Showing posts with label isihati. Show all posts
Showing posts with label isihati. Show all posts

Wednesday, April 4, 2012

Selamat Jalan, Afrizal

Tak ada yang abadi...
Begitulah adanya dunia ini
Walaupun begitu, wajar kan kalau rasa kehilangan memenuhi ruangan batin ini ketika salah seorang teman berpulang ke rahmatullah, apalagi dengan "jalan" yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Afrizal Cotto, begitu dia ingin dipanggil. Seorang petinju asal Sumbar. Di awal perkenalan, aku sama sekali tak mengenalinya sebagai petinju karena kami dipertemukan oleh sebuah program Pengurangan Risiko Bencana. Afrizal diutus oleh instansi tempatnya bernaung- PDAM hingga menjadi anggota kelompok kerja (Pokja) Penyusunan Sistem Peringatan Dini Multi Ancaman, kerjasama KOGAMI dengan UNDP-SCDRR.

Dalam meeting pertama, dia tak banyak bicara tapi di meeting-meeting selanjutnya, dia selalu menyempatkan diri untuk bercerita. Betapa dia sangat concern dengan data-data yang dibutuhkan oleh tim dan tantangannya untuk meminta data tersebut kepada pimpinan karena dia hanyalah seorang staf.

Terakhir, di saat organisasiku (KOGAMI) menyelenggarakan Jambore Siaga Bencana Sekolah (JAMSIBES) Februari lalu, Afrizal hadir. Dia sempat membetulkan kran tanki air PDAM yang lepas. Kemudian bercerita kalau dia akan menikah di pertengahan April. Afrizal juga mengatakan kalau dia sudah cape bertarung. Dia ingin menjalani kehidupan normal bersama isterinya nanti.

Ah aku tak tahu kalau tanggal 30 September, dia bertarung dan dengan jalan inilah takdirnya berpulang ke rahmatullaah. Aku dapat kabar kepergiannya justru dari status FB seorang teman yang merupakan awak media. Afrizal menghembuskan nafas terakhir di RS. UKI Jakarta setelah berjuang selama 4 hari.

Selamat jalan Afrizal. Kebaikanmu akan selalu ku kenang

Hari ini aku merasa kehilangan ..

*Berita tentang meninggalnya Afrizal

Monday, April 2, 2012

Untuk Seorang Sahabat : "Kamu Istimewa!"

Hari ini dia menelepon, seperti biasa. Setidaknya dalam sebulan dia tak pernah absen menanyakan kabar. Setiap kali pula, aku bisa tertawa lepas. Setelah 10 menit ngobrol ngalur ngidul, kami saling berucap salam. Tak ada yang istimewa tapi kenapa perasaan dan pikiranku seperti kompak untuk menanyakan sesuatu, "Tidakkah kamu sadar kalau dia adalah sahabat sejati buatmu? Dia selalu ada di saat kamu harapkan atau tidak, di saat kamu butuhkan ataupun di saat kamu tak ingat sama sekali." Hmm... bisikan hati itu menyadarkanku bahwa dia adalah sahabat istimewaku! Walaupun kami tidak mendeklarasikan persahabatan itu. Benar-benar tak pernah! Semua mengalir begitu saja.

Tanpa aku perintahkan, memoriku memutar ulang kebersamaanku dengannya. Pernah satu ketika, aku marah besar karena dia mengambil sebuah keputusan yang salah (menurutku) dalam hidupnya. Aku tidak bisa menerima kejujurannya, padahal katanya waktu itu .. akulah orang satu-satunya yang dia percaya untuk mendengarkan masalahnya. Dengan alasan itu juga, aku tidak bisa terima ketika dia menafikan saran-saranku. Untuk apa meminta saran, kalau kemudian keputusannya akan tetap sama ? Huh! Sempat aku tak mau mengangkat teleponnya dan tidak membalas smsnya. Bukan aku tidak mau tapi aku hanya ingin dia tahu kalau aku sangat marah (padahal ga ada untungnya sama sekali ha ha ha... tapi mau gimana lagi, kolokanku kambuh).

Betapa hebat dan sabarnya dia. Dia tetap berupaya menelepon atau berkirim sms, tak peduli apakah aku angkat atau tidak,  aku balas atau tidak.

"Aku tahu kamu sangat marah dengan keputusanku. Aku tahu itu salah, kamu berhak marah karena kamu sahabatku. Marahlah ... karena aku tahu marahmu karena peduli. Maafkan kesalahanku."

Sms serupa itu selalu dikirimkan sampai akhirnya aku luluh. Dulu, buatku hal ini tidak terlalu istimewa karena memang semua terkesan biasa saja. Bukankah wajar seorang sahabat marahan trus baikan ?

Tapi, setelah melewati berbagai kisah persahabatan...  hatiku mulai berkata, "Dia sahabat sejatimu! Di saat sahabat-sahabat lain mengurangi intensitas komunikasi karena jarak yang memisahkan, dia tetap menghubungimu." Begitulah... pagi ini aku merenung sangat dalam. Dia memang istimewa, sangat istimewa!

Tak ada lagi kisah hidup yang bisa aku sembunyikan karena aku sangat yakin dia bisa menyimpannya dengan rapi. Tak ada lagi upaya untuk menyembunyikan identitas diri karena aku yakin dia menerima aku apa adanya. Tak ada lagi kemarahan yang tak bisa diekspresikan karena dia tahu itu hanya untuk sesaat. Tak ada lagi kecurigaan karena masing-masing jujur dengan perasaan dan perjalanan hidup yang tak selamanya indah.

Maafkan aku sobat, baru pagi ini aku menyadari ... bahwa kau telah menjadi sahabat sejati buatku sejak lama...

Ah, jadi ingat kalau kau lah satu-satunya yang berani meneleponku tak berbatas waktu! Dan aku harus rela bangun dari tidur lelap pada dinihari hanya untuk mendengarkan celotehmu walaupun di esok pagi aku lupa semuanya ha ha ha... 

Makasih sobat

Atas kesabaranmu selama ini

atas ketidakpedulianku ...

atas marahku .. ngambekku...

dan segala kekonyolanku ...

kamu memang istimewa!

Saturday, May 3, 2008

Trio Fals (siapa yang mau ngundang?)

Tiap kali aku ditanya "Pekerjaan apa yang paling kamu takutkan?", aku pasti akan menjawab "nyanyi!", trauma tingkat tinggi hahahaha.... Masih ingat banget dulu waktu masih fresh nya tahun satu kuliah, biasalah anak tahun satu ketiban macam-macam "order" dari senior, salah satunya "vocal group" nyanyi untuk melepas wisudawan. Aku dan tiga orang teman lainnya (akhirnya kita jadi sahabat) berjejer di satu barisan, dengan semangat mengikuti latihan. Tiba-tiba uda Deri yang ngelatih bilang "Tunggu... tunggu... ada kedengaran fals di bagian sini." Ups! aku nyadar itu pasti aku. 

Trus, pas dia bilang lanjutkan.. Aku benar-benar ga berani mengeluarkan suara bahkan satu hurufpun tapi mulut tetap komat kamit alias lipsing. Keyakinanku bertambah kuat kalau akulah penyebab fals tadi karena da Deri bilang "Nah, sekarang udah ga ada yang fals."

Tau ga teman-teman? Ternyata... dua orang temanku lainnya buka kartu, mereka juga lipsing hahaha karena sadar kalau suara mereka juga penyebab hancurnya nada.

Minder? Engga donk! Tiap camping, suara kita bertiga paling kencang dan gitar harus ngikutin (masih ingat David sang gitaris dengan begitu sabar mencari nada yang sesuai walo jarang sekali berhasil). Sementara Ade emang penyanyi benaran. Ade yang baik selalu memotivasi tapi emang dasar pita suaranya bermasalah kali ya? Jadi, tetap aja deh.. gitu lagi.. gitu lagi...

Akhirnya, kenekadan kami membuahkan hasil! Ada seorang senior menawarkan diri jadi manager (namanya Derino, sejak saat itu kami memanggilnya "Jer") untuk Trio Fals. Lumayan banyak orderan lo buat camping karena suara kami bisa menambah semarak suasana hahaha... gokilnya sih yang kebangetan. 

Hmm.. sekelumit kisah di masa-masa kuliah dulu (jadi rindu para Edelweis nih). Sampai sekarang, aku lebih baik disuruh ngomong di depan ribuan orang deh dibanding harus disuruh nyanyi. Takuuuuuuuuuuut....!

Monday, March 17, 2008

Menyayangi dengan tulus

Ada yang pernah sakit hati karena sebuah hubungan berakhir ? Atau ada yang berhenti menyayangi seseorang karena harapan tak tercapai? Atau menyayangi seseorang karena merasa hutang budi ?
Coba deh tanya hati kecil... "Benarkah itu sebuah kasih sayang yang tulus?"
Hmmm...  dalam prinsipku bilang "itu bukan sayang yang sesungguhnya" karena bukankah dalam menyayangi tidak akan ada sakit hati ? tidak akan ada istilah hutang budi ? Kecewa sih boleh aja.. tapi klo sampai marah dan dendam serta memutuskan silaturahmi ? Duh, kayaknya perlu dikaji deh.
Bukankah prinsip hidup kita "Rahmatanlil'alamin?" ... (membawa rahmat untuk sekalian alam). Nah kalau udah gini...  masa harus sakit hati?
Trus gimana donk?, masa kita ga boleh marah ? Ga boleh kecewa ?
Ops tentu boleh banget, yaitu apabila sodara atau teman kita udah ga bisa nasehat menasehati dalam kebenaran, yang akan membawa kepada jalan yang tidak diridhai Allah.. nah ini perlu marah, perlu kecewa atau menjaga jarak agar tidak terpengaruh pada sisi kemudharatan yang dibawanya. Tapi sebisanya kita tetap menjaga agar bisa menjadi "reminder" buat mereka yang sedang "lengah". Wallaahu a'lam.
Aku menyayangi kalian...  hanya karena aku dititipkan kasih sayang oleh Allah dan aku telah berjanji untuk menebarnya.

Tuesday, October 2, 2007

yang buatku "sempurna"

Bukannya lagi mau euforia kebawa syahdu nya lirik lagu Andra and the Backbone "Yang Sempurna" makanya aku ikut-ikutan nulis topik yang sama.
Ga akan cukup kata yang dirangkai untuk dia yang telah buatku merasa begitu sempurna, yang buatku tak berhenti bersyukur atas "kesempurnaan" yang telah diberikan Sang Pencipta. Hingga buatku, dia begitu sempurna atas pandangan terbatas seorang manusia yang takkan pernah sempurna.
Maha Sempurna Engkau ya Allah walau Kau tak menitipkan bingkisan itu untukku.