Mengisi waktu libur aku malah terlibat obrolan seru ama salah seorang adikku, apalagi kalau bukan masalah dunia sekarang ini hehehe serius amat kali ya?
Biasanya, di tanah kelahiranku wedding party (pesta pernikahan) itu dimulai dari pukul 11 pagi sampai pukul 16 sore, yang tentu saja anak daro (penganten perempuan) dan marapulai (penganten laki-laki) akan bersanding di pelaminan selama jangka waktu itu. Hmm.... kalau anak daro nya lagi menstruasi sih ga masalah (maap.. maap lo), berarti ga ada waktu shalat yang terlanggar. Eh, ini beneran kejadian... ! Mereka lebih bela-belain mempertahankan make up sedemikian rupa dibanding menunaikan shalat yang emang wajib hukumnya dan entah darimana pula.. ada hukum yang mereka pake : DIJAMA' aja zuhur dan ashar. Innalillaahi wa inna ilaihi raji'un... Bagaimana mau membangun rumah tangga sakinah mawaddah warahmah kalau dari awalnya aja ALLAH udah dinomor duakan??? atau ga dianggap sama sekali ?!!!! Sepenting itukah artinya BERSANDING? Bukankah yang dicari dari sebuah pernikahan adalah PENYEMPURNAAN DIEN, kok ga matching ya? Udah gitu, ketika terjadi permasalahan di perjalanan pernikahan nantinya, masih PeDe pula mengadu sama ALLAH setelah untuk kepentingan sesaat berani nyuekin ALLAH... Astaghfirullaah!
Dan jangan salahin aku juga kalau aku jadi gatal pengen mengkritik pelaku yang tidak mengindahkan ADAT BASANDI SYARA', SYARA' BASANDI KITABULLAH yang jadi jargon di ranahku, karena pada beberapa kasus ADAT menjadi lebih penting dibanding SYARA' nya (emang ga buat semua, tapi kadang orang tua dan pemangku adat lupa mengingatkan anak dan kemenakannya)
Akhirnya, aku menyatakan salut dengan beberapa orang teman yang telah mengalihkan waktu wedding party mereka pada malam hari, tepatnya setelah shalat Isya. Pesta lancar, ALLAH merahmati insya Allah....
Ini sekedar opini dari seorang anak manusia yang prihatin karena ALLAH disepelekan ...Selanjutnya, terserah teman-teman yang membaca.
Moga juga jadi bahan masukan untuk pernikahan yang berkah.. Amin