Pada pernah ga sih bertemu sama mantan kekasih? Trus gimana perasaannya ? Apa hubungan silaturahmi tetap bisa dijaga dengan baik? Atau malah jadi berantakan ? Sharing yuuuuk....
Aku mau cerita ini hanya untuk berbagi ibrah ma teman-teman karena buat aku masa lalu ga harus dihapus pun tak harus membayang-bayangi kehidupan masa sekarang.
Takkan pernah ada KITA yang sekarang ini tanpa melewati perjuangan -apapun bentuknya- di masa lalu. Menyakitkan atau membahagiakan, masa lalu lah yang membuat kita bisa menjadi pribadi KOKOH seperti sekarang ini (insya Allah....).
Minggu kemaren aku bertemu dengan dia –seseorang yang berarti di kehidupanku, terutama di masa-masa SMA.
Catatan : aku tidak mau memakai istilah PERNAH BERARTI, karena setiap orang yang pernah hadir di hidupku, buatku selalu akan punya arti dengan porsinya masing-masing
Aku ga akan membuka lembaran itu! Biarlah tetap tersimpan rapi di salah satu sudut memori. Hanya tak pernah terbayangkan hubungan silaturahmi ini bisa kami jaga dengan baik dalam bingkai persahabatan yang indah, yang tanpa lagi melibatkan perasaan “itu”. Hubungan yang saling menghargai dan saling mendukung untuk kebaikan masing-masing. Lima belas tahun! Cukup lama bukan ? Bahkan aku dan istrinya (yang juga teman SMA ku) juga bisa ngobrol dengan leluasa tanpa diganggu oleh kecurigaan. Alhamdulillaah...
Dalam hati terpatri bahwa aku harus memahami bahwa setiap orang punya masa lalu. Maka aku akan sangat menghargai jika suamiku nanti juga ingin menjaga silaturahmi dengan orang-orang yang pernah berarti dalam hidupnya. Selayaknya aku bersyukur karena mereka ikut berperan untuk menjadikan suamiku seperti harapanku (hehehe aku yang ngotot pengen nikah tahun ini. Amin).
“Siapapun orang yang hadir di masa lalumu, baik atau jahat, dia ikut berperan menjadikanmu seperti sekarang ini” (sms yang aku dapat dari seorang sahabat sehingga aku bisa menghargai setiap episode hidup yang aku lalui, terimakasih).
Terimakasih buat dia yang telah mampu menempatkan silaturahmi ini dalam wadah yang tepat.
Terimakasih juga buat istrinya yang mengerti bahwa aku dan dia tetap ingin bersahabat.
Terimakasih buat diriku sendiri yang mampu menjaga murninya persahabatan di jalan yang diridhai Allah.
Terimakasih buat dia yang sekarang membuat hari-hariku selalu indah.... ehem...
Terimakasih buat teman-teman yang selalu menjaga langkahku... You are the best!