suamiku seperti harapanku (hehehe aku yang ngotot pengen nikah tahun ini. Amin). 
“Siapapun orang yang hadir di masa lalumu, baik atau jahat, dia ikut berperan menjadikanmu seperti sekarang ini” (sms yang aku dapat dari seorang sahabat sehingga aku bisa menghargai setiap episode hidup yang aku lalui, terimakasih).

Terimakasih buat dia yang telah mampu menempatkan silaturahmi ini dalam wadah yang tepat.
Terimakasih juga buat istrinya yang mengerti bahwa aku dan dia tetap ingin bersahabat.           
Terimakasih buat diriku sendiri yang mampu menjaga murninya persahabatan di jalan yang diridhai Allah.
Terimakasih buat dia yang sekarang membuat hari-hariku selalu indah.... ehem...
Terimakasih buat teman-teman yang selalu menjaga langkahku... You are the best!

Friday, February 8, 2008

Melukis Cinta

Telah kulukis mentari di balik gemawan mendung
Sejumput jingga menjari menyentuh butir-butir embun
Kubiarkan hati menari-nari di tengahnya
Beragam rasa mampir meliuk-liuk kadang tak terkendali
Terkungkung harapankah hingga air mata kadang ikut mengawang?
Mengendap di gelap malam tersuruk mengadukan asa
Cinta ya Rabbi
Cinta yang ingin kukumandangkan melalui cakrawala
Cinta yang tak berbatas siang dan malam
Cinta yang takkan membuat-Mu cemburu
Cinta yang jadi pesona dunia lambang sempurna penciptaan
Lengkung mentari  masih menggantung
Harap mendung tersaput sibakkan gemintang
Aku jatuh cinta ya Rabbi
tuk ke sekian kali
Biarkan doa semakin terpuruk di lorong sajadah
Bersama kehadiran malaikat di temaram malam
menunggu janji setia sepasang insan
Hingga selukis lengkung mentari di wajah ini
Kau izinkan membuka pintu syurga


                                                                  Ba'da Subuh, 9 Februari 2008


Friday, February 1, 2008

Dari Ruang Tunggu Kedubes Amerika

Senin tanggal 28 Januari 2008, ruang tunggu kedubes Amerika di Jakarta sangat full. Hmmm...  siapa bilang Indonesia miskin ? Jumlah orang-orang yang akan mengadakan perjalanan ke Amerika aja sebanyak ini. Ga hanya untuk perjalanan dinas tapi juga buat liburan pribadi. Ah, naif juga kalau aku berpikiran seperti itu karena pasti mereka adalah orang-orang yang bisa digolongkan kaya.
Di antara orang-orang tersebut, aku pasti terlihat menyolok karena aku satu-satunya yang mengenakan jilbab pada saat itu. Degup jantungku berdetak kencang ketika satu per satu wajah mendung melintas karena permohonan visa mereka ditolak, bahkan ada yang ngedumel dan mengeluarkan sumpah serapah.
Lalu, telingaku menangkap obrolan sekelompok ibu-ibu di belakangku.
"Ini kali kedua aku apply visa lo, dulu aku pernah ditolak." kata seorang ibu
"Aku juga", sahut yang satunya
"Makanya kali ini aku lepas kerudung karena kata orang kalau pakai kerudung sulit dikabulkan visanya." kata yang lainnya lagi.
"Apalagi kalau kerudung panjang dan tertutup rapat begitu." Duh, entah kepada siapa kalimat ini ditujukan tapi dadaku sempat bergejolak. Ada rasa marah. Bukan karena aku merasa dijadikan objek obrolan tapi alangkah mudahnya dia mempermainkan aqidah. Segitu pentingnyakah ke Amerika sehingga kerudung harus dilepas? Lalu, apakah sebesar itu juga ketakutannya ketika nanti Allah tidak mengabulkan permohonan untuk memasuki syurga-Nya?
Ternyata, obrolan itu memang ditujukan untukku. Sebelum sampai giliranku, aku pengen ke toilet dan aku ga nyangka kalau dua orang dari kelompok ibu-ibu itu berpapasan dan bertanya kepadaku, "Mba, ga takut visanya ga diapprove karena pakai jilbab?"
Aku berusaha untuk menenangkan diri (walau ada dongkol sedikit), "Engga bu, karena saya sudah pernah ke Amerika dan tidak menemui kesulitan sama sekali. Kalau Allah mengizinkan, saya pasti bisa berangkat." Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Allah Memang Maha Bijaksana, ibu yang bilang "buka kerudung" itu ternyata tidak bisa mendapatkan visa, sementara aku bisa mendapatkan visa dalam waktu tidak lebih dari dua menit. Aku hanya tersenyum karena rasa syukur yang membuncah. Tentu saja di sini aku bicara tentang profesionalisme kedubes Amerika yang ternyata tidak benar kalau ada diskriminasi muslim atau non muslim. Kalau alasan ke Amriknya jelas, insya Allah ga ada hambatan.
Terimakasih Allah... Engkau selalu ada bersamaku...
Aku tak pernah takut apapun, hanya satu yang aku takutkan... jika AKU TIDAK BISA MENEMUI ALLAH DALAM KEADAAN TERBAIK.

Sunday, January 27, 2008

Alhamdulillah...udah dapat visa nya

Benar-benar deg-degan ngurus visa ke Amrik kali ini karena harus ngurus sendiri. Semua dokumen udah disiapin oleh sekretarisku tercinta, tapi ada satu dokumen terlupa, rekening koran yayasan! Sebenarnya udah dikirim sih ama Direktur Finance lewat email tapi lagi-lagi hobiku yang suka jalan sana-sini bikin hal tersebut ga jadi prioritas.
Pagi tadi makin deg-degan karena hari ini jenazah Pak Harto akan diberangkatkan dari Cendana, kebayang aja bakal macet. Ya udah, habis shalat subuh, berbekal bismillah dan segala doa minta pertolongan.. plus dibekalin sarapan ma evonk serta doa dari mama, papa, Evonk, Ceu2, Bi Maya dan teman-teman lainnya aku berangkat.
Subhanallah, pertolongan Allah emang sangat dekat. Aku cuma diinterview dua menit tanpa memperlihatkan dokumen apapun kecuali paspor diiringi wajah ramah sang penginterview... dapat deh visanya.
Mba Atiek, insya Allah kita jumpa lagi ya.... ? Julia .. mudah-mudahan kita bisa ketemu di Seattle ya ?
Bahagianya pagi ini

Wednesday, January 23, 2008

Apa sih maunya laki-laki?

"Bingung ya Ni, apa sih maunya laki-laki ? Ngedekatin berani eh pas pertanyaan diarahkan untuk keseriusan sebuah hubungan dianya bungkam bahkan sampai menghindar"
Obrolan dengan seorang sahabat malam itu menjadi seru karena obrolan ini tidak terjadi hanya antara aku dan dia tapi juga dengan teman-teman lain dengan status yang sama "Memperjuangkan masa depan!"
"Iya yah... kalau kapasitas ilmu kita sih rasanya ga akan bikin kita sungkan buat bertanya langsung ya? Tapi ilmunya dia selaras ga ama kita? Budaya kan membuat kita harus hati-hati banget dalam berkomunikasi dengan lawan jenis"
Itu sepenggal percakapan lainnya. Ada dilema ketika ingin membicarakan hal tersebut secara dewasa (cieee......). Komunikasi ama someone itu bisa dibilang tinggi frekwensinya, ada yang lewat telfon, lewat email bahkan sampai ketemuan tapi tetap aja wujud hubungannya masih berupa TANDA TANYA. Kalau dibiarkan.... wanita gitu lo, masih susah menata hati..  Kalau ditanyain ama si dia itu? eh hubungan silaturahmi yang bagus bisa bubar gitu aja.
Lagi-lagi... Apa sih maunya laki-laki ? Pedekate tapi ga berani serius
Wahai sobatku yang cowo.. apa sih ketakutan laki-laki dalam membina sebuah hubungan dalam konteks "menuju gerbang pernikahan" ?
Penasaran nih...
Thank you ya atas jawabannya...

Monday, January 21, 2008

HAPPY BIRTHDAY TO ME

HAPPY BIRHTDAY TO ME....
Kurang satu tahun lagi jatah hidup di dunia ini
moga aku bisa memaknai dengan sabar dan syukur
terimakasih buat teman-teman yang udah ngasih selamat baik lewat sms, telfon ataupun PM
Vonk, you are the first in this year !!
Mohon doakan ya teman-teman di sujud malammu, moga resolusi 2008 ku terkabul dan mendapat ridha dari Allah. Amin


Monday, January 14, 2008

MENIKAH DI BULAN JUNI, Insya Allah

Di kantor terjadi KEHEBOHAN karena aku pampangin resolusi 2008 di Mading. Anehnya dari 9 resolusi yang termpampang, hanya poin kedua : MENIKAH DI BULAN JUNI yang jadi perhatian teman-teman. Semua sibuk nanyain buat klarifikasi. Macam-mcam pertanyaan yang diajukan, mulai dari siapa orang yang jadi "sang calon", sampai pada sebentuk kekhawatiran kalau-kalau rencana tersebut batal alias ga jadi sementara sudah terlanjur dipublikasikan.
Aduh! Kalau hidup selalu dibayang-bayangi tanggapan orang lain kapan bisa maju ? Setidaknya aku percaya kalau kesuksesan itu diawali dengan  kekuatan sebuah rencana.
Kalau aku merencanakan nikah di Bulan Juni, kan satu-satu nya kekuatan hanya Allah, jadi kenapa harus takut ? Maka, doakan aku ya teman.....